KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Master Administrator - 21. January 2019 - 2700 klik

Jadilah Peneliti Keren, untuk Hadapi Era Industri 4.0

P3SEKPI (Serpong, Januari 2019)_Lembaga riset manapun pasti ingin memiliki tim peneliti yang hebat. Termasuk Badan Litbang dan Inovasi (BLI). Kepala BLI, Dr. Agus Justianto meminta agar para peneliti di jajarannya siap menjadi peneliti yang “keren”. Apalagi saat ini dunia memasuki era Industri 4.0. dan era disrupsi.

Baca juga: Strategi Menghadapi Era Disrupsi

“Keren’ dipinjam dari istilah yang sering digunakan oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya. "Itu istilah yang biasa diucapkan Bu Menteri, kalau mengucapkan sesuatu yang hebat selalu mengucapkan kata keren," ungkap Agus.

Bagaimana peneliti yang keren itu? Agus menyampaikan beberapa kriteria, dihadapan para peneliti BLI dalam acara Pembinaan Tenaga Fungsional Peneliti BLI, Serpong (11/1).

Baca juga: Kepala Badan Challenge Peneliti Rumuskan Inovasi

Pertama, peneliti BLI harus selalu memperhatikan kinerja dan prestasi yang dihasilkan. “Harus tetap luar biasa,” imbuhnya. Untuk itu, perlu disusun perencanaan dan strategi yang baik dan tepat untuk mencapainya.

Dengan demikian, maka output yang dihasilkan dapat tetap memenuhi kriteria scientifically trustable (dapat dipercaya secara keilmuan), economically visible (nyata secara ekonomi), socially acceptable (dapat diterima secara sosial), dan environmentally suitable (sesuai dengan prinsip lingkungan).

Kedua, peneliti BLI harus dapat menjaga dan meningkatkan kepercayaan pihak di luar BLI. Secara serius Agus meminta peneliti untuk bersikap responsif terhadap kepentingan-kepentingan eselon satu lain, pengguna di dalam negeri (kepercayaan publik) hingga mitra dan pengguna di luar negeri. Caranya adalah dengan lebih membuka diri dan mendengar kebutuhan, terutama dari para decision maker (pembuat kebijakan) serta meningkatkan jejaring kerja dan menjadi leader dari jejaring yang dimiliki.

Ketiga, peneliti BLI dapat meningkatkan kontribusi (in charge) terhadap proses-proses pengambilan kebijakan, khususnya di KLHK. Termasuk penyadaran publik atas hasil-hasil litbang.  BLI harus dapat tetap menjadi 'policy think tank'-nya KLHK serta pemberi pendapat secara scientific point of view. Dengan demikian maka dapat dihasilkan kebijakan-kebijakan yang bersifat research based policy (kebijakan yang didasarkan pada hasil-hasil penelitian) dan evidence based policy (kebijakan yang didasarkan pada bukti-bukti).

Keempat, peneliti BLI diharapkan dapat bersikap cepat tanggap dan responsif. Apalagi mengingat Menteri Siti Nurbaya selalu menekankan kepada jajarannya, bahwa diperlukan mereka-mereka yang dapat memberikan masukan secara cepat dan responsif. Dan sebagai pemegang mandat serta tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sebagai penyedia informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang LHK, tentunya hasil BLI sangat dibutuhkan, baik oleh eselon satu KLHK maupun di luar KLHK.

Harapannya, BLI selalu dapat berkontribusi pada pencapaian rencana strategis KLH.  Dan itu berarti, peran peneliti BLI semakin strategis, untuk meningkatkan kualitas fungsi BLI sebagai 'leading the way' terhadap program-program KLHK.*(BKS)