KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 03. August 2018 - 49 klik

Field Trip Workshop “Remote Sensing for Forest Inventory and Health

B2P2BPTH (Siak, Agustus 2018)_Sebagai rangkaian Workshop “Remote Sensing for Forest Inventory and Health” yang dilaksanakan sehari sebelumnya, peserta workshop mengikuti kunjungan lapangan (field trip), Selasa (31/7/2018). Lokasi yang dipilih adalah plot penanaman akasia milik PT. Arara Abadi di Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Lokasi ini dipilih karena dianggap memenuhi beberapa hal yang disampaikan saat workshop pada hari pertama, seperti adanya serangan penyakit yang terjadi pada tanaman di plot tersebut.

Perjalanan dari kota Pekanbaru menuju lokasi memakan waktu sekitar 2 jam. Pada saat praktek peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan bergantian untuk mendapat 3 materi yang berbeda, dengan durasi masing-masing materi kurang lebih 1 jam.

Materi pertama yaitu penentuan base point control menggunakan GPS. Pada bagian ini peserta diberi pengarahan bagaimana bisa memilih, menentukan titik yang bisa digunakan sebagai ground control. Peserta diajari memasang dan menggunakan GPS untuk penentuan ground control yang bisa direkam oleh kamera drone.

Materi selanjutnya adalah praktik penggunaan drone. Berbekal materi ini peserta dapat menggunakan dan mengoperasikan drone. Drone yang dipakai saat praktik adalah tipe DJI Phantom 4. Hal penting yang harus diperhatikan saat mengoperasikan drone adalah bagaimana melakukan pengaturan dan pengambilan gambar menggunakan kamera yang melekat pada drone.

Materi ketiga adalah disease monitoring. Materi ini diberikan karena workshop ini berupaya untuk mengaplikasikan penggunaan drone pada kegiatan survei kesehatan tanaman.

Menurut narasumber, monitoring manual tetap perlu dilakukan karena penggunaan teknologi untuk monitoring saat ini memiliki keterbatasan dan bias-bias. Pengamatan manual ini diperlukan untuk mengantisipasi bias-bias tersebut. Pengamatan morfologi meliputi scoring gejala/inside (incident), keparahan (severity), dan tipe kerusakan (type of damage).

Data-data dari lapangan tersebut kemudian dibahas pada sesi terakhir. Pada sesi yang dibawakan oleh Matthew Dell dan Colin McCoull, kepada peserta diajarkan bagaimana melakukan data processing, work flows hingga menghasilkan data final.

Menurut salah seorang peserta dari Thailand, Tharnrat Kaewgrajang, field trip ini membuatnya lebih memahami proses bagaimana menggunakan UAV untuk mengevaluasi kesehatan hutan.

Field trip bagus dan menyenangkan, tetapi ada baiknya jika data hasil akhir diberikan beserta modul untuk latihan,” kata Seva, peserta lain dari PT. MHP.***MNA