KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Risda Hutagalung - 12. April 2019 - 224 klik

Mahasiswa STIPER Labuhan Batu Field Trip ke Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, April 2019)_Mengusung program wisata ilmiah dalam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang dikelolanya, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli semakin banyak dikunjungi, baik dari lembaga pendidikan, pemerintahan, maupun perorangan. 2 s/d 3 April 2019 lalu BP2LHK Aek Nauli menerima kedatangan peserta field trip dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Labuhan Batu.

Peserta field trip ini seluruhnya berjumlah 100 orang yang merupakan mahasiswa semester 2 didampingi oleh asisten dosen serta 5 dosen dan staf. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan selama di Aek Nauli diantaranya adalah edukasi budidaya lebah madu, pengenalan jenis pohon dataran tinggi, pembuatan arang kompos dan asap cair, serta tracking

Yusmaidar Sepriani, S.Pd, M.Si, Kepala Program Studi Agroteknologi STIPER Labuhan Batu sebagai pemimpin rombongan berharap agar kegiatan field trip ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mahasiswanya. 

“Harapan kami, selain belajar tentang lebah madu dan juga arang kompos serta asap cair, mahasiswa juga dapat mengetahui morfologi dan habitat tumbuhan dataran tinggi, sehingga kompetensi mahasiswa dapat meningkat dalam mata kuliah botani umum,” kata Sepriani. 

Hari pertama, mahasiswa diajari tentang budidaya lebah madu oleh Aam Hasanudin, S.Hut, teknisi litkayasa BP2LHK Aek Nauli, yaitu mulai dari pengenalan jenis-jenis lebah, kasta lebah, perilaku lebah dalam mencari makanan, pakan lebah, serta produk-produk yang dihasilkan oleh lebah. 

“Lebah mengumpulkan polen (tepung sari) dan nektar (cairan manis pada bunga). Lebah pekerja akan mencari pakan sampai umur sekitar 70 hari, setelah itu lebah mati,” jelas Aam. 

Aam juga mempraktikkan bagaimana caranya memindahkan lebah apis dari glodok ke stup pemeliharaan. Kemudian tidak lupa juga mahasiswa diberikan kesempatan mencicipi madu sarang secara langsung. 

“Madu yang dihasilkan dari lebah apis cukup mahal harganya di pasaran. Selain madu, lebah apis juga menghasilkan propolis yang dapat dijadikan sebagai antibiotik alami,” kata Aam. 

Selanjutnya mahasiswa diberikan pelajaran tentang jenis-jenis pohon dataran tinggi oleh Edi Kuwato. Sambil menyelusuri Arboretum Aek Nauli, Edi menjelaskan satu persatu koleksi jenis pohon yang terdapat di arboretum, diantaranya meranti, pinus, damar, salagundi, atur mangan, kemenyan, sampinur bunga, dan sampinur tali. 

“Meranti batu tumbuh di dataran tinggi, kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan seperti kusen, jendela, serta pintu,” papar Edi. 

Pada hari kedua, mahasiswa diajarkan tentang cara pembuatan arang kompos dan asap cair. Materi pembuatan arang kompos dan asap cair disampaikan oleh teknisi lainnya, Pidin Mudiana, A.Md mulai dari penjelasan tentang bahan baku kayu yang bisa dipakai, proses pembuatan, lama waktu pembuatan, hingga proses pengumpulan hasilnya. 

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan tracking ke puncak panorama Aek Nauli. Pada tracking ini mahasiswa didampingi oleh beberapa orang anggota tim wisasa ilmiah tracking BP2LHK Aek Nauli.***NNN