KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 01. August 2018 - 75 klik

Erosi Jurang Turunkan Daya Tampung DTW Wonogiri

Balitek DAS (Solo, Juli 2018)_Erosi jurang merupakan ancaman yang serius di Indonesia, salah satunya di Daerah Tangkapan Waduk (DTW) Wonogiri. Erosi jurang merupakan penyumbang terbesar bagi erosi sedimentasi di DTW Wonogiri yang berpengaruh pada penurunan data tampungnya. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Nur Sumedi, Kepala Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAerah Aliran Sungai (Balitek DAS) Solo pada acara Konferensi Pers Alih Teknologi Pengendalian Erosi Jurang di Hotel Salaview Solo, Selasa,  (24/7/2018). 

"Pertambahan lebar dan kedalaman jurang di DTW Wonogiri rata-rata mencapai 1,35 meter dengan kedalaman mencapai 0,31 meter per tahun. Hal ini berakibat daya tampung DTW Wonogiri mengalami penurunan. Pada tahun 1980, daya tampung DTW Wonogiri sebesar 440 juta m3 menurun menjadi 375 juta m3 pada tahun 2005," kata Sumedi. 

Lebih lanjut, Sumedi menyatakan apabila hal ini tidak segera diatasi maka akan mengakibatkan pendangkalan DTW Wonogiri dan berdampak terjadinya bencana banjir pada musim hujan serta kekeringan pada musim kemarau bagi daerah sekitarnya.

"Erosi jurang ini merupakan pengikisan air pada tanah akibat air hujan. Proses ini lama-kelamaan membentuk jurang-jurang sungai, yang lebarnya terus bertambah yang bisa mencapai setengah meter setiap tahunnya,” kata Sumedi.

Beberapa kerugian yang akan dialami akibat adanya erosi ini antara lain: hilangnya lahan produktif; Terjadi fragmentasi pada lahan sehingga menyulitkan akses dan manajemen; Mengurangi kemudahan dan nilai properti termasuk penghancuran fasilitas pertanian seperti pagar, jalan dan lainnya; Menjadi sumber sedimen bagi bendungan, kolam, saluran air dan saluran irigasi; Penurunan permukaan air tanah setempat (parit-parit menyedot air dari mata air, sumur gali, dan tangan; serta kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, gorong-gorong, bangunan, mengubah transportasi. 

Menurut Sumedi, antisipasi erosi jurang ini dapat dilakukan secara menyeluruh atau dari hulu sampai hilir, tetapi yang sangat diperlukan adalah di hulu sungai. Metode yang efisien dan efektif adalah dengan rekayasa vegetatif atau melakukan penanaman. Namun, proses ini memakan waktu yang cukup lama. 

’Upaya lain yang dilakukan yaitu pembangunan Dam Pengendali (DPn) dan Gully Plug. Tetapi dalam pelaksanaanya masih terkendala masalah teknis sehingga hasilnya tidak atau belum optimal karena dalam pembangunan tidak memperhatikan bentuk jurang dan dibuat tunggal belum paralel,’ tambah Sumedi. 

Menurutnya, konsep pembangunan bangunan tersebut tidak komprehensif, salah satunya tidak memperhatikan aspek tanah. Selain itu juga tidak memperhatikan tipe jurang, padahal tipe jurang sangat banyak jenisnya. 

“Jika tidak sesuai dengan tipe jurang, maka fungsi dan umur dam pengendali tidak optimal disamping mudah hancur rusak,” tegas Sumedi. 

Untuk itulah, Balitek DAS Solo mengadakan Alih Teknologi Pengendalian Erosi Jurang ini. Diharapkan dengan kegiatan ini, kejadian erosi jurang dapat diminimalisir.***EP

Beberapa Hasil Liputan Media dari Konferensi Pers tersebut, yaitu:

  1. https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/107494/erosi-jurang-picu-sedimentasi-sungai\
  2. http://krjogja.com/web/news/read/72789/Erosi_Jurang_Jadi_Masalah_Sedimentasi_Sebabnya_Apa
  3. https://kompas.id/baca/nusantara/2018/07/24/erosi-jurang-sumbang-sedimen-besar-di-waduk-gajah-mungkur/
  4. https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/07/24/pcdhyn366-erosi-jurang-ancaman-serius-di-das-solo

 

Informasi Lebih Lanjut:

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS)

Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 – 716959