KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 18. September 2018 - 259 klik

Berkunjung ke BP2LHK Makassar, Kepala Balai TN Matalawa Lihat Proses Pembuatan Mikrohidro untuk Sumba Timur

BP2LHK Makassar (Makassar, September 2018)_Terkait rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Wanggameti dan Desa Mahaniwa, Kabupaten Sumba Timur, Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), Maman Surahman, S.Hut, M.Si berkunjung ke Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar (BP2LHK) Makassar, Jumat (7/9/2018) lalu.

Dalam kunjungan pertamanya ini, Maman melihat langsung proses pembuatan mikrohidro yang ada di bengkel kerja (workshop) BP2LHK Makassar. 

“Produk inovatif yang dihasilkan Balai Litbang LHK Makassar ini perlu diterapkan di seluruh UPT Kementerian LHK sebagai user utama untuk mencapai pengelolaan hutan yang lestari berbasis partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola hutan,” harap Maman setelah menerima penjelasan dari peneliti BP2LHK Makassar, Ir. Hunggul Yudono, SHN, M.Si di bengkel kerja.

Sebelumnya, Kepala BP2LHK Makassar, Ir. Misto, MP yang menyambut kunjungan ini di ruang rapat BP2LHK Makassar mengatakan, pembuatan mikrohidro ini merupakan kegiatan yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh masyarakat yang belum mendapatkan penerangan. Sebagai contoh untuk pembangunan PLTMH di Sumba Timur, pada pertemuan tersebut diputar video “Memetik Cahaya di Lantai Hutan” sebagai “success story” dalam proses pembangunan PLTMH di beberapa lokasi lain.

Terkait rencana pembangunan PLTMH di Desa Wanggameti dan Desa Mahaniwa, Hunggul menjelaskan bahwa mikrohidro ini tidak mengganggu fungsi air melainkan air yang ada bisa digunakan secara maksimal untuk kepentingan masyarakat, yaitu merubah air menjadi listrik.

Menurut Hunggul, kegiatan ini adalah kegiatan yang mewariskan warisan fisik dan nonfisik. Warisan fisik adalah output fisik kegiatan yang bisa bertahan lama dan mampu mensejahterakan masyarakat. Sedangkan warisan non fisik itu tidak hanya peningkatan pengetahuan masyarakat, tetapi peningkatan pola pikir masyarakat menuju pemahaman pentingnya perubahan perilaku untuk masa depan mereka yang lebih sejahtera, pemahaman pentingnya hutan dan lingkungannya karena langsung berhubungan dengan kesejahteraannya, serta terciptanya iklim semangat dan kegembiraan kolektif masyarakat dalam setiap kegiatan bersama membangun desanya.

“Dalam pembangunan PLTMH semua ini dimulai dari pelaksanaan kegiatan yang bersemangat dan dipenuhi dengan kegembiraan, sehingga pembangunan PLTMH bisa berjalan dengan baik dan lancar,” jelas Hunggul.

Ir. Kudeng Sallata, M.Sc, peneliti BP2LHK Makassar lainnya menambahkan bahwa memang benar  PLTMH ini sudah banyak yang membuat, tetapi inovasi ini berbeda dengan yang lain, karena melibatkan partisipasi masyarakat di dalamnya.

“Kami sebagai peneliti dalam pembuatan PLTMH ini telah melalui proses yang panjang dan banyak inovasi di dalamnya hingga masyarakat bisa memahami dengan baik dalam pengoperasian PLTMH. Pembangunan PLTMH ini dimulai dengan prasurvei ke lokasi untuk melihat kondisi air dan ketinggian, selain itu dihitung pula kebutuhan pipa dan instalasi jaringan listrik ke masyarakat dimana dalam prosesnya masyarakat ini dilibatkan, sehingga masyarakat bisa belajar langsung dan akan mendekatkan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan ke depannya,” kata Kudeng.

Sebagai informasi, pada dua lokasi rencana pembangunan PLTMH di Sumba Timur telah dibangun lima kesepakatan antara TN Matalawa dengan masyarakat baik secara lisan maupun tertulis dalam proses pembangunan PLTMH secara partisipatif. Masyarakat menyediakan tenaga, gotong-royong dan bahan yang tersedia dilokasi seperti batu, pasir, bambu sedangkan TN Matalawa menyiapkan alat dan bahan kelengkapan pembangunan PLTMH.

Selain menerangkan proses pembuatan mikrohidro, di bengkel kerja Hunggul juga menerangkan proses pembuatan mesin turbin mikrohidro dan seluruh perangkat dalam pembuatan pembangunan PLTMH. Selain itu, dilakukan praktik alat Kombi atau yang dikenal dengan nama Kompor Biomassa. Kombi ini merupakan salah satu inovasi Hunggul yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan menggunakan biomassa (kayu bakar dan lainnya) dengan lebih efisien. Kombi ini juga bisa dikombinasikan dengan briket arang sehingga nyala apinya bisa lebih efisien.

Di akhir pertemuan, kedua belah pihak, Taman Nasional Matalawa dan TIM PLTMH BP2LHK Makassar berharap pembangunan PLTMH di Desa Wanggameti dan Desa Mahaniwa, Kabupaten Sumba Timur sukses seperti yang kisah-kisah sebelumnya. Terang Desaku, Lestari Hutanku.***ADE