KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Dyah Puspasari - 10. August 2019 - 71 klik

Herbarium Papuaense, Merintis Jalan Wujudkan Pusat Studi Flora Tanah Papua

BP2LHK Manokwari (Manokwari, Agustus 2019)_Herbarium Papuaense yang dikelola oleh Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manokwari terus berbenah. Misinya adalah menjadi pusat studi flora tanah Papua.

“Awal 2019 herbarium direvitalisasi. Selain membenahi sarana dan prasana, kami juga membangun jejaring kerja dan kerjasama dengan berbagai lembaga, diantaranya Universitas Papua, IPB, dan Wildlife Conservation Society, Taman Nasional Lorentz dan Dinas Kehutanan Papua, jelas Ir. Yoyok Sigit Haryotomo, Kepala BP2LHK Manokwari baru-baru ini. Kerjasama ini, menurut Yoyok, selain untuk meningkatkan kualitas data dan pengelolaan Herbarium Papuaense, juga termasuk kegiatan transfer teknologi herbarium.

Saat ini koleksi Herbarium Papuaense berjumlah 1500 spesimen tumbuhan yang dikumpulkan dari seluruh Papua. Ditargetkan pada akhir 2019 ini, jumlah koleksi akan terus ditambah menjadi 3000 spesimen. Untuk mewujudkan itu, BP2LHK Manokwari mewajibkan para penelitinya untuk mengumpulkan spesimen-spesimen tumbuhan Papua dalam setiap proses kegiatan penelitian di lapangan.

Penelitian flora terbaru dilakukan di areal Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Teluk Bintuni pada awal Agustus 2019. Tim peneliti BP2LHK Manokwari dipimpin oleh, Krisma Lekitoo, S.Hut, M.Sc., peneliti yang juga koordinator Herbarium Papuaense, berhasil mengumpulkan 150 spesimen tumbuhan berkayu guna melengkapi koleksi di herbarium. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Teluk Bintuni memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di Papua Barat.

Keberadaan Herbarium Papuaense telah banyak dimanfaatkan oleh para pihak. “Beberapa hasil penelitian keanekaragaman hayati yang kami lakukan, telah dijadikan rujukan dalam pengambilan kebijakan dalam pengelolaan KPHP,”lanjut Yoyok. Hal ini tentu memberikan motivasi kepada jajarannya untuk berkarya lebih baik dimasa mendatang.

Mahasiswa Universitas Papua secara rutin telah memanfaatkannya untuk mempelajari taksonomi tumbuhan. Selain itu, tim herbarium juga memberikan pelatihan pembuatan spesimen kepada mahasiswa jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Ottow Geisler Jayapura. Kegiatan pendampingan lapangan juga kerap diberikan kepada mahasiswa kehutanan Universitas Negeri Papua yang sedang melakukan pengambilan data untuk tugas akhirnya. Baru-baru ini perwakilan Wildlife Conservation Society (WCS) juga berkunjung dan tertarik dalam pengelolaan database spesimen di Herbarium Papuaense.

Kegiatan-kegiatan tersebut salah satu upaya transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang taksonomi kepada civitas akademika di Tanah Papua. Harapannya akan semakin banyak peminat bidang taksonomi sehingga dapat mengeksplorasi lebih banyak lagi keanekaragaman hayati di Papua.*(YSH,YB, FA)