KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 27. August 2018 - 189 klik

Dengan Capaian dan Kendala yang Dihadapi, Kepala BLI Dorong BLI Terus Tingkatkan Prestasi

BLI (Bogor, Juli 2018)_Dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dan anggaran lingkup Badan Litbang dan Inovasi (BLI) sampai semester I Tahun 2018, Sekretariat BLI mengadakan rapat di Kampus BLI Gunung Batu, Bogor, Kamis (26/7/2018). Pada acara yang dipimpin langsung Kepala BLI tersebut, masing-masing satuan kerja (satker) menyampaikan progres dan capaian kegiatan, serta kendala yang dihadapi untuk dibahas bersama dan dicarikan solusinya.

Menurut Kepala BLI, Dr. Agus Justianto, dari apa yang dipaparkan, secara umum sudah banyak progres kegiatan litbang yang ditampilkan. BLI mulai mengisi konten eselon 1 lain di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai bentuk kerjasama dengan BLI. Salah satunya, Iptek yang dihasilkan Balai Litbang Teknologi Pengelolan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) Solo telah dimanfaatkan menjadi landasan kebijakan di eselon 1 lain yaitu, Dirjen PDASHL. 

“Oleh karena itu, balai-balai harus terus mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dengan unit teknis KLHK yang ada di tempat masing-masing. BLI harus terus berkolaborasi dengan eselon 1 lain, dimulai dari balai-balai untuk memperkuat eksistensi BLI,” tegas Agus. 

Hal ini penting mengingat BLI menjadi tumpuan Menteri LHK dalam menyediakan data yang valid dan dapat diandalkan, karena berdasarkan hasil riset. Kegiatan pengembangan dan inovasi harus dikedepankan dan dikemas sebagai rekomendasi bahan kebijakan agar litbang menjadi policy think tank di KLHK.

“Apa yang menjadi kebanggaan atau ikon masing-masing balai, kekhususan masing-masing balai bisa menjadi branding, untuk bisa dipasarkan. Dengan branding yang kuat bisa bekerjasama dengan unit-unit eselon 1 lain,” tambah Agus sambil mencontohkan, Balai Litbang LHK Manado dengan Anoa Breeding Centre-nya, prestasinya harus diexplore

“Yang terbaru, tadi malam (Rabu, 25 Juli 2018) anoa lahir di Anoa Breeding Centre Manado. Ini adalah sebuah prestasi dalam konservasi fauna langka, yang dapat membantu Dirjen KSDAE,” kata Agus. 

Menurut Kepala BLI, kinerja yang baik dan prestasi BLI juga harus disebarluaskan melalui media sosial. Selain itu, BLI juga harus tampil dengan hasil yang positif pada panggung internasional. 

Event tanggal 7 Agustus 2018 di Serpong dihadiri Menteri dari Jepang dan Menteri LHK menjadi momentum buat BLI untuk tampil. Tanggal 20 Agustus 2018 akan dilaunching International Tropical Peatland Centre yang diharapkan menjadi centre of excellent litbang gambut kita. Beberapa menteri akan hadir, seperti dari Kongo,” kata Agus. 

“Indonesia memiliki pengalaman di gambut, baik untuk sawit, HTI maupun corrective action yang saat ini dilaksanakan. Dua event tersebut menjadi bendera penting bagi BLI untuk tampil di dunia internasional,” tambah Agus. 

Terkait kendala yang dihadapi dalam penelitian dan pengembangan, salah satunya anggaran yang minim, Agus berpesan kepada seluruh jajarannya, agar tidak perlu takut, melainkan perlu menyikapinya dengan kolaborasi dengan para pihak. 

“Dengan mengeksplor dan memasarkan hasil-hasil litbang, kita dapat melakukan penguatan kelembagaan BLI dengan berkolaborasi,” kata Agus yang juga mengingatkan target pencapaian WTP dengan cara meminimalisir temuan yang akan mempengaruhi  kinerja BLI. 

Beberapa progres kegiatan dari paparan yang disampaikan sebelumnya, yaitu Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta sedang mengembangkan tanaman khas Yogyakarta sesuai permintaan Gubernur DIY, yaitu mentoak dan timoho, yang dilakukan di daerah Wonