KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 04. February 2019 - 1650 klik

Kopi Aroma Kemenyan, Kemenyan Aroma Kopi, Mungkinkah?

BP2LHK Aek Nauli (Sipahutar, Januari 2019)_Kopi dan kemenyan adalah dua komoditi andalan Indonesia yang masing-masing memiliki aroma yang khas. Bagaimana jadinya kalau kopi beraroma kemenyan, atau kemenyan beraroma kopi, mungkinkah? Ini menjadi perbincangan menarik dalam kunjungan lapangan tim Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli bersama PT. Toba Pulp Lestari (TPL) dalam rangka monitoring dan evaluasi (monev) kerjasama penanaman kemenyan di sekitar areal konsesi PT. TPL sektor Habinsaran dan sektor Aek Raja, 17-18 Januari 2019 lalu. 

Menurut Dr. Aswandi, peneliti BP2LHK Aek Nauli, bukan tidak mungkin hal itu terjadi. Hal ini mengingat kemampuan menyerap molekul air (hidroskopis) yang ada pada kopi mengakibatkan kopi dapat menyerap karakteristik kelembaban dan aroma yang menyengat yang terhampar di udara, sehingga dapat memengaruhi karakter asli aroma dan rasa biji kopi tersebut. 

"Aroma dan rasa kopi yang dipengaruhi tanaman lain, juga pernah dijumpai pada kebun kopi yang bersebelahan dengan pohon kulit manis seperti di Kerinci. Ini tentu sesuatu yang menarik jika kita hubungkan dengan kesukaan para penikmat kopi terhadap aroma dan rasa kopi yang eksotik,” kata Aswandi. 

Namun, menurutnya, untuk itu semua harus ada penelitian yang lebih terukur. Untuk menentukan penyusun aroma, rasa, dan kandungan dalam kopi dan kemenyan tersebut tidak bisa hanya sekedar dirasakan secara fisik saja tapi juga harus dibuktikan secara akurat di laboratorium. 

“Sehingga ke depannya bisa diperkenalkan, dan jika memang disukai maka bisa menjadi tren baru bagi masyarakat luas,” kata Aswandi menanggapi Kepala Seksi Data, Informasi dan Kerjasama BP2LHK Aek Nauli, Ismed Syahbani, S.Hut yang mengungkapkan sisi lain peluang yang mungkin bisa dikembangkan dari penanaman system agroforestry kemenyan dengan kopi. 

Sama seperti Aswandi, menurut Ismed bukan tidak mungkin nanti bisa juga dilakukan ujicoba jangka panjang terhadap kualitas kopi maupun getah kemenyan yang dihasilkan. 

Pada kunjungan tersebut, Aswandi menyampaikan bahwa penanaman pohon kemenyan di sela-sela tanaman pertanian atau perkebunan (agroforestry) seperti kopi merupakan salah satu strategi yang bagus. 

Dari lokasi yang dikunjungi pada kegiatan monev ini, terdapat dua lokasi yang penanaman pohon kemenyannya dilakukan di sela-sela tanaman kopi arabika di kebun milik masyarakat. Pertumbuhan Kemenyan dengan pola campuran tersebut sangat baik, dimana rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter pohon kemenyan melebihi pertumbuhan permudaan di bawah tegakan alaminya. 

“Pertumbuhannya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dua lokasi lain yang ditanam terbuka (tanpa naungan) dan tidak ada tanaman jenis lain. Selain itu agorofestry kemenyan dengan kopi ini juga bisa menjadi solusi pendapatan masyarakat sebelum pohon kemenyan yang ditanamnya siap untuk disadap. 

“Jadi sembari menunggu pohon Kemenyan nya bisa disadap dan menghasilkan getah, petani dapat memanfaatkan hasil pertanian sebagai penunjang perekonomiannya” kata Aswandi. 

Terkait itu, Tagor Manik, Manajer Stakeholder Relation  PT. TPL menjelaskan, pada tahun 2016 lalu, setelah menyeleksi pohon induk kemenyan, bibit hasil perbanyakan vegetatif dari pohon induk tersebut, kami bagikan kepada masyarakat petani di sekitar kawasan konsesi PT. TPL untuk dibudidayakan. 

“Hal ini sebagai bentuk tanggungjawab PT. TPL terhadap kesejahteraan petani di sekitaran kawasan konsesi kami,” kata Tagor. 

Sebagaimana diketahui, dua jenis kopi yang popular, yang biasa dijumpai di Indonesia, yaitu kopi arabika (Coffea arabica) dan kopi robusta (Coffea canephora). Sementara kemenyan yang umumnya ditanam di Indonesia, khususnya Sumatera Utara adalah kemenyan toba (Styrax sumatrana) dan kemenyan durame (Styrax benzoin).***