KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Master Administrator - 04. February 2019 - 1031 klik

Teknik Grass Barrier, Mampu Tekan Laju Erosi di Merapi Hingga 88%

Balitek DAS (Surakarta, Februari 2019)_Teknik konservasi vegetatif dengan rumput penghalang (grass barrier) diterapkan dalam pemulihan lahan yang rusak akibat erupsi Gunung Merapi 2010 silam. Hasil riset menunjukkan, bahwa pemanfaatan grass barrier jenis gamal (Gliricidia sepium sp.) dan akar wangi (Vetiveria zizaniodes sp) yang dikombinasikan dengan pupuk kandang, mampu menekan laju erosi tanah akibat angin di kawasan tersebut hingga 88%.

"Upaya pemulihan lahan yang rusak akibat erupsi Gunung Merapi dapat dilakukan dengan teknik sipil/ mekanik, vegetatif, maupun kimia. Rumput penghalang atau grass barrier dapat digunakan sebagai salah satu metode rehabilitasi lahan secara vegetatif, terutama untuk mencegah timbulnya erosi yang lebih lanjut pada wilayah tersebut," jelas Ir. Beny Harjadi, M.Sc., peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS), baru-baru ini di kantornya.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti Balitek DAS bekerjasama dengan Forum Peduli Lingkungan-Pecinta Alam Lereng Merapi (FPL PALEM) serta Masyarakat Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam Jurnal Agritech Vol 38 (1) 2018, Beny mengungkapkan bahwa kedua jenis rumput, gamal dan akar wangi, sangat efektif menahan laju erosi. Ini terlihat dari laju erosi yang jauh lebih rendah pada plot yang ditanami kedua jenis rumput tersebut, dibandingkan pada plot yang dibiarkan tanpa ditanami rumput.

Metode secara vegetatif ini, menurut Beny, akan lebih optimal dengan pemberian pupuk kandang, untuk perbaikan agregasi tanah. "Dengan semakin mantapnya agregasi tanah yang ditunjukkan dengan struktur tanah yang semakin matang dan tidak mudah lepas, tanah tidak mudah dipindahkan oleh pengaruh erosi angin," terangnya.

Selain itu, sangat disarankan menggunakan rorak yang berasal dari ember plastik yang terukur, dibandingkan menggunakan rorak plastik maupun stik. Hal ini, selain karena lebih awet, juga lebih akurat dan mudah dalam melakukan pengamatan laju erosi pada suatu lahan.

Diketahui bahwa bencana Gunung Merapi pada 2010 lalu telah memuntahkan 130 juta m3 material gunung api. Kondisi ini menimbulkan kerusakan berat pada lahan sekitar Gunung Merapi yang berdampak pada kesuburan lahan. Selain itu, pasca erupsi Gunung Merapi, pengaruh angin menyebabkan adanya alur aliran/ pengikisan/ erosi tanah permukaan yang menyebabkan berpindahnya partikel tanah dari lereng atas ke lereng bawah.

Baca juga: Inisiasi Pengelolaan Merapi, Rehabilitasi Pasca Erupsi

Beny berharap dengan rehabilitasi lahan dengan kombinasi rumput penghalang atau teknik vegetatif dengan pupuk kandang dapat diaplikasi lahan Merapi atau wilayah lainnya pasca erupsi.***


Sumber artikel:
Efektivitas Grass Barrier (Rumput Penghalang) terhadap Pengendalian Erosi Angin di Merapi pada Jurnal Agritech Vol 38 (1) 2018.

Keberhasilan Proses Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah ini dapat dilihat di youtube dengan Judul Rehabilitasi Merapi oleh Tim BPTKPDAS 


Informasi Lebih Lanjut:
Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS)
Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id
Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp. 0271 - 716709, Fax. 0271 – 716959