KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Risda Hutagalung - 09. May 2019 - 88 klik

FGD Pengembangan Wisata Ilmiah (Eco-Edu) KHDTK Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Parapat, Mei 2019)_Bertema “Penyusunan Skenario dan Rencana Aksi Pengembangan Eco-eduwisata di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli mengadakan Focus Group Discussion (FGD). 

Sesuai temanya, FGD yang dilaksanakan di Parapat selama 3 hari, 23-25 April 2019 ini dilakukan dalam rangka pengembangan wisata ilmiah (eco-edu) yang akan dikelola dengan kolaborasi antar pihak. Adapun metode yang digunakan dalam pembuatan skenario dan rencana aksi ini adalah Participative Prospective Analysis (PPA). 

Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai latar belakang dilaksanakannya FGD oleh peneliti P3SEKPI, Dr. Ir. R. Subarudi, Mwood, Sc. 

“Pengembangan wisata di kawasan Danau Toba merupakan prioritas yang sudah ditetapkan oleh Bappenas. Bagaimana permasalahan pada kondisi saat ini di KHDTK Aek Nauli akan dipecahkan bersama dengan membuat skenario dan rencana aksinya untuk 5-10 tahun ke depan,” papar Subarudi. 

Selanjutnya, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, dalam sambutannya menjelaskan latar belakang terbentuknya Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). 

“ANECC dibentuk oleh 3 lembaga, yaitu BBKSDA Sumatera Utara, BP2LHK Aek Nauli, dan Vesswic,” jelas Uli. "Peluang pengembangan wisata gajah di KHDTK Aek Nauli diantaranya adalah model pelayanan wisata berbasis aktivitas pemeliharaan gajah, penyediaan oleh-oleh dan suvenir, dan lain-lain,” tambah Uli. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala BP2LHK Aek Nauli, Pratiara, S.Hut, M.Si memaparkan tentang potensi KHDTK Aek Nauli. 

“KHDTK Aek Nauli dengan luasan 1.900 ha, dengan berbagai keanekaragaman hayati, merupakan pintu masuk ke destinasi wisata Danau Toba. KHDTK Aek Nauli memiliki beberapa paket wisata diantaranya, wisata ilmiah panen lebah madu, panen getah tusam, panen getah kemenyan, ANECC,” kata Pratiara. 

Pratiara juga menyampaikan adanya peningkatan jumlah pengunjung yang berwisata ke KHDTK Aek Nauli. 

“Tahun 2018 ada 5.000 kunjungan, dengan adanya ANECC pengunjung semakin meningkat hingga 6.000-7.000 orang. KHDTK Aek Nauli bukanlah mass tourism  akan tetapi wisata edukasi, pengunjung pulang membawa ilmu pengetahuan,” tambah Pratiara. 

Sebelumnya, saat membuka acara mewakili Kepala P3SEKPI, Kepala Bidang Kerjasama dan Diseminasi, Dana Apriyanto, S.Hut, M.Sc, M.T menyampaikan bahwa core dari pemanfaatan di KHDTK Aek Nauli adalah penelitian dan pengembangan.

“Peraturan menteri tentang KHDTK memungkinkan KHDTK Aek Nauli dapat menjadi wisata ilmiah bagi masyarakat sekitar dan juga untuk mendukung wisata di kawasan Danau Toba,” papar Dana. 

Pada hari terakhir, semua peserta FGD diajak melakukan kunjungan lapangan ke KHDTK Aek Nauli. Peserta FGD ini terdiri dari berbagai pihak yang sudah terlibat dan memiliki potensi untuk terlibat dalam pengelolaan eco-eduwisata di KHDTK Aek Nauli, yaitu Dishut Prov. Sumut, Disbudpar Prov. Sumut, BBKSDA Sumut, BPODT, Vesswic, Disbudpar Kab. Simalungun, Bappeda Kab. Simalungun, KPHP II Pematangsiantar, PHRI Kab. Simalungun, PHRI Kab. Samosir, Pokdarwis Desa Pondok Buluh, Pokdarwis Desa Sibaganding, KPN Sylva, SMA Perguruan Taman Siswa (Pramuka), Organisasi Mahasiswa USI, Peneliti P3KLL, Kepala Desa Pondok Buluh, serta Kepala Desa Sibaganding.***NNN