( Publikasi REDD+ )

Carbon Emissions from Drained and Degraded Peatland in Indonesia and Emission Factors for MRV of Peatland Greenhouse Gas Emissions

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 12._Carbon_Emissions_from_Drained.jpg

The Kalimantan Forests and Climate Partnership (KFCP) program was set up to design and demonstrate methods to reduce carbon emissions from degraded peatlands and to quantify the effects of these interventions. Within KFCP, the studies reported here were set up to investigate the relations between land cover, water table depth, drainage intensity, subsidence rate, fire frequency and carbon emissions. A key target was to achieve robust GHG emission factors (emission factors) for degraded and burnt peatlands in Indonesia. This report presents a brief ‘summary for technicians and practitioners’ of the contents of three scientific papers that are in preparation, plus a translation of the work into emission factors.

Measuring, Reporting and Verifying Emissions Reductions at the National Scale

👤priyo 🕔 2011-06-29 07:53:01 cover_measuring.JPG

Indonesia is well known for its large forest estate and high rates of deforestation; however, the value of its forest carbon resources has been poorly understood. The diversity of forests and land management across the 180 million hectares of forest on more than 17 000 islands presents challenges to credibly estimating deforestation rates and the resulting greenhouse gas (GHG) emissions. Estimates vary widely depending on the methods and definitions applied.

Practical Lessons from the Field: A synthesis of eight lessons learned papers from the KFCP REDD+ Demonstration Activity

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 5._Practical_Lessons_from_the_Field.jpg

The highlights from these papers guide field practitioners to:

• Address land tenure early in the program through undertaking spatial planning with land users. In addition to providing assurance to communities about land security, these efforts will support relationship and capacity building, and land use planning.

• District and provincial government must be co-leaders in implementing the program. This local ownership enhances the likelihood of continuity of the program after the donor withdraws.

• Early sustained engagement with residents and legal and customary land-owners within the project site is needed to build understanding and support for REDD+ and promote desired behaviour change in relation to sustainable land-use.

• Addressing livelihoods early in the program is a means to empower communities and enables them to participate in REDD+ activities.

• A social safeguards framework integrated into the program will provide a practice standard for staff, enhance participation by all sections of the community and serve to mitigate problems.

• As much as possible, practitioners should use local knowledge and expertise, buy local goods from local suppliers, use local trees for reforestation and build local capacity to lead, govern, manage and implement REDD+ activities.

• Flexibility is required in responding to community needs, and procedures and payments that are responsive to field conditions.

• The different components of the program should be linked so that efficiencies can be made and benefits can be enhanced.

Pembelajaran Praktis: Pelibatan Masyarakat Dalam Konsultasi dan Perumusan Perjanjian Desa

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 4.Pelibatan_Masyarakat_Dalam_Konsultasi.jpg

Pada dasarnya, Perjanjian Desa bukan mekanisme baru dalam pengelolaan program pembangunan desa. Program-program lain di beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan kerangka kerja sama serupa. KFCP memfasilitasi penyusunan Perjanjian Desa melalui konsultasi dengan warga untuk memperoleh persetujuan mereka. Berbagai pihak, seperti dinas-dinas pemerintahan dan kelembagaan adat daerah terlibat dalam pengembangan strategi, pendekatan, dan instrumen konsultasi Perjanjian Desa, agar konsultasi dapat menjangkau seluas mungkin warga dan memperoleh sebanyak mungkin masukan.

Proses penyusunan Perjanjian Desa tidak mudah, terlebih ketika dilakukan di suatu wilayah yang memiliki pengalaman unik dengan program-program pembangunan yang telah ada sebelumnya. Persepsi warga terhadap program baru tidak dapat dengan mudah dilepaskan dari persepsi mereka terhadap program-program terdahulu. Dinamika politik desa juga akan mempengaruhi jalannya konsultasi. Oleh karena itu, membangun kepercayaan dan kapasitas warga merupakan strategi penting.

Indonesia’s National Carbon Accounting Remote Sensing Program

👤priyo 🕔 2011-06-29 07:53:01 INCAS_RSP.JPG

Indonesia’s National Carbon Accounting System (INCAS) has been designed to meet national and international policy requirements. It is building a system for comprehensive monitoring of land use changes, and estimation of land-based greenhouse gas emissions. Indonesia’s forests are of global significance, and tropical forests are a major focus of initiatives such as REDD+. The INCAS remote sensing program is producing spatially-detailed annual wall-to-wall monitoring of forest cover changes from time series Landsat imagery for Indonesia.

