KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 01. August 2018 - 109 klik

Ahli Ekologi Gambut dan Guru Besar Van Hall Larenstein University Belanda Kunjungi BP2LHK Banjarbaru

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Agustus 2018)_Ahli ekologi rawa gambut dari Belanda, Dr. Peter Van Der Meer, berkunjung ke Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru, Senin (23/7/2018). Bersama para peneliti BP2LHK Banjarbaru, Dr. Peter yang juga Guru Besar di Van Hall Larenstein University Belanda ini mendiskusikan hasil pengamatannya terhadap Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah yang dikunjungi sebelumnya. 

Menurutnya, potensi regenerasi harus terus diamati, itu sangat penting untuk menentukan cara revegetasi. “Revegetasi skala luas dengan menanam cukup sulit, karenanya bisa dicoba dengan menabur biji jenis pioner di lahan bekas terbakar,” kata Peter memberi masukan untuk pengelolaan KHDTK Tumbang Nusa yang dikelola BP2LHK Banjarbaru.

“Masukan yang sangat bagus, akan kami coba menabur biji jenis pioner, karena itu belum pernah dilakukan,” kata Dr. Dony Rachamanadi peneliti muda BP2LHK Banjarbaru yang konsen terhadap rawa gambut menanggapi.

Peneliti lainnya, Dr. Acep Akbar, peneliti utama yang konsen meneliti kebakaran hutan menyampaikan hasil-hasil penelitiannya terkait kebakaran hutan di KHDTK Tumbang Nusa. Selain itu Tri Wira Yuwati, S.Hut, MSc  Peneliti Madya juga menyampaikan hasil-hasil penelitiannya terkait mikoriza di hutan rawa gambut.

Di sela-sela diskusi dengan para peneliti, Dr. Peter juga menjajaki kemungkinan kerjasama dengan BP2LHK Banjarbaru dalam hal penelitian, magang dan penelitian bagi mahasiswanya. Di samping itu, Dr. Peter juga bersedia memberikan pelatihan tentang penulisan karya tulis ilmiah untuk jurnal internasional terindeks global untuk peneliti BP2LHK Banjarbaru.

Dr. Peter menitikberatkan kemungkinan kerjasama penelitian terkait dengan gambut, terutama model terbaik untuk kebun kelapa sawit di gambut, paludikultur, intercropping sawit dan tanaman kehutanan. Menurutnya, model terbaik ini mencakup kelestarian secara ekologis maupun produksi, baik sawitnya sendiri maupun jenis kehutanannya; dan bagaimana perbandingan antara tegakan murni dengan campuran secara ekologis (biodiversitas, hama penyakit, dll).***