KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Risda Hutagalung - 10. August 2019 - 58 klik

Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Prinas 2019 di KHDTK Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Agustus 2019) _Dimulai sejak awal 2018 lalu Kegiatan Prioritas Nasional (Prinas) “Penerapan IPTEK Pengembangan Ekowisata Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli dan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba” telah berjalan selama hampir dua tahun. Untuk mengevaluasi progres pelaksanaan anggaran kegiatan Prinas tersebut, tim dari Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaksanakan kunjungan ke Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aek Nauli, Selasa (30/7/2019). 

“Kami kami ingin mengetahui, sudah berapa persen penyerapan anggaran prinas dan sudah dilaksanakan untuk apa saja,” kata Achmad Malik, salah satu tim DJA yang didampingi oleh Kasubbag Anggaran, Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi (BLI). 

Kepada tim DJA, mewakili Kepala BP2LHK Aek Nauli, Ismed Syahbani, S.Hut, Kepala Seksi Data, Informasi dan Kerjasama  menyampaikan sampai saat ini, realisasi anggaran semua kegiatan prinas sudah mencapai 45,65 %. 

“Kegiatan Prinas tahun 2019 ini melaksanakan 13 kegiatan. 5 kegiatan dilaksanakan oleh BP2LHK Aek Nauli, sedangkan 8 kegiatan lagi dilaksanakan oleh 6 satker BLI lainnya yang terlibat,” kata Ismed. 

6 satker tersebut, yaitu Puslitbang Hutan, Puslitbang Hasil Hutan, Puslitbang SEKPI, Puslitbang KLL, Balitbang Teknologi Pengelolaan DAS Solo, serta Sekretariat BLI. 

Muhammad Iqbal, tim DJA lainnya merespon positif dan mengapresiasi yang disampaikan oleh Ismed, karena menurutnya selama ini memang BLI merupakan salah satu dari 13 eselon 1 KLHK yang paling bagus dan paling cepat dalam penyerapan anggaran. Selain untuk melihat progres pelaksanaan anggaran, Iqbal juga menyampaikan bahwa mereka juga ingin mengetahui apakah ada permasalahan atau tidak dalam penyerapan dan rencana kedepannya. 

“Apabila ada pengadaan aset seperti alat laboratorium ataupun bangunan, harus dipikirkan juga anggaran untuk keberlanjutan pemeliharaan bangunan dan alat tersebut kedepannya. Untuk pengajuan anggaran pemeliharaan biasanya DJA selalu responsif, tapi semuanya juga tergantung kebijakan di K/L,” kata Iqbal. 

Lebih lanjut kemudian Malik berharap dengan adanya kegiatan Prinas di Danau Toba ini, maka juga harus dipikirkan dampak demi keberlanjutan lingkungan. Sebagai contoh, dengan banyaknya pengunjung yang datang ke Danau Toba tentu harus disediakan tempat sampah agar lingkungan tetap terjaga. 

Diskusi berjalan cukup menarik, salah seorang peneliti BP2LHK Aek Nauli, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Si, menjelaskan bahwa aspek lingkungan tentu saja mendapat perhatian. Menurut Wanda, walaupun penelitiannya masih terbatas, tapi sudah ada beberapa kegiatan yang dilakukan, seperti yang terkait dengan dampak limbah gajah dan juga konservasi tanah dan air. 

Setelah diskusi, tim DJA kemudian berkesempatan berkunjung ke lapangan untuk melihat sarana parasana yang telah dibangun di lokasi KHDTK Aek Nauli. Tim DJA berkunjung ke laboratorium PSDA, kandang rusa, galeri lebah, lokasi Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), serta jalur jungle tracking menuju air terjun dan puncak panorama Aek Nauli.***HES & NNN