KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Master Administrator - 27. February 2019 - 2290 klik

Tanam Benih Unggul Kayu Putih, Pendapatan Petani di Biak Meningkat

Biotifor (Yogyakarta, Februari 2019)_Benih unggul kayu putih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi) hasil pemuliaan yang dilakukan peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH), Yogyakarta, terbukti layak dikembangkan dalam skala luas. Ini didasarkan atas capaian pilot project pengembangan kayu putih di KPHL Biak Numfor, Papua, yang mampu meningkatkan pendapatan petani di sana.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Anto Rimbawanto dkk, peneliti pada B2P2BPTH, dalam kegiatan pemaparan hasil kegiatan pengembangan yang dilakukan timnya, di kantor B2P2BPTH, Yogyakarta (26/02). Keberhasilan ini, menurut Anto, ditinjau dari 2 aspek, yaitu pertumbuhan tanaman dan rendemen minyak kayu putih, serta dampak ekonomi bagi petani yang mengelola kebunnya.

Baca juga: Kayu Putih Yogya Menuju Tanah Papua

Kondisi tanah dan iklim di KPHL Biak Numfor, Papua yang sesuai bagi pertumbuhan kayu putih, telah memungkinkan pemanenan perdana daun kayu putih dilakukan umur tanaman 18 bulan. Berat biomassa daun yang diperoleh rata-rata 9 kg/pohon, dengan rendemen minyak 1%, dan kadar cineole diatas 60%. Rendemen ini akan meningkat setelah pohon berumur 2 tahun. Kondisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan menggunakan benih biasa. Rendemennya sekitar 0,5% dan kadar cineole dibawah 50%.

Sementara dari sisi petani, mengelola kebun kayu putih ternyata mampu mengubah kehidupan mereka. Moses Ronggeare dan Issac Warnares, anggota Kelompok Tani Kovarwis di Kampung Rimbajaya Biak, menceritakan bahwa sejak menanam kayu putih dikebunnya, ia tak lagi menebang pohon di hutan. Kehidupan ekonomi mereka pun meningkat.

“Saya berhenti total menebang pohon. Saya menanam kayu putih sebanyak 3000 pohon. Dari hasil menyuling daun kayu putih, hidup saya sangat berubah menjadi lebih baik. Saya bisa menguliahkan anak saya, ibu sekarang punya warung dan sekarang saya punya tabungan di Bank Mandiri 11 juta,” kisah Moses antusias kepada Anto, saat ditemui dikebunnya baru-baru ini. Bukan rahasia, bahwa sebagian besar masyarakat di desanya dahulu adalah penebang pohon.

“Saya mengucapkan terimakasih sekali kepada KPH Biak Numfor dan Balai Besar di Jogja,” lanjut Moses.

Demikian pula yang dirasakan Issac Warnares. “Dulu saya berkebun dengan berpindah pindah. Tetapi sekarang setelah ada penanaman kayu putih, saya berkebun di satu lahan saja karena saya bisa panen setiap tahun. Dari hasil penyulingan saya bisa membiayai anak saya sekolah. Saya bisa menabung,” jelasnya.

Menurut Anto, kebun kayu putih di Kampung Rimbajaya ini berpotensi memberikan pendapatan yang sangat baik bagi kelompok tani Kovarwis. Dengan jumlah pohon siap panen sebanyak 12.000 pokok, potensi daun yang dapat dipanen sebesar 4 kg x 12.000 = 48 ton setiap panen. Dengan rendemen minyak sebesar 1.3%, dapat dihasilkan minyak kayu putih sebanyak 624 kg, atau setara dengan hampir Rp. 125 juta. Pemanenan daun dapat dilakukan setiap 6-9 bulan. Sementara ini, hasil minyaknya dibeli oleh KPHL Biak Numfor, dan sebagian lainnya dipasarkan langsung oleh anggota kelompok tani ke pasar setempat.

Anto berharap keberhasilan pengembangan kayu putih skala kecil di Biak ini dapat direplikasi pada desa-desa lain di Indonesia. Ini diyakini akan mampu berkontribusi mengurangi impor minyak subtitusi ekaliptus dari China.  Kebutuhan minyak kayu putih Indonesia selama ini sebanyak 3.600 ton/tahun. Kemampuan produksi dalam negeri hanya 600 ton/tahun, sisanya 3.000 ton/tahun dipenuhi dari impor.

“Tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak kayu putih yaitu perbaikan mutu genetik tanaman, dengan menggunakan benih unggul, ekstensifikasi tanaman dengan perluasan areal tanaman kayu putih serta revitalisasi dan modernisasi industri penyulingan,” pungkas Anto.

Baca juga: Benih Unggul Kayu Putih B2P2BTPH Dikembangkan Secara Komersial

Oleh karena itu, B2P2BPTH Yogyakarta gencar melakukan pengembangan industri minyak kayu putih dengan berbagai skema. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan produksi dalam negeri, dengan menggunakan benih unggul kayu putih hasil pemuliaan para peneliti B2P2BPTH.

Skema pengembangan kayu putih yang telah dilakukan saat ini adalah kerjasama dengan industri skala besar seluas 4.000 ha dengan PT. Sanggaraggo Karyapersada, di Kabupaten Bima, NTB. Kedepan akan dikembangkan skema inti-plasma antara petani dengan industri minyak kayu putih yaitu PT. Eagle Indho Pharma (Cap Lang) di beberapa lokasi.

Keberhasilan pilot project pengembangan kayu putih skala kecil di Biak Numfor tidak terlepas dari kolaborasi dengan KPHL Biak Numfor, Kelompok Tani Kovarwis, dan Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Maluku Papua yang memberikan bantuan  alat suling dan tentunya partisipasi yang baik dari masyarakat setempat.*(PK)

 

Informasi lebih lanjut:
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 15, Purwobinangun, Yogyakarta 55582, Telp. (0274) 895954, Faks. (0274) 896080
url : http://biotifor.litbang.menlhk.go.id
atau http://www.biotifor.or.id