KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Risda Hutagalung - 13. May 2019 - 328 klik

BP2LHK Palembang Berhasil Kembangkan Model Pengelolaan Gambut Terintegrasi Berbasis Agrosilvofishery

Palembang (BP2LHK, Mei 2019)_“Selama kurang lebih 13 tahun kami melakukan riset di lahan gambut, kami berhasil mengembangkan model pengelolaan lahan gambut terintegrasi berbasis agrosilvofishery,” kata Ir. Bastoni, M.Si., Peneliti Ahli Madya Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (6/5/2019). 

Bastoni mengatakan, manipulasi lahan dan rekayasa teknis budidaya yang memberi ruang sinergi dan kolaborasi antara sektor kehutanan, pertanian dan perikanan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan BP2LHK Palembang terhadap budidaya perikanan secara terintegrasi di lahan gambut. 

Hasilnya, plot pilot model restorasi gambut terintegrasi berbasis agrosilvofishery telah terbangun di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Plot dengan luas 4 hektar ini mempunyai tiga komponen utama yaitu lahan bagian tengah yang digunakan untuk budidaya tanaman kehutanan dan tanaman pertanian (padi) sebesar 70%, kolam yang digunakan untuk budidaya ikan dan simpanan air sebesar 15% dan pematang yang digunakan untuk budidaya tanaman hortikultura sebesar 15%. 

Plot ini telah dilirik dan diapresiasi oleh Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal ini ditandai dengan kunjungan mereka, Kamis (4/4/2019) lalu yang menjadi titik awal inisiasi kerjasama pengelolaan lahan gambut secara kolaboratif untuk percepatan restorasi gambut yang akan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. 

Berbagi cerita tentang proses pengembangan ini, menurut Bastoni, tidak semua tipologi lahan gambut cocok untuk dikembangkan menjadi lahan budidaya perikanan. Hal ini erat kaitannya dengan perspektif daya dukung lahannya. 

“Kendala utama budidaya perikanan pada lahan gambut adalah pH air yang rendah. Hanya lahan gambut yang mempunyai periode tergenang lebih panjang yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi lahan budidaya perikanan,” jelas Bastoni. 

“Sebagai contoh lokasi Pilot Model di Kabupaten OKI, secara umum memiliki pH air tanah berkisar antara 3,46 - 3,66 yang tergolong sangat masam. Akan tetapi, dengan modifikasi kolam simpanan air dan drainase alami yang terhubung dengan danau atau sungai induk, maka pH air dan kadar oksigen terlarut akan meningkat karena ada aliran air dan akan semakin meningkat apabila ada suplai air hujan yang bereaksi netral di musim hujan,” jelas Bastoni. 

Selain rekayasa teknis, BP2LHK juga telah mencoba melakukan pendekatan biologis dengan mengembangkan budidaya ikan lokal bersifat intensif, input berupa penebaran bibit ikan yang jenisnya disesuaikan dengan hasil inventarisasi Nurmayani (2017). Jenis ikan yang telah dikembangkan adalah betok (Anabas testudineus), tambakan/tembakang (Helostoma teminckii), sepat siam (Trichogaster pectoralis), sepat mata merah (Trichogaster trichopterus), lele lokal (Clarias sp.) dan gabus (Channa striata). 

Dijelaskan lebih lanjut, pendekatan secara biologis lain yang dapat dilakukan dengan introduksi ikan-ikan dari luar dan hasil rekayasa yang tahan terhadap perairan gambut. Ini sesuai dengan hasil penelitian Gleni Hasan Huwoyon dan Rudhy Gustiano (2013). Berdasarkan hasil penelitian mereka, beberapa jenis ikan yang telah diintroduksi dan mulai dikembangkan di perairan gambut adalah ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus), lele dumbo (Clarias gariepienus), dan ikan nila (Oreochromis niloticus) dan strain BEST (Bogor Enhanched Strain Tilapia).***nsoe