KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 04. December 2018 - 50 klik

Monitoring dan Evaluasi Pasca Pelatihan Budidaya Kemenyan di Tapanuli Utara

BP2LHK Aek Nauli (Pangaribuan, Desember 2018)_Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan penerapan pelatihan budidaya kemenyan yang diadakan di Desa Purba Tua dan Desa Najumambe pada bulan September 2018 lalu, Sabtu (1/12/2018) Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Pangaribuan, Tapanuli Utara melakukan monitoring dan evaluasi (monev). Jika belum sepenuhnya berhasil, melalui kegiatan ini diharapkan dapat diketahui apa yang menjadi masalah atau kendala di lapangan, sehingga dapat dicari solusi penanganannya.

Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli yang menjadi narasumber saat pelatihan, ikut terlibat. Seorang peneliti, Dr. Ahmad Dany Sunandar, S.Hut, M.Si dan seorang teknisinya, Dodo Ahmad Suhada ditugaskan dalam kegiatan ini.

“Terima kasih kepada pihak BKAD Kec. Pangaribuan dan BP2LHK Aek Nauli yang sudah bersedia melaksanakan kegiatan monev ini. Jadi para peserta tidak merasa dilepas begitu saja setelah setelah pelatihan, tetapi tetap dibimbing dan diberikan kesempatan untuk berkonsultasi,” kata Ronal M. Simatupang, Kepala Desa Purba Tua dalam sambutannya mewakili Camat Pangaribuan.

Ronal M. Simatupang menyampaikan bahwa penerapan atau praktik budidaya kemenyan di lapangan pasti menemui beberapa kendala, namun harapannya kendala tersebut tidak dijadikan suatu hambatan yang membuat para peserta pelatihan jadi malas atau tidak mau lagi menerapkan pelatihan yang sudah diberikan.

“Saya juga berharap permasalahan bapak/ibu peserta di lapangan bisa disampaikan kepada narasumber kita dari BP2LHK Aek Nauli, sehingga bisa dicarikan solusinya,” lanjut Simatupang.

Dalam kesempatan ini, Dany, peneliti BP2LHK Aek Nauli menyampaikan secara singkat materi tambahan tentang budidaya, potensi pemanfaatan, pemasaran, dan permasalahan kemenyan.

“Kami datang kesini untuk berbagi pengetahuan tentang penelitian kemenyan yang sudah lama kami lakukan. Untuk di lapangan sendiri mungkin BapakIibu ada yang lebih berpengalaman dari kami, tapi kalau Bapak/Ibu mau tahu cara penentuan dan perlakuan terhadap pohon induk, perlakuan terhadap biji yang akan disemaikan, berbagai cara membuat bibit, serta hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman kemenyan, kami bisa mengajarkan,” kata Dany.

“Untuk masalah pemasaran, mungkin bisa juga kemenyannya dijual lewat internet. Bapak/Ibu bisa secara berkelompok membuka toko secara online. Jadi harganya bisa disesuaikan tanpa dipengaruhi oleh pengumpul atau tengkulak lagi,” tambah Dany.

Setelah pemberian materi, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi yang diikuti oleh sekitar 40 orang peserta dengan antusias. Salah seorang peserta, Sumitro Siregar menanyakan bibit dari hasil apa yang paling bagus serta bagaimana cara membasmi benalu yang sering tumbuh di pohon kemenyan.

“Masing-masing bibit terdapat keunggulan dan kekurangan. Contohnya, kalau dari stek bibitnya bagus karena sama dengan indukan, tapi persentase tumbuhnya kecil. Kalau biji, batangnya nanti kuat tapi lama tumbuh tunas bibitnya. Jadi tergantung Bapak Ibu mau pakai bibit yang mana. Sedangkan untuk penanganan benalu, memang belum ada cara yang baku, jalan satu-satunya adalah dengan memotong dan membuang benalu tersebut dari seluruh pohon yang terserang,” jelas Dany menanggapi.

Setelah diskusi, Dany yang didampingi teknisinya, Dodo melakukan kunjungan ke tempat praktik pembuatan bibit. Di lokasi ditemukan beberapa hal yang perlu diperbaiki dan disesuaikan, antara lain tentang kualitas bibit cabutan, ukuran polybag, serta beberapa hal teknis lainnya.

“Bibitnya kurang bagus, harusnya bibit cabutan yang diambil itu tingginya berkisar 10 cm dan punya maksimal 4 daun; tinggi sungkup juga harus ditambah supaya tidak kena bibit; usahakan bibit tidak terkena matahari sore hari secara langsung; serta ukuran polybagnya perlu diperkecil supaya nanti Bapak Ibu mudah mengangkutnya ke lapangan untuk ditanam,” jelas Dodo kepada peserta.

Diakhir kegiatan, Ismed Syahbani, S.Hut, Kepala Seksi Data, Informasi, dan Kerjasama BP2LHK Aek Nauli yang juga hadir menyampaikan harapannya agar para peserta bisa serius dan terus berusaha menerapkan pelatihan yang sudah diberikan.

“Kegiatan pelatihan perlu diterapkan dengan serius. Sebagus dan selama apapun pelatihan diberikan, kalau Bapak Ibu tidak serius dan tidak mendukung, maka hasilnya pasti tidak maksimal. Kami memang belum punya cara untuk membuat harga kemenyan meningkat dan stabil, karena itu diluar kendali kami. Tapi jika ada kendala, kami selalu terbuka untuk bapak ibu bertanya. Silahkan kontak peneliti kami, atau bisa langsung datang ke balai untuk konsultasi,” tutup Ismed.***MB