KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 02. August 2018 - 111 klik

Workshop Penggunaan UAVs untuk Pengendalian Penyakit di Hutan Tanaman

B2P2BPTH (Pekanbaru, Agustus 2018)_Sebagai forum diseminasinya, mitra Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) mengadakan workshop penggunaan low-cost Unmanned Aerial Vehicles (UAVs) atau pesawat murah tanpa awak dalam mengumpulkan data inventarisasi hutan dan pemantauan kesehatan pohon, 30 - 31 Juli 2018 lalu.

Dalam sambutannya di awal acara, peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Dr. Anto Rimbawanto selaku Indonesia Project Coordinator of the ACIAR Project FST/2014/068 mengatakan, Workshop “Remote Sensing for Forest Inventory and Health” ini bertujuan untuk menyajikan contoh-contoh penelitian terkini dalam penggunaan penginderaan jarak jauh untuk aplikasi pengelolaan hutan tanaman.

“Kegiatan ini fokus pada penggunaan low-cost Unmanned Aerial Vehicles (UAVs) atau pesawat murah tanpa awak untuk mengumpulkan data inventarisasi hutan dan pemantauan kesehatan pohon,” kata Dr. Anto di Hotel Grand Elite Pekanbaru, Senin (30/07/2018).

“Workshop ini membahas bagaimana menggunakan teknologi penginderaan jauh terbaru untuk mengendalikan masalah penyakit di hutan tanaman. Saya harap peserta dapat menemukan hal yang bermanfaat dan informatif dari workshop ini,” tambah Dr. Anto.

Beberapa topik yang disampaikan pada forum diseminasi the ACIAR Project FST/2014/068 ini adalah pemetaan dan pemodelan spasial, fotogrametri dan beberapa studi kasus terkait. Hal ini mengingat fokus dari proyek ini adalah untuk memecahkan masalah penyakit di hutan tanaman, khususnya yang disebabkan oleh Ceratocystis.

“Kami memilih Pekanbaru untuk workshop ini karena di Riau terdapat hutan tanaman. Jika Anda ingin tahu tentang hutan tanaman skala besar, manajemen hutan tanaman, litbang hutan tanaman, produktivitas hutan tanaman, hama dan penyakit, industri pulp, dan masalah sosial budaya, Riau adalah tempatnya,” jelas peneliti senior B2P2BPTH itu.

Membuka acara mewakili Kepala BLI , Kepala Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc menyambut baik dilaksanakannya acara ini. Syaiful berharap dapat melihat kontribusi positif untuk pengembangan hutan tanaman tropis yang berkelanjutan di seluruh dunia.

“Saya berharap para ahli dan peserta dapat membuat rekomendasi khusus untuk hutan tanaman yang lebih baik. Saya meyakinkan Anda semua bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah salah satu pemangku kepentingan yang menunggu rekomendasi Anda,” tegas Syaiful.

Empat keynote speaker hadir pada workshop ini, salah satunya adalah Dr. Christine Stone. Ia adalah Peneliti Utama, dan Leader of the NSW Department of Primary Industries Forest Science team. Christine pernah menerima penghargaan tertinggi di bidang kehutanan Australia, yaitu N.W. Jolly Medal, sebagai pengakuan atas komitmen jangka panjang dan kontribusinya yang berkelanjutan untuk penelitian dan pengembangan industri kehutanan di bidang penginderaan jarak jauh dan kesehatan hutan.

Kedua, Dr. Jon Osborn adalah dosen senior bidang survei dan ilmu spasial di Universitas Tasmania. Fokus penelitian Jon adalah aplikasi penginderaan jauh, khususnya fotogrametri dan pemindaian laser. Jon telah memimpin penelitian tentang pengukuran fotogrametri hutan tanaman untuk estimasi inventarisasi di Australia baru-baru ini.

Keynote speaker ketiga, Dr. Colin McCoull adalah konsultan perencanaan lingkungan (Direktur Van Diemen Consulting) dan Asisten Peneliti di University of Tasmania. Penelitian Colin fokus pada penggunaan Sistem Informasi Geografis untuk melacak pergerakan manusia dan aplikasi survei berbasis UAV termasuk UAV berbasis LiDAR dan Fotogrametri, serta penggunaannya di kehutanan.

Keynote speaker terakhir adalah Matthew Dell, pemilik Tasmanian Environmental Consultants. Matt adalah ilmuwan geosaintis dan lingkungan yang memetakan bebatuan, tanah, bentang alam dan lanskap. Matt bekerja di berbagai disiplin ilmu termasuk drone dan fixed wing aerial photography time series, fotogrametri, pemodelan 3D dan DEM generation yang menghasilkan penilaian terperinci lingkungan pesisir dan perkotaan.

Workshop ini dihadiri 70 orang peserta yang berasal dari 7 negara yaitu Australia, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Peserta berasal dari berbagai institusi seperti lembaga penelitian pemerintah, universitas dan perusahaan hutan tanaman. Pada hari kedua, 31 Juli 2018, peserta melakukan fieldtrip ke plot penanaman akasia milik PT. Arara Abadi di Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak.***MNA