KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 05. December 2018 - 37 klik

Analisis dan Monev Proses Bisnis Penting Jadikan Lembaga Lebih Kompetitif

Balitek DAS (Surakarta, November 2018)_Wakil Direktur Lembaga Litbang pemerintah, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Yudho Baskoro Muriado, S.Sos., M.Si., MPP. menyarankan semua lembaga, terutama lembaga litbang sebaiknya membuat proses bisnis untuk mengetahui posisinya saat ini dan mempermudah perencanaan kegiatan ke depan.

Hal ini dikemukakan Yudho  dalam arahannya pada acara Monitoring dan Evaluasi (monev) Pusat Unggulan Iptek (PUI) Mitigasi Bencana Berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) di ruang rapat Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS), Senin (5/11/2018).

“Proses bisnis merupakan kumpulan kegiatan atau pekerjaan yang terstruktur yang saling terkait untuk menghasilkan produk unggulan. Diharapkan dengan adanya proses bisnis ini, lembaga litbang dapat memonitor kegiatan risetnya serta menghasiilkan produk yang dapat bersaing dan bisa lebih dimanfaatkan oleh pengguna,” kata Yudho.

Business Process (proses bisnis) dalam prosesnya sebaiknya dilakukan analisis dan monev agar on the track," tambah Yudho.

Lebih lanjut, Yudho menjelaskan bahwa proses bisnis tersebut terdiri dari beberapa tahapan/proses, yaitu komponen input/ sumber daya yang dimiliki); fokus riset; pelaksanaan riset yang berpedoman pada roadmap;proof of concept  (hasil penelitian); prototipe (policy brief dan lain-lain); end product (buku, teknologi); pengguna (market). Dengan proses tersebut, dapat dilihat kegiatan satu riset sampai tahap apa, sehingga bisa untuk proses perencanaan dan pengembangan ke depan agar produk riset bisa dimanfaatkan oleh pengguna.

“Komponen input tersebut diterjemahkan dalam masing-masing kelti (kelompok peneliti) dengan ruang lingkup unggulan, misal bencana hidrometeorologis sehingga menghasilkan suatu prototipe. Tahap ini (prototipe) merupakan proses uji coba untuk mengetahui apakah riset sudah bisa menghasilkan end product  yang bisa diaplikasikan oleh pengguna. Apabila belum, maka perlu perencanaan untuk penyempurnaan atau pengembangan,” kata Yudho.

Yudho juga menyatakan bahwa dengan proses bisnis, lembaga bisa menyusun strategi untuk mengangkat produk mana yang akan diangkat dan diprediksi. Dalam hal ini, lembaga harus menyusun rumusan strategi yang merupakan langkah awal. Rumusan strategi ini berbeda program kerja. Rumusan strategi seperti tersirat dalam rencana strategi (Renstra).

“Biasanya strategi bagus, output bagus, itu idealnya. Namun ketika strategi bagus tapi output tidak bagus berarti terkendala waktu. Jangan sampai strategi tidak bagus tapi hasil bagus berarti ada yang aneh,” lanjut Yudho.

Terkait output atau produk riset, Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si., Ketua Pusat Studi Bencana (PSBA) menyarankan bahwa output atau produk riset sebaiknya tidak hanya diakui oleh nasional maupun internasional tetapi juga harus dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini tidak kalah penting, terutama masyarakat  dapat memanfaatkan dengan baik dan berkelanjutan.***

 

Informasi Lebih Lanjut:

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS)

Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 – 716959