KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by priyo - 09. June 2016 - 1678 klik

Rekayasa Vegetatif untuk Mengurangi Resiko Longsor

Balitek DAS (Solo, 09/06/2016)_Upaya rekayasa vegetatif dalam penanggulangan resiko longsor harus memperhatikan jenis vegetasi yang akan ditanam pada lokasi potensi longsor. Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Heru Dwi Riyanto, ketua tim kajian rekayasa vegetatif untuk mengurangi resiko longsor di ruang rapat Balai Litbang Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS Solo (Balitek DAS Solo), Kamis (09/06).

Lebih lanjut Heru mengatakan bahwa dalam pemilihan vegetasi kita harus memperhatikan ketinggian ((0-500 mdpl), (500-2000 mdpl), (>2000 mdpl)) dan kelerengan (Zona Tipe C (0-20%), Zona Tipe B (20-40%), Zona Tipe A (>40%)) sehingga peran vegetasi untuk stabilisasi lereng dapat diwujudkan.

Untuk pemilihan jenis vegetasi penahan longsor, Heru membagi kedalam 3 tingkatan berdasarkan zona tipe dan ketinggian, diantaranya:

Zona Tipe C, Ketinggian 0-500 Mdpl yaitu: Pilang (Acacia leucophloea),  Cempedak (Artocarpus champeden), Sukun (Artocarpus communis), Mimba (Azadirachta indica), Trengguh (Cassia fistula), Sonokeling (Dalbergia latifolia), Sono siso (Dalbergia siso), Sono brits (Dalbergia sissoides), Lengkeng (Euphoria longana), Renghas (Gluta renghas), Waru (Hibiscus tiliaceus), Dlingsem (Homalium tomentosum), Lamtoro (Leucaena leucophala), Mindi (Melia azedarach), Jengkol (Pithecollobium jiringa), Angsana (Pterocarpus indicus), Bidara laut (Strychnos sp), Asem (Tamarindus indica), Jati (Tectona grandis), Bungur (Lagerstromia speciosa), Kemiri (Aleurites moluccana), Nangka (Artocarpus heterophylla), Jambu mete (Anacardium occidentale), Aren (Arenga pinnata), Bambu  (Bambusa sp), Tayuman (Bauhinia hirsula), Kupu-kupu (Bauhinia purpurea), Kaliandra merah  (Calliandra callothyrsus), Kaliandra putih (Calliandra tetragana), Kenanga (Cananga odorata), Johar (Cassia seamea), Durian (Durio zibethinus), Eukaliptus (Eucalyptus alba), Lamtoro sabrang (Leucaena glauca), Mangga (Mangifera indica), Sengon (Paraseriantes falcataria), Kesambi (Schleichera oleosa), Mahoni (Swietenia macrophylla), Rambutan (Nephelium lappaceum), Petai  (Parkia speciosa), Alpukat (Persea americana), Laban (Vitex pubescens).

Zona Tipe B, Ketinggian 500-1000 Mdpl yaitu: Damar (Agathis alba), Kemiri (Aleurites moluccana), Jambu mete (Anacardium occidentale), Aren (Arenga pinnata), Nangka (Artocarpus heterophylla), Bambu  (Bambusa sp), Tayuman (Bauhinia hirsula), Kupu-kupu (Bauhinia purpurea), Kaliandra merah (Calliandra callothyrsus), Kaliandra putih (Calliandra tetragana), Kenanga (Cananga odorata), Johar (Cassia seamea), Durian (Durio zibethinus), Eukaliptus (Eucalyptus alba), Waru gunung (Hibiscus seminis), Bungur (Lagerstroemia speciosa), Lamtoro sabrang (Leucaena glauca), Rambutan (Nephelium lappaceum), Petai (Parkia speciosa), Alpukat (Persea Americana), Sengon (Paraseriantes falcataria), Mahoni (Swietenia macrophylla), Cengkeh (Syzygium aromaticum), Laban (Vitex pubescens).

Zona Tipe A, Ketinggian 1000-1500 Mdpl, yaitu: Jambu mete (Anacardium occidentale), Aren (Arenga pinnata), Bambu  (Bambusa sp), Kaliandra merah (Calliandra callothyrsus), Kaliandra putih (Calliandra tetragana), Waru gunung (Hibiscus seminis), , Rambutan (Nephelium lappaceum), Alpukat (Persea Americana), Sengon (Paraseriantes falcataria), Cengkeh (Syzygium aromaticum), Kayu manis (Cinnamomum burmani), Pinus (Pinus merkusii).

Secara umum pemilihan jenis vegetasi harus memiliki 3 peran penting, diantaranya: Peran pertama, vegetasi harus memiliki tajuk menyimpan air intersepsi yang berfungsi menyimpan air sehingga mengurangi jumlah air hujan yang sampai ke permuaan tanah. Peran kedua, pada lahan yang miring diperlukan vegetasi dengan jenis perakaran yang dalam dan akar serabut yang banyak sehingga mampu mengurangi terjadinya pergerakan tanah. Peran ketiga, pada kawasan yang memiliki hujan yang tinggi vegetasi harus memilik evapotranspirasi yang berperan untuk mengurangi kejenuhan tanah.

Selaras dengan hal tersebut, Dr.Ir. Ambar Kusumandari, M.ES., Dosen Fakultas Kehutanan, UGM Yogyakarta menekankan  tentang pentingnya pemilihan vegetasi.

“Dalam pemilihan vegetasi kita dihadapkan dengan potensi kerugian dan keuntungan, seperti pemilihan tajuk tumbuhan, jenis perakaran (tunggang dalam/serabut intensif) dan jenis yang memiliki kemampuan evapotranspirasi sedang sampai dengan tinggi, “ungkap Ambar.

Ambar juga menambahkan perlunya partisipasi masyarakat dalam pemilihan jenis vegetasi, sehingga diharapkan masyarakat dapat  belajar dan berperan aktif dalam usaha mengantisipasi potensi longsor.

Selanjutnya, Ir. Beny Harjadi M.Sc, Peneliti Utama Balitek DAS Solo mengingatkan untuk selalu memperhatikan tekstur tanah di daerah yang memiliki potensi longsor.

Tekstur tanah harus selalu kita perhatikan saat pengecekan dilapangan, misalnya tekstur tanah liat yang memiliki potensi longsor lebih besar daripada tekstur tanah yang kasar,”kata Beny.

Pada akhir diskusi, Kepala Balai BP2PDAS, Dr Nur Sumedi berpesan agar hasil kajian dapat segera disosialisasikan kepada stakeholder, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat.

Diskusi ini diikuti oleh para peneliti dan teknisi Balitek DAS Solo dengan mengundang pembahas dari UGM dalam rangka mematangkan materi terkait dengan vegetasi penahan longsor. Selain itu, kegiatan ini untuk menjawab pertanyaan dan permintaan pengguna mengenai jenis tanaman apa yang tepat dan sesuai dengan kondisi lapang untuk mengurangi resiko atau potensi longsor di Indonesia.

Indonesia merupakan surga dunia namun dibalik pesonanya terdapat potensi bencana yang cukup tinggi diantaranya bencana longsor. longsor bisa terjadi jika ada perpindahan massa tanah atau batuan dengan arah miring dari kedudukan semula, sehingga terpisah dari massa yang mantap, karena pengaruh gravitasi, dengan jenis gerakan berbentuk rotasi dan translasi. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor penyebab dan faktor pemicu. Faktor penyebab adalah kemiringan material itu sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut misalkan hujan dan penggunaan lahan.