KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12. March 2019 - 1438 klik

Minyak Atsiri Daun Pinus Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Maret 2019)_Biasanya bagian yang dimanfaatkan dari pohon pinus (Pinus merkusii Jungh. et deVries) adalah batangnya untuk diambil getahnya dan kayunya untuk bahan konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat panjang. Namun, setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata daun pinus pun bisa dimanfaatkan atau disuling menjadi minyak atsiri. 

Minyak atsiri adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan campuran senyawa berwujud cair yang diperoleh dari berbagai tanaman seperti kulit, akar, daun, batang, biji, buah dan bunga dengan cara penyulingan. 

Dari hasil penyulingan yang dilakukan Teknisi Litkayasa Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Hendry E. Simamora, S.Hut, M.Si yang dibantu oleh angggota tim Aek Nauli Beecosystem dan mahasiswa Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) Kehutanan Universitas Syiah Kuala Gayo Lues, diketahui bahwa dengan 3 kg bahan baku daun pinus dan dalam waktu penyulingan sekitar 4 jam, didapatkan minyak atsiri sebanyak 4,6 ml. 

“Ada tiga metode penyulingan, yaitu metode dengan air, metode dengan air dan uap, dan metode dengan uap langsung. Yang kami pakai adalah metode dengan air dan uap. Bahan baku pada metode ini tidak akan gosong, sehingga bisa menghidarkan kerusakan pada minyak yang dihasilkan. Selain itu bahan bakar menjadi lebih hemat dan rendemen minyaknya juga lebih banyak dibandingkan dengan metode air saja,” jelas Hendry. 

Menurut Hendry, proses penyulingan (destilasi) yang dilakukan untuk menghasilkan minyak atsiri daun pinus tersebut adalah dengan cara meletakkan bahan baku di atas rak-rak atau saringan berlubang. Ketel suling diisi air sampai permukaan air berada tidak jauh di bawah saringan. Dengan metode ini uap selalu dalam keadaan basah, jenuh, dan tidak terlalu panas, serta bahan baku yang disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas. 

“Yang perlu kita perhatikan juga supaya kualitas minyaknya tetap terjaga, yaitu ketelnya harus terbuat dari bahan anti karat seperti stainless steel, tembaga atau besi berlapis aluminium,” tambah  Hendry. 

Mendukung hal tersebut, Kepala BP2LHK Aek Nauli, Pratiara, S.Hut, M.Si menegaskan bahwa memang hingga saat ini bahan-bahan minyak atsiri yang ada di pasaran masih diperdagangkan sebagai bahan mentah. “Karena itu, melalui teknologi sederhana seperti penyulingan, bahan-bahan tersebut dapat dibuat menjadi minyak atsiri yang harganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan diperdagangkan dalam bentuk bahan baku,” kata Pratiara. 

Lebih lanjut Pratiara menyampaikan bahwa minyak atsiri daun pinus memang sangat menarik. Selama ini daun pinus bekas penebangan hanya dianggap sebagai limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan ujicoba yang dilakukan tentunya ada peluang bagus yang bisa dikembangkan. 

“Saya pikir belum ada atau masih jarang yang menyuling daunnya menjadi minyak atsiri, padahal minyak daun pinus ini bisa juga dimanfaatkan sebagai anti bakteri, obat, dan juga untuk relaksasi,” kata Pratiara. 

Menurutnya, dari ujicoba penyulingan, minyak atsiri daun pinus yang dihasilkan memang sedikit, karena bahan bakunya yang dipakaipun masih sedikit. Tapi dengan memanfaatkan potensi tegakan pinus di KHDTK Aek Nauli yang luas, Pratiara yakin hasilnya nanti pasti lumayan. Apalagi jika yang dipakai tidak hanya daun segar, tapi juga memanfaatkan daun kering yang jatuh. 

“Tentu hal tersebut sangat bermanfaat dibanding hanya dibiarkan menjadi serasah dan menjadi penghambat pertumbuhan tanaman lain akibat zat alelopati yang dimilikinya,” pungkas Pratiara. 

Sebagai informasi, bulan November tahun lalu BP2LHK Aek Nauli mendapatkan hibah alat suling minyak atsiri portable (skala lab) dari peserta field trip Konferensi Nasional Minyak Atsiri (KNMA) 2018. Alat suling tersebut telah dimanfaatkan oleh peneliti dan teknisi BP2LHK Aek Nauli untuk membuat minyak atsiri dari beberapa tanaman berpotensi penghasil minyak atsiri yang ada di KHDTK Aek Nauli, seperti rasamala, sereh wangi, kayu putih dan lavender inggris, serta pinus yang dominan di kawasan tersebut.***MB