KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita LHK
Posted by Risda Hutagalung - 13. May 2019 - 35 klik

HHBK dan Jasa Lingkungan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Hutan

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jumat, 10 Mei 2019.
KLHK menggelar diskusi nasional untuk menggali inspirasi dan mengembangkan multi usaha hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan (jasling) di Jakarta (10/5). Berdasarkan hasil penelitian, potensi hasil hutan berupa HHBK maupun jasling mencapai nilai 95%. Diskusi nasional dengan tajuk “Pengembangan Usaha HHBK dan Jasa Lingkungan Menuju Revolusi Industri 4.0” tersebut dimoderatori oleh Andy F. Noya.
 
HHBK dan jasling memiliki potensi ekonomi dari pemanfaatan hasil hutan sebesar 95% namun belum banyak masyarakat yang mengoptimalkannya. Menteri LHK Siti Nurbaya mengungkapkan bahwa pengelolaan HHBK saat ini umumnya masih dilakukan hanya dengan mengandalkan hasil tumbuhan secara alami. Sementara itu Izin Usaha Pemanfaatan HHBK (IUPHHBK) juga masih sangat terbatas, yaitu baru 14 unit IUPHHBK. Kondisi ini memerlukan perhatian serius pemerintah dan semua stakeholder terkait guna memaksimalkan potensi HHBK yang belum tergarap dengan baik.
 
“Sebenarnya upaya pembangunan HHBK dan jasling ini sejalan dengan paradigma baru KLHK dalam melakukan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, yaitu melalui perubahan konfigurasi bisnis timber management menjadi forest management, dan dari orientasi korporasi menjadi orientasi multi pelaku usaha,” ungkap Menteri Siti. Selanjutnya, perlu dilakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman dimana era digital 4.0 mampu mendekatkan produk lokal dengan pasar.
 
Sementara itu Andy Noya menceritakan bahwa akhir-akhir ini dirinya sering berkunjung ke desa-desa di seluruh Indonesia dan menjumpai pertumbuhan desa yang luar biasa. “Pariwisata di daerah tumbuh berkembang dengan pesat dan produk-produk lokal semakin dicari. Saya melihat bahwa masyarakat pedesaan yang tinggal jauh dari kota besar tersebut akan menyongsong masa depan yang cerah dan sejahtera,” ungkap Andy Noya.
 
Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Nurdin Basirun yang didapuk sebagai narasumber pertama pada diskusi nasional tersebut menceritakan bahwa masyarakat di daerahnya telah merasakan manfaat dari pengembangan jasa lingkungan wisata alam. “Kunjungan wisatawan meningkat sebesar 50% dari tahun lalu. Tidak sekedar berekreasi, wisatawan ini juga mencari souvenir, menikmati hidangan kuliner serta atraksi kebudayaan yang ada. Hal ini meningkatkan pendapatan usaha kecil menengah (UKM) di Kepulauan Riau, serta membuka peluang lapangan pekerjaan lainnya di sektor pariwisata,” ujar Nurdin.
 
Nurdin menambahkan bahwa kawasan hutan dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai obyek wisata secara berkelanjutan dengan tetap mengikuti regulasi pemerintah yang ada. Menurut Nurdin, masyarakat di Kepulauan Riau merawat dan menjaga adat dan budaya serta kelestarian lingkungan agar dapat diambil manfaatnya secara jangka panjang.
 
Sementara itu, manfaat HHBK yang diperoleh dari kawasan hutan dicontohkan oleh Rahmat dari Kabupaten Kerinci dan Rizwan Husein dari Kabupaten Aceh Tengah. Rahmat merupakan Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan yang membudidayakan lebah untuk diambil madunya, sedangkan Rizwan merupakan petani Kopi Gayo yang telah mencicipi kesuksesan hingga ke level internasional.
 
Rahmat yang merupakan bagian dari 27 kelompok tani binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kerinci tersebut baru saja melakukan panen raya perdana dengan hasil madu sebanyak 150 kg. Dukungan dan pendampingan dari petugas KPH dirasakan manfaatnya oleh Rahmat dimana area lahan seluas 1 hektar yang dikelola sejak 3 tahun lalu tersebut terus meningkat produktivitasnya. Rahmat yang awalnya hanya memiliki 3 stup (kotak lebah) kini telah memiliki lebih dari 40 stup.
 
Hasil dari panen madu tersebut dijual oleh Rahmat melalui KPHP Kerinci. Nilai ekonomi yang didapat oleh Rahmat kini mencapai Rp. 25 juta. Rahmat berharap bahwa pengembangan budidaya madu di daerahnya terus berkembang sehingga masyarakat di lingkungannya juga ikut sejahtera.
 
Lain cerita oleh Rizwan, petani Kopi Gayo Aceh. Dirinya dan ratusan anggota koperasi Baitul Qirad Aceh memulai bisnis kopi sejak tahun 2005 dengan lahan seluas 1,5 – 2 hektar per KK. Seiring dengan permintaan kopi yang meningkat setiap tahun, nilai kopi yang dihasilkan oleh Rizwan meningkat 150% dibanding awal dia merintis usaha.
 
Kopi Gayo Aceh terkenal unggul dengan cita rasa yang baik dan juga beraroma harum. Untuk menjaga harga kopi stabil, Rizwan mengaku selalu mengupdate informasi terkait harga kopi dunia melalui internet. “Harga kopi dunia saat ini Rp. 26.000 sementara Kopi Gayo seharga Rp. 65.000. Kami mengekspor dengan harga 5 dollar. Kini sebanyak 80% dari total hasil kopi kami dijual kepada Starbucks Internasional,” ujar Rizwan dengan bangga.
 
Untuk memanfaatkan keunggulan era digital 4.0, KLHK melakukan terobosan kerjasama dengan perusahaan e-commerce Shopee yang mulai menjual produk-produk HHBK secara online. Sebanyak 25.000 produk kehutanan telah tersedia di halaman Shopee dan dapat dipesan dengan mudah oleh masyarakat. “Artinya masyarakat di kota-kota besar bisa mendapatkan produk-produk lokal ini dengan cepat dan praktis tanpa harus ke daerah asal produk kehutanan tersebut,” kata Andy Noya.
 
Raditya Triatmojo dari Shopee Indonesia menjelaskan bahwa masyarakat yang ingin membeli ragam produk kehutanan tersebut dapat mengakses website Shopee dan memilih menu Kreasi Nusantara yang ada di sebelah kanan. Selanjutnya pemesanan dapat dilakukan oleh pembeli layaknya situs belanja online. “Jutaan produk kehutanan telah terjual melalui Shopee ini,” ungkap Raditya.
 
Kegiatan pengelolaan hutan harus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, seiring dengan peningkatan produktivitas hutan serta terpeliharanya kelestarian alam. Dengan memanfaatkan keunggulan Revolusi Industri 4.0, masyarakat dapat mendekatkan produk HHBK maupun jasling kepada pasar.