KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Master Administrator - 08. February 2019 - 1621 klik

Budidaya Jamur Tiram, Berpotensi Sukseskan Implementasi REDD+ di Meru Betiri

BLI (Bogor, Januari 2019)_Budidaya jamur tiram di kawasan uji coba implementasi REDD+  Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dinilai mampu memberikan dampak positif. Pendapatan masyakarat diketahui meningkat, sementara ketergantungan mereka pada lahan hutan menurun. Ini berpotensi menyukseskan implementasi REDD+ di kawasan tersebut, menurut hasil kajian terbaru Puslitbang Sosial Ekonomi dan Perubahan Iklim (P3SEKPI).

Dalam satu periode budidaya, para pembudidaya jamur  tiram di Desa Curah Nongko Kabupaten Jember ini mampu mengais keuntungan kotor rata-rata sebesar Rp. 7.250.000,- per bulan. Ini diperoleh dari 10.000 log jamur dengan kemampuan produksi 60-80 kg per hari dan harga jual Rp 10.000,- per kg pada tahun 2014 saat penelitian ini dilakukan, menurut informasi yang dirilis dalam Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Volume 15 No.3 2018.

Baca juga: Implementasi REDD+ di Taman Nasional Meru Betiri dengan Dukungan Budidaya Jamur Tiram oleh Masyarakat

Kondisi ini tentu cukup menjanjikan, menurut Ari Wibowo, peneliti P3SEKPI yang melakukan kajian tersebut. Apabila disandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat di sana pada tahun 2014 yang berkisar Rp1.154.000,- sampai Rp1.839.000,- per orang per bulan, maka pendapatan dari budidaya jamur tiram tersebut lebih besar.

“Budidaya jamur ini adalah upaya untuk mengalihkan ketergantungan masyarakat pada hutan,” jelas Ari di Bogor baru-baru ini. Meru Betiri, meski merupakan kawasan hutan konservasi, tidak luput dari ancaman penebangan dan perambahan liar. Situasi ini, menurut laporan TNMB 2013, berkontribusi  pada terjadinya degradasi  hutan pada kawasan taman nasional tersebut.

“Kami melihat budidaya jamur ini berpotensi mendukung suksesnya implementasi REDD+ di Meru Betiri,” ungkap Ari.  Namun secara keseluruhan, keberhasilan REDD+ di sana harus dibuktikan dengan analisis akhir apakah telah terjadi penurunan emisi akibat menurunnya laju deforestasi dan degradasi di kawasan hutan.

Kegiatan budidaya jamur tiram ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat dalam kerangka uji coba implementasi REDD+ di TNMB. Pemilihan kegiatan budidaya jamur di lokasi ini selain mempertimbangkan antusiame masyarakat, kemudahan hal pemasaran dan teknik budidayanya, juga secara teknis tidak memerlukan lahan yang luas.

Dalam pelaksanaannya, sosialisasi, pelatihan dan bantuan pengembangan dilakukan secara kerjasama antara P3SEKPI dan Balai TNMB serta melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) LATIN dan juga LSM Kail selaku mitra lokal dalam hal pendampingan masyarakat. Sedangkan mitra luar negerinya, International Tropical Timber Organization (ITTO) yang menyediakan pendanaan bagi program pemberdayaan tersebut.

Baca juga: REDD+ di Indonesia Harus Mempertimbangkan Kesejahteraan dan Kepentingan Masyarakat Lokal

Perlu diketahui bahwa sekitar 46% dari angka desa tertinggal di Indonesia, berada di sekitar kawasan hutan. Dimana mayoritas mata pencaharian masyarakat di desa tersebut tergantung pada hasil hutan. Oleh karena itu, pengelolaan hutan, termasuk program REDD+ harus mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.*(RAH)

Informasi lebih lanjut:

Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI)

url : http://sekpi.litbang.menlhk.go.id

atau  http://www.puspijak.org

Jl. Gunung Batu No. 5, Po.Box. 272,  Bogor 16110, Telp. 0251 - 8633944, Fax.  0251 – 8634924

e-mail: puspijak.online@gmail.com