KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Risda Hutagalung - 12. April 2019 - 744 klik

Tungku Arang Terpadu, Teknologi Ramah Lingkungan Akan Diterapkan di KHDTK Parungpanjang

BP2TPTH (Bogor, April 2019)_Tungku arang terpadu, sebuah alat inovasi Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) telah tiba di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Parungpanjang, Jumat (15/3/2019 lalu). Teknologi ramah lingkungan ini akan diterapkan di KHDTK Parungpanjang.

Mulai dikembangkan dari tahun 80-an, dengan pembaruan, penelitian dan inovasi yang terus dilakukan, saat ini semakin banyak pihak yang telah menggunakannya, baik skala kecil maupun skala besar oleh perusahaan. Salah satu inovasi terbaru dari alat yang ada saat ini yakni asap cair.

“Arang hasil produksi alat ini bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak, bisa juga untuk pencampur kompos, sehingga disebut arang kompos bio aktif (arkoba), bisa digunakan langsung maupun di buat dalam bentuk briket,” kata Gusmalina, peneliti P3HH saat mengantarkan tungku arang terpadu tersebut ke KHDTK Parungpanjang.

“Sedangkan asap cair digunakan sebagai pupuk (NPK) walaupun kadarnya tidak terlalu banyak, jadi bisa untuk hormon tumbuh karena ada turunan asetatnya, juga bisa untuk bio pestisida, menggantikan pestisida kimia,” tambah Gusmalina menjelaskan.

“Mengapa disebut tungku arang terpadu?, karena dalam proses pembuatan dan penggunaannya semua dilakukan secara terpadu,” jelas peneliti ahli utama ini lagi.

Gusmalina menjelaskan, dengan biaya yang tidak terlalu mahal, apalagi kalau punya bahan (drumnya) sendiri, tinggal menambahkan besi atasnya dan pendinginnya saja bisa bambu maupun stainless steel, sederhana saja, tidak rumit, teknologi ini murah dan ramah lingkungan.

Menurut Gusmalina, jika dipakai secara terus menerus bisa bertahan sampai empat tahun, dengan catatan dijaga dan dipelihara, misalnya diberi naungan, tidak berkarat, yang sering aus duluan adalah bawah drumnya, karena pembakaran.

“Sebagai teknisi, saya sudah kemana-mana untuk memperkenalkan dan merakit alat ini, beberapa kali saya ke perusahaan-perusahaan tambang, mereka punya lahan yang akan direklamasi, dihijaukan kembali, namun sering gagal, tanaman belum bisa tumbuh, dengan alat dan produk ini, tanahnya diolah dan dikembalikan dulu fungsi haranya, arang ini bisa membangun kesuburan tanah, baru kemudian bisa ditanam dan berhasil, bahkan hama tikus juga tidak bisa masuk,” cerita Ali, teknisi senior di P3HH yang merakit tungku arang terpadu.

Di KHDTK Parungpanjang, para petugas lapangan pun sigap mempelajari cara penggunaan dan pemanfaatan tungku arang terpadu.

“Kita akan gunakan arang terpadu ini untuk kompos dan asap cairnya untuk pupuk, skala kecil saja dulu, penggunaan sendiri oleh ketiga petugas kita, sambil nanti ke depannya kita akan ajak petani penggarap yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) KHDTK Parungpanjang untuk membuat pupuk sendiri dan menggunakannya di lahan garapannya masing-masing,” kata Jhonny Holbert, Kepala Balai BP2TPTH kepada Prof. (Riset) Gustan Pari, peneliti utama dari Puslitbang Hasil Hutan, inovator alat ini yang ikut dalam rombongan.

“Harus mulai beralih dari yang kimia ke organik dan ramah lingkungan seperti ini. Juga lebih murah karena alatnya sudah ada, tinggal mencari bahan baku dan membuatnya sendiri. Kalau soal bahan baku tidak perlu khawatir, tersedia melimpah di KHDTK kami (KHDTK Parungpanjang),” tambah Jhonny.***