Dientry oleh Risda Hutagalung - 08 July, 2019 - 227 klik
Budidayakan Madu Kelulut, BP2LHK Banjarbaru Berharap Keseimbangan Hutan Terjaga

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Juli 2019)_Untuk menjawab permasalahan yang dihadapi pembudidaya madu kelulut (Heterotrigona Itama) di Kalimantan Selatan, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru melakukan penelitian “Budidaya dan Peningkatan Kualitas Madu Kelulut”. Penelitian ini sekaligus sebagai upaya pelestarian hutan di sana.

Sebagaimana diketahui, selama ini sumber koloni yang digunakan untuk usaha budidaya madu kelulut sebagian besar berasal dari hutan. Pengambilan log yang berisi koloni terus-menerus akan mengganggu keseimbangan hutan dan berdampak pada maraknya penebangan kayu.

“Beberapa permasalahan utama dari salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan Kalimantan Selatan ini antara lain optimalisasi pakan kelulut, pemisahan koloni dan peningkatan kualitas madu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada tahun 2019 dilakukanlah penelitian bekerja sama dengan KPH Hulu Sungai dan Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan,” kata Reni Setyo Wahyunigtyas, S.Hut, M.Sc, peneliti BP2LHK Banjarbaru selaku koordinator kegiatan ini.

Reni menjelaskan, penelitian ini dilakukan di beberapa lokasi antara lain di Rantau, Kabupaten Tapin, di Kandangan, Hulu Sungai Selatan dan di Barabai, Hulu Sungai Tengah. “Terdapat beberapa aspek yang akan kita teliti pada tahun 2019, salah satunya uji coba pecah koloni,” jelas Reni.

Menurut Beny Rahmanto S.Hut, peneliti lainnya yang tergabung dalam penelitian ini, uji pecah koloni dilakukan dengan beberapa perlakuan yakni pemisahan koloni secara langsung dan secara tak langsung.

“Pada uji coba pemisahan koloni secara langsung, kami mencoba tiga jenis kotak sarang (setup) yakni setup yang terbuat dari kayu, bambu, dan tembikar,” ujar Beny.

Beny menjelaskan, untuk pemecahan koloni terdapat beberapa tahapan yang dilakukan yakni dengan penyiapan sarang baru. Selanjutnya, pada sarang baru tersebut diletakkan sebagian telur, madu, serta propolis.

“Uji coba setup perdana sudah kita lakukan pada minggu ketiga bulan Juni. Setelah dua minggu pemasangan, kita sudah memantau ada beberapa kelulut yang mengunjungi setup baru dan ini menunjukkan indikasi yang baik. Kami berharap uji coba ini bisa sukses sehingga untuk budidaya lebah kelulut petani tak perlu lagi mengambil log dan koloni kelulut yang ada di hutan,” jelas Beny.

Sebagai informasi, terdapat banyak aspek yang diteliti pada penelitian ini. Selain ujicoba pecah koloni, aspek lain yang diteliti adalah inventarisasi pakan lebah, survei karakteristik habitat, dan peningkatan kualitas pasca panen madu.***