KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by priyo - 11:00 pm, 21. May 2015 - 6954 klik

Taxus sumatrana, Obat Anti Kanker yang Hampir Punah

FORDA (Bogor, 22/05/2015)_Sejak tahun 1990-an, Kelompok tanaman genus Taxus menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti. Diyakini bahwa semua bagian tanaman ini, baik daun, cabang, ranting maupun akarnya merupakan sumber Taxane atau paclitaxel yang dapat diekstraksi sebagai obat yang sangat mujarab untuk kemoterapi berbagai jenis kanker.

Diketahui bahwa kanker merupakan salah satu penyakit yang sangat ditakuti, karena kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Di dunia, penyakit ini menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang kematian. Sedangkan di Indonesia berada pada peringkat ketiga. Tidak mengherankan, apabila penelitian anti kanker telah mulai dilakukan dan akan terus dilakukan.

“Seiring dengan berkembangnya penelitian, paclitaxel menjadi obat anti kanker paling poluler dan paling dicari di dunia karena efek samping yang kecil, efektif, dan efisien dalam membunuh sel kanker. Paclitaxel ini kemudian dipasarkan dengan nama dagang Taxol® dan hak pemasaran dipegang oleh Bristol-Myers Squibb (BMS) mulai tahun 1991,”Kata Dr. Asep Hidayat, S.Hut., M.Agr, Peneliti Badan Litbang kehutanan.

Taxol® tersebut hanya dihasilkan dari genus Taxus, termasuk Taxus sumatrana. Dalam penelitiannya, Asep menemukan bahwa kulit batang T.sumatrana yang diambil dari Gunung Kerinci, Jambi-Sumatera mengadung 10-deacetylbaccatin III dan baccatin III. Kedua senyawa tersebut memperlihatkkan aktivitas biologi dalam melawan sel kanker.

“Senyawa 10-deacetylbaccatin III dan baccatin III memperlihatkan aktivitas antitumor dan anti kanker baik secara in vitro maupun in vivo. Kedua senyawa tersebut bisa diubah menjadi paclitaxel melalui prosedur empat langkah yang ditemukan oleh Holton,” kata Asep.

Robert A. Holton merupakan seorang peneliti post doctoral di Universitas Stanford pada bidang produk sintesis alami. Dia mampu mengubah senyawa bahan aktif antikanker yang tidak lengkap pada berbagai jenis Taxus menjadi paclitaxel  (Taxol®) yang dapat melawan kanker. Sejak saat itu, paclitaxel (Taxol®) mulai menjadi obat populer bagi para dokter dalam menangani pasien kanker, seperti payudara, ovarium serta paru-paru.

Hal ini menyebabkan permintaan akan zak aktif antikanker ini terus meningkat dan akan tetap tinggi. Fenomena tersebut akan mengancam keberadaan genus Taxus karena adanya kegiatan eksploitasi yang berlebihan. Selain itu, untuk mengobati pasien kanker membutuhkan 2–2.5 g Taxol® atau setara dengan sekitar 6–8 pohon Taxus dengan asumsi rendemennya sekitar 0.01%.

Sedangkan di Indonesia, genus Taxus berkembang adalah T.sumatrana. Jenis ini ditemukan di daerah Sumatera, seperti Gunung Kerinci (Jambi), Kawasan Hutan Lindung Dolok Sibuaton (Sumatera Utara), dan Gunung Dempo (Sumatra Selatan). Walaupun belum dikaji secara mendalam kandungan zat aktif antikanker dalam Taxus ini dan belum dieksploitasi secara besar-besaran seperti di belahan bumi bagian utara, namun keberadaannya tidak berbeda jauh dengan genus Taxus lainnya di bagian utara atau hampir punah.

Hal ini sangat disayangkan, mengingat T.sumatrana ini merupakan jenis lokal tanaman di Indonesia yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena kandungan senyawa antikanker. Oleh karena itu, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc., Kepala Badan Litbang Kehutanan berharap bahwa Badan Litbang untuk segera melakukan penelitian konservasi jenis ini. Selain itu, juga bekerjasama dengan farmakologi untuk mempelajari lebih mendalam senyawa anti kanker yang terkandung dalam tanaman ini.

“Saya berharap Badan Litbang dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pengelolaaan spesies lokal ini melalui riset serta mengetahui kandungan-kandungan bahan aktif didalamnya yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk obat, parfum atau lainnya” tambah San.***THS

 

Materi terkait:

Taxus sumatrana Mutiara Terpendam dari Zamrud Sumatra

 

 

Informasi lebih lanjut:

Dr. Asep Hidayat, S.Hut., M.Agr

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan (BPTSTH)

Email : a.hidayat@gmail.com; asephidayat@yahoo.com

In general, cancer is the most deadly disease where most of the people afraid of. Cancer is the second largest cause of human death globally and the third in Indonesia. Therefore, the anti-cancer research is the most conducted research now and in the future. 

 

http://www.forda-mof.org atau www.litbang.dephut.go.id

#Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

#Forestry Research and Development Agency

#FORDA