Dientry oleh Risda Hutagalung - 29 June, 2019 - 318 klik
Tobarium dan Stypro Tampil Mendunia di Indonesia Innovation Day 2019

BP2LHK Aek Nauli (Saarbrücken, Juni 2019)_Setelah melalui berbagai tahapan, Parfum Kemenyan (Tobarium Styrax Perfume) dan Propolis Kemenyan (Stypro-Styrax propolis), dua produk inovasi Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akhirnya tampil di ajang Indonesia Innovation Day (IID) 2019  di Saarland University, Saarbrücken, Jerman, Rabu (26/6/2019). 

Dengan demikian, dua produk inovasi Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli tersebut termasuk dalam 20 produk inovatif dari berbagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) di Indonesia yang dipamerkan dan dipromosikan pada IID 2019. Adapun BP2LHK adalah salah satu binaan PUI dengan tema “Pengelolaan Hutan Tropis Dataran Tinggi”. 

Baca juga: Tobarium: Parfum Kemenyan Produk Litbang Unggulan BP2LHK Aek Nauli

Tertarik dengan dua produk ini, setelah presentasi produk, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Rep. Fed. Jerman, Dr. Arif Havas Oegroseno yang membuka acara  dan tamu lain dengan antusias mengunjungi booth pameran tersebut. Di sana, mereka mendapatkan penjelasan produk secara detail dari peneliti BP2LHK Aek Nauli,  Cut Rizlani Kholibrina, M,Si, inovator Tobarium dan Dr. Aswandi inovator Stypro

Bukan hanya dari tamu perorangan, kedua produk tersebut juga mendapat banyak perhatian dari beberapa lembaga dan perusahaan yang bermuara pada penandatanganan dua kesepakatan kerja sama riset dan pengembangan. 

Kerja sama pertama yang ditandatangani yaitu antara Saar Science Park, Saarland University yang diwakili oleh Thomas Schuck selaku Managing Director dan Pratiara, M.Si selaku Kepala BP2LHK Aek Nauli. Fokus kerjasama ini diarahkan pada riset dan inovasi produk-produk berbasis kemenyan dan propolis kemenyan. Sedangkan kerjasama kedua dilakukan dengan salah satu perusahaan eksportir minyak atsiri nasional, yaitu PT. Winros Sukes Indonesia yang penandatanganannya diwakili oleh Diana Mulya. 

Baca juga: Parfum Kemenyan Tobarium, dari Mistik Menjadi Eksotis

Dalam kesempatan ini Cut Lani menyampaikan bahwa untuk sampai pada tahap hilirisasi, prosesnya pembuatan parfum kemenyan tidaklah mudah dan butuh waktu yang cukup lama. Meski awalnya hanya diarahkan untuk mengisi celah riset, tapi butuh percobaan berkali-kali agar mendapatan formulasi wangi yang pas dan disukai. 

“Mencapai tahapan ini tidak mudah, butuh waktu 3 tahun berproses. Hari ini menjadi sejarah dalam perjalanan panjang litbang kemenyan, karena BP2LHK Aek Nauli bisa menjalin kerjasama litbang kemenyan dengan Saar Science Park dan kerjasama hilirisasinya dengan PT. Winros,” tutur Cut Lani. 

Senada dengan hal tersebut, Pratiara juga menyampaikan bahwa hal tersebut menjadi suatu kebanggaan bagi BP2LHK Aek Nauli, karena apa yang sudah diperjuangkan oleh penelitinya tidaklah sia-sia, bahkan mendapat antusias dan perhatian lebih dalam kegiatan IID ini. 

“Ini capaian yang luar biasa bagi BP2LHK Aek Nauli, produk litbang parfum dan propolis kemenyan nya diminati di luar negeri. Bayangkan jika kerjasama ini terwujud, berapa banyak petani kemenyan yang tertolong karena kita mampu memproduksi ribuan liter parfum dari produk sendiri. Dengan tekad yang kuat, saya  yakin suatu saat parfum kemenyan bisa mengalahkan semua produk parfum luar yang sudah terkenal itu,” kata Pratiara.

Pada penutupan acara, dengan semangat dan penuh syukur, Ketua Dewan Riset Nasional, Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU yang ikut hadir mengawal program IID 2019 ini menyampaikan bahwa pada awalnya, target IID 2019 ini hanya 6 kesepakatan kerja sama, namun pada akhir kegiatan ternyata tercapai 14 kerjasama riset dan pengembangan dengan berbagai lembaga internasional. 

Sebagaimana diketahui, IID 2019 merupakan IID ketiga setelah dilaksanakan di Eindhoven, Belanda pada 2017 dan di Kobe, Jepang pada 2018 lalu. Kegiatan IID 2019 dibuka oleh Dubes Indonesia untuk Rep. Fed. Jerman, Dr. Arif Havas Oegroseno, SH, MH. Sebelumnya, perwakilan Saarland University, Axel Koch (Head of Department for Research Managemen and Technology Transfer) dan Dirjen Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc juga menyampaikan kata sambutannya. 

Kegiatan ini diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk memamerkan dan mempromosikan produk-produk inovatif dari PUI di Indonesia dan menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga penelitian dan bisnis internasional. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan berbagai kesepakatan terkait penelitian lanjutan dan pengembangan industri guna memperkuat kolaborasi internasional. 

Adapun lingkup produk inovatif yang diikutkan dalam IID 2019 mencakup bidang pangan pertanian (food agriculture); kesehatan obat (healthcare); sosial, budaya, dan humaniora (social, culture, and humaniora); telekomunikasi, informasi, dan komunikasi (ICT); material maju (advance material); dan kemaritiman (maritime).***