KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Risda Hutagalung - 09. August 2019 - 188 klik

Arang Bambu Puslitbang Hasil Hutan Dimanfaatkan untuk Pengobatan Kanker

Puslitbang Hasil Hutan (Bogor, Agustus 2019) _Arang bambu yang diolah menjadi karbon porous ternyata bermanfaat untuk pengobatan kanker. Hal ini dikemukakan Prof. Dr. Warsito P Teruno dari C-Tech Edwar Technologi mengapresiasi hasil penelitian dan pengembangan Puslitbang Hasil Hutan saat menjadi narasumber kuliah umum berjudul Teknologi Elektro Kapasitansi untuk Terapi Kanker di Kampus Badan Litbang dan Inovasi Bogor, Jumat (2/8/2019).

Dalam paparannya, Prof. Warsito menyampaikan, sel kanker dapat dimatikan dengan memanfaatkan aliran listrik.  Proses mematikannya cepat namun untuk proses menyerap sel mati dan memulihkan lambat.

“Kami berpendapat harus ada sesuatu untuk membantunya. Setelah ketemu dengan Prof. Gustan maka dipakailah asap cair dan nano karbon dari bambu (hasil litbang Puslitbang Hasil Hutan). Alhamdulillah, misteri selama 7 tahun ini mendapatkan jalan dengan asap cair dan nano karbon bambu,” ujar Prof. Warsito.

“Material karbon aktif penting, karena untuk mengikat dan menyerap luruhan sel kanker yang mati,” tambah Prof. Warsito di hadapan peserta kuliah umum yang terdiri dari para peneliti dan pejabat struktural lingkup Badan Litbang dan Inovasi dan peneliti LIPI yang hadir.

Lebih lanjut Prof. Warsito menjelaskan, ada 3 proses dalam pengobatan penyakit kanker yaitu:  mematikan sel, membuang dan menyerap. Karbon aktif sangat membantu tubuh menyerap terutama pada Grup D. Regenerasi sel sehat memerlukan protein yang tinggi dan anti oksidan, asap cair sangat membantu ini.

Gusmailina, Peneliti Utama Puslitbang Hasil Hutan yang turut menggeluti arang terpadu ini telah mempraktikkan sendiri khasiat asap cair dalam penyembuhan luka. Bahkan sampai saat ini ia selalu meminum arang kapsul sebagai pengobatan kanker yang dideritanya.

Sebelumnya, Kepala P3HH, Dr. Dwi Sudharto menyampaikan beruntung dapat bekerja sama dengan Prof. Warsito dan tim. "Asap cair: Take Liq yang diproduksi oleh Puslitbang Hasil Hutan, telah dipakai untuk  menyemprot luka pada penderita kanker dan luka langsung kering,” kata Dwi.

Seperti diketahui, arang terpadu adalah teknologi yang dalam proses dan aplikasinya dilakukan secara terpadu. Pada teknologi ini dihasilkan produk arang, asap cair dan arang kompos bioaktif (arkoba), salah satunya dari bambu.

Tahun 2019 ini, Puslitbang Hasil Hutan bersama tim Pusat Penelitian Biomaterial, Balai Litbang LHK Aek Nauli dan C-Tech Edwar Technologi melakukan kerja sama dalam kegiatan penerapan iptek arang terpadu di KHDTK Aek Nauli. Dalam kegiatan ini akan dibangun spot wisata khusus untuk terapi kanker: minum arang, pakai jaket, mendengarkan musik dan klinik kanker.

Terkait itu, dalam pengantar diskusi, Dr. Ratih Damayanti, Peneliti Puslitbang Hasil Hutan menjelaskan bahwa  pendekatan pengobatan kanker yang akan dilakukan di sana ada 3 yaitu biologi, kimia dan fisika (MRI, USG, CT-Scan).

“Biologi, misalnya dari kulit kersen digunakan untuk pengobatan kanker payudara. Sedangkan Prof Warsito nanti akan menyampaikan dari aspek fisika. Untuk Kimia, aspek obat-obatan sangat berkembang saat ini,” jelas Ratih.

“Selain itu pemanfaatan alat electric capasitansi dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lain terutama untuk melihat aktivitas sel tumbuhan maupun pemanfaatan yang lain. Inilah manfaat dari sIlaturahmi ilmu,” kata Prof. Gustan Pari, Peneliti Utama Puslitbang Hasil Hutan. Prof. Gustan berharap, teknologi ini bisa dikembangkan untuk percepatan penyebaran inokulan gaharu.***