KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Dyah Puspasari - 07. May 2019 - 131 klik

Stypro (Styrax Propolis), Inovasi dari Aeknauli Beecosystem

BLI (Aek Nauli, Mei 2019)_Nama propolis mungkin sudah lama dikenal masyarakat luas sebagai produk sampingan berupa getah dari lebah madu, yang khasiatnya tidak kalah dari madu. Namun, produk propolis kemenyan (stypro atau styrax propolis), baru ada di Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli. Ini merupakan inovasi terbaru propolis yang dihasilkan melalui sistem penyebarluasan teknologi budidaya lebah madu “Aeknauli Beecosystem” BP2LHK Aek Nauli.

Stypro merupakan produk olahan white propolis dari resin sarang lebah stingless trigona, salah satu produk dari Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pengelolaan Hutan Tropis Dataran Tinggi yang dilakukan para peneliti BP2LHK Aek Nauli. Stypro berasal dari substrat resin yang dikumpulkan lebah trigona dari sari tunas daun dan batang tanaman kemenyan yang bercampur dengan enzim dan lilin sarang lebah. Berbeda dengan produk propolis lainnya, stypro secara spesifik memiliki kandungan senyawa fitokimia resin kemenyan yang menyehatkan berupa 50% senyawa flavonoid dan asam fenolat, 10% minyak aromatik, dan 5% berbagai senyawa organik.

“Setelah dianalisa kandungan fitofarmaka yakni flavonoidnya, jauh lebih baik dari propolis import,” jelas Dr. Aswandi, inventor stypro, peneliti BP2LHK Aek Nauli, kepada para awak media dan peserta Media Visit Wisata Ilmiah KHDTK Aek Nauli Toba, Kamis (2/5) di Aek Nauli. Stypro ini mempunyai  khasiat antimikroba, antivirus, dan antikanker,” lanjutnya.

Lebih lanjut dijelaskannya  bahwa sebagian besar kebutuhan propolis di Indonesia dipenuhi dari impor.  Oleh karenanya kehadiran stypro ini dapat berkontribusi pada penyediaan bahan baku propolis dari dalam negeri, baik dari kuantitas maupun kualitas karena kandungan gizi yang tidak kalah dengan produk impor.  Dengan demikian akan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. 

Peluang Pengembangan Stypro di Tapanuli

Stypro adalah inovasi riset pertama yang mengintegrasikan khasiat propolis serta resin kemenyan melalui budidaya lebah trigona pada hutan rakyat di Tapanuli.  Kemenyan (Styrax spp.) sampai saat ini masih dibudidayakan secara luas di daerah Tapanuli.  Ini sangat potensial  sebagai sumber pakai lebah trigona. Selain itu, teknik budidaya yang relatif sederhana, harga jual dan permintaan yang tinggi juga merupakan kekuatan dan peluang pengembangan stypro melalui budidaya kemenyan dan lebah trigona di Tapanuli.

Lebah trigona menghasilkan propolis lebih banyak dibanding lebah lainnya. Lebah ini mudah beradaptasi, tidak mudah lari, bertubuh kecil dan tidak menggigit (menyengat) sehingga mudah dipelihara. Jika sumber pakan lebah apis sebagian besar adalah nektar, pakan lebah trigona adalah resin yang relatif tersedia sepanjang tahun di Tapanuli.

Setiap koloni trigona menghasilkan 30-70 g propolis setiap dua minggu. Sementara madunya dapat dipanen setiap 3 bulan.  “Biasanya dari pemasangan topping, 3 bulan berikutnya bisa panen. Dari setiap stup, panen madunya bisa 1 liter. Kita memanennya menggunakan alat hisap,” jelas Aam Hasanuddin, S.Hut., teknisi BP2LHK Aek Nauli kepada para peserta media visit yang sangat antusias mencoba menghisap madu dari sarang trigona.

Pemanenan dan pengolahan pasca panen madu trigona jauh lebih sederhana dibanding dengan madu apis. Cukup dengan menggunakan pisau untuk memanen madu sarang. Sementara untuk memanen propolis, yaitu dengan mengikis propolis di sekitar pintu kayu atau mengambil sarang yang telah dipanen madu dan polennya.

Informasi detil mengenai lebah madu ini dapat dilihat di galeri lebah BP2LHK Aek Nauli.  Disini pengunjung dapat mengamati berbagai macam peralatan pemanenan lebah madu dan berbagai produk lebah madu. Pengunjung juga akan disuguhi atraksi pemanenan madu lebah serta terlibat langsung dalam kegiatan pemanenan madu serta mencicip madu hasil panen.

Dari Tapanuli Menuju Jerman

Sebagai produk PUI, stypro ini telah lolos seleksi hilirisasi produk PUI 2019 yang diselenggarakan Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristek DIKTI. Oleh karenanya, stypro bersama dengan tobarium ini akan tampil di Indonesia Innovation Day (IID) yang digelar di Jerman, pada Juni 2019 mendatang.

Indonesia Innovation Day merupakan salah satu upaya untuk mendukung peningkatan kapasitas lembaga PUI dengan menampilkan 20 produk litbang unggul nasional yang potensial dihilirisasi. Produk-produk tersebut hasil kompetisi dari sekitar seratus produk riset yang diikuti oleh hampir seluruh lembaga PUI. Produk ini lolos seleksi Hilirisasi Produk Unggulan PUI 2019, berdasarkan surat pengumuman Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti tanggal 21 Pebruari 2019. Oleh karenanya mendapat kesempatan untuk tampil di ajang internasional tersebut.

Informasi di atas menunjukkan potensi wisata ilmiah yang besar di KHDTK Aek Nauli. Selain atraksi panen propolis dan madu lebah, wisatawan juga dapat menyaksikan beragam lainnya seperti atraksi penyadapan getah pinus dan kemenyanatraksi gajahmemanggil siamang dan banyak lagi. Dengan konsep edutainment, pengunjung dijamin akan merasa sangat terhibur sekaligus teredukasi dengan obyek-obyek wisata ilmiah di kawasan ini.*(DP) 

 

Informasi lebih lanjut, reservasi atau pemesanan produk:
Koperasi Pengawai Negeri (KPN) Sylva - BP2LHK Aek Nauli
Jln. Raya Parapat Km. 10,5, Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara 21174
Kontak person an. Ruth (HP 0813-9785-0441) atau Komala/Yessi (HP 0811-6194-222)