KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Dyah Puspasari - 13. July 2019 - 140 klik

HKm Mampu Tingkatkan Kualitas Lingkungan di DAS Babak

BLI (Bogor, Juli 2019)_Kegiatan Hutan Kemasyarakatan (Hkm) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Babak, Pulau Lombok dinilai mampu meningkatkan kualitas lingkungan setempat, menurut hasil kajian Dr. Ryke Nandini dkk yang dirilis dalam Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak Vol. 3, No.I, 2019.

“Ada 3 aspek lingkungan yang diamati yakni biofisik, ekonomi dan sosial, dalam kurun waktu 2007-2015. Hasilnya menunjukkan telah terjadi penurunan erosi, peningkatan pendapatan petani HKm dan terjadi perubahan perilaku petani dalam pemanfaatan bahan bakar dari kayu,” jelas Ryke, peneliti pada Balai Litbang Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BP2THHBK) Mataram, saat dikonfirmasi melalui telepon gengamnya baru-baru ini. 

Kegiatan HKm yang dilakukan pada lahan hutan lahan kering sekunder DAS Babak ini, telah meningkatkan tutupan lahan DAS tersebut. Dampaknya, terjadi peningkatan kualitas lingkungan biofisik kawasan yang ditandai dengan penurunan erosi tahun 2007-2013 sebesar 19%, dari 2,89 ton/ha/tahun menjadi 2,34 ton/ha/tahun. Pada aspek ekonomi, pendapatan rata-rata petani HKm meningkat sebesar 92,2%, dari Rp 905.130,00 per-bulan/ha pada tahun 2008 menjadi Rp 1.739.677,00 perbulan/ha pada tahun 2015. Sementara pada aspek sosial, pada kurun 2008-2015, terjadi penurunan jumlah responden yang menggunakan kayu bakar sebesar 66,5%. Mereka beralih menjadi pengguna kompor gas. Kondisi ini diharapkan dapat mewujudkan kelestarian sumber daya hutan di kawasan tersebut.

Lebih lanjut Ryke menjelaskan bahwa penerimaan dari HKm di DAS Babak yang memberikan kontribusi terbesar adalah dari pisang (54,8%), kopi (11,3%) dan durian (8,6%). Sementara jenis tanaman lain seperti alpukat, kelapa, nangka, sirih, pakis dan kayu bakar berkontribusi sebesar 25,3%.

Kegiatan HKm di DAS Babak ini telah dilakukan sejak tahun 2007 dengan salah satu tujuannya untuk mengatasi kekritisan lahan DAS Babak dengan melibatkan masyarakat sekitar. Tiga tahun setelah itu, tepatnya 2010, HKm ini berhasil memperoleh ijin usaha pengelolaan hutan kemasyarakatan (IUPHKm). 

Hutan kemasyarakatan menjadi salah satu kebijakan yang memberikan peluang pada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan lahan hutan. Pada prinsipnya HKm adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat

Artikel yang terbit dalam Jurnal Faloak Vol. 3, No.I, 2019 ini, merupakan bagian dari disertasi Ryke tahun 2017 dan juga dipresentasikan pada Seminar Nasional Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada Tahun 2017.*(DF)

Photo Credit: Dr. Ryke Nandini (@rykenandini)