KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 09. October 2018 - 121 klik

Kiat Menulis dan Menerbitkan Karya Tulis Ilmiah

BP2LHK (Aek Nauli, Oktober 2018)_”Karya Tulis Ilmiah (KTI) hasil litbang dan inovasi memerlukan sistem informasi dan komunikasi yang efektif dan mudah diakses sehingga tercapai peningkatan outcome dan penerapannya,” kata drh. Pujo Setio, M.Si, Direktur Forda Press dalam pelatihan bertema “Kiat Menulis dan Menerbitkan Karya Tulis Ilmiah” di Aula Perpustakaan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Kamis (4/10/2018).

“Selain harus dapat ditingkatkan pemanfaatan dan penerapannya, KTI juga harus memiliki nilai jual yang tinggi dan bersifat kompetitif,” lanjut Pujo.

Pratiara, S.Hut, M.Si, Kepala BP2LHK Aek Nauli dalam sambutannya berharap dengan adanya pelatihan ini, para peneliti dan teknisi semakin paham dan dapat mengaplikasikan penulisan KTI dengan benar.

Dalam pelatihan ini, Pujo memaparkan materi tentang Strategi Penyusunan dan Penerbitan Buku dalam Rangka Aktualisasi Karya Ilmiah dan Teknis Penulisan Artikel dan Korespondensi di Jurnal Ilmiah. “Jangan biasakan menulis apa adanya tanpa usaha untuk menyiapkan tulisan yang baik dan benar,” tutur Pujo.

Menurut Pujo, beberapa hal penting dalam menulis antara lain adalah harus banyak berlatih (practice) dengan penuh kesungguhan, walaupun perlu waktu yang lama (massive). Bila ingin bisa menulis maka banyaklah membaca. Setelah menulis selesai, posisikan diri kita sebagai orang awam dan bacalah kembali tulisan kita. Hal penting lainnya yaitu memberikan kesempatan orang lain membaca tulisan kita dan jangan galau bila pendapat mereka tidak memuaskan.

Para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan yang dilakukan dalam suasana santai dan dijelaskan dengan cara yang menarik. Dalam sesi diskusi, Asep Sukmana, SP, M.Sc, Peneliti Madya BP2LHK Aek Nauli menanyakan bagaimana kiat menulis buku bila terdiri dari beberapa penulis.

“Menulisnya boleh terpisah, tetapi apabila ingin dijadikan buku maka semua penulis harus duduk bersama untuk mencari benang merah, jangan sampai ada tulisan yang sama terulang di bab yang lain. Setiap penulis harus legowo dan sepakat mengenai materi yang akan dibahas,” kata Pujo menanggapi.

Di akhir acara, Ismed Syahbani, S.Hut, Kepala Seksi Data, Informasi dan Kerjasama menyampaikan apresiasinya kepada pemateri dan peserta pelatihan.

“Terimakasih kepada Pak Pujo yang telah menyampaikan materinya. Harapannya peneliti dapat menulis sesuai kaidah-kaidah penulisan KTI dan kepada teknisi semoga dapat memacu semangat untuk menulis artikel dan juga tulisan ilmiah, minimal bisa menulis di website balai,” kata Ismed.***NNN