Index Terms—Forest Monitoring, Carbon Accounting, Multi-temporal Processing, Indonesia

Partisipasi dan Manfaat KFCP

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 21._Partisipasi_dan_Manfaat_KFCP.jpg

Paparan ini memberikan informasi mengenai partisipasi masyarakat tingkat desa dalam aktivitas KFCP dari tahun 2010 sampai 2012 yang dilaksanakan sebagai bagian dari aktivitas percontohan REDD+ (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan). Program KFCP merupakan bagian dari Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership (IAFCP). Analisis yang disajikan di sini didasarkan pada kumpulan data yang disusun dari data mentah yang tersimpan dalam proyek dan/atau desa termasuk daftar hadir rapat. Jumlah yang tertera pada daftar tersebut mewakili pendaftaran paket kerja untuk menerima pembayaran atas kontribusi dalam tiap paket (serta bantuan teknis dan dukungan yang terkait), dan kehadiran dalam pertemuan formal dan kegiatan yang telah difasilitasi oleh KFCP.

Panduan Lapangan Identifikasi Jenis Pohon Hutan

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 20._Identifikasi_Jenis_Pohon_Hutan.jpg

Untuk memenuhi kebutuhan akan identifikasi, dan kemudahan dalam penggunaan oleh para peneliti dan praktisi, KFCP telah membuat program untuk mengembangkan seri identifikasi pohon, yang disajikan sebagai panduan lapangan dan herbarium digital. Seri Identifikasi Jenis Pohon Hutan ini khusus membahas 46 jenis pohon yang dipilih karena potensi keberhasilannya cukup tinggi untuk digunakan dalam kegiatan rehabilitasi hutan rawa gambut. Seri Identifikasi ini terutama dirancang untuk digunakan oleh masyarakat setempat dan kelompok pembibitan dari pemerintah dan lembaga lainnya untuk membantu dalam identifikasi jenis pohon dengan cara mengenali: bunga, buah, biji, bibit dan hal lain dari pohon, misalnya pola pertumbuhan, ukuran, bentuk, tekstur dan lain-lain.

Panduan Penanaman Pohon Program Reforestasi

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 animasi_IAFCP-18-19.gif

Buku panduan ini merupakan ‘pedoman’ untuk membantu berhasilnya penghutanan kembali lahan gambut yang terdegradasi. Panduan ini dirancang untuk membimbing para praktisi dan masyarakat lokal yang terlibat, sejak awal pembuatan bibit di desa KFCP, bibit diangkut ke lokasi penanaman, persiapan lahan, penanaman, sampai pada pemeliharaan tanaman.

Rehabilitasi hutan di rawa gambut menyangkut proses ilmiah yang rumit dan belum sepenuhnya dipahami dengan baik. Oleh karena itu, panduan ini, satu dari beberapa seri, disusun atas dasar metode yang telah diuji dan pendekatan ilmiah yang dikembangkan oleh para ahli di wilayah tersebut dan dikombinasikan dengan pengalaman praktis dan pengetahuan tradisional masyarakat serta kearifan lokal di daerah KFCP. Semoga bermanfaat.

Modul Capacity Building untuk Kerangka Kerja REDD+ di KPH

👤Rizda 🕔 2011-06-29 07:53:01 Modul_Capacity_Building_REDD_plus_di_KPH.jpg

KPH merupakan unit manajemen hutan terkecil yang menjadi andalan di tingkat tapak dalam pelaksanaan pengelolaan hutan. Oleh karena itu, segala bentuk inisiatif baru dalam pengelolaan hutan (baik pola insentif maupun pemberdayaan masyarakat) dimungkinkan dalam rangka efektivitas dan efisiensi pengelolaan hutan secara lestari.

Modul ini diharapkan akan menjadi salah satu bentuk kontribusi Puspijak (Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan, Kementerian Kehutanan) dan FCPF (Forest Carbon Partnership Facility) bagi pengembangan kapasitas KPH, khususnya dalam konteks inisiatif baru pengelolaan hutan yang menghasilkan penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan - REDD+ (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation). Keberhasilan penerapan semangat REDD+ di tingkat KPH merupakan bagian penting dalam mendorong keberhasilan implementasi REDD+ secara agregat di tingkat nasional.

Monitoring Hotspot dan Investigasi Kebakaran di Wilayah Kerja KFCP

👤priyo 🕔 2011-06-29 07:53:01 Monitoring_hotspot_with_bahasa.JPG

Kebakaran gambut mudah terjadi di hutan rawa gambut tropis yang telah terdegradasi karena konversi dan pembukaan lahan, terutama yang melibatkan penebangan dan pembukaan kanal drainase. Kebakaran tersebut akan menghasilkan asap dan emisi karbon ke atmosfer. Program REDD+ dapat berhasil, salah satunya, dengan memahami volume dan distribusi kebakaran di hutan. Melalui cara tersebut, emisi karbon tahunan dapat direkam secara akurat. Selain itu, juga dapat diselidiki mengenai penyebab, motivasi dan detail kebakaran, sehingga kebakaran dapat ditanggulangi dengan cara yang lebih baik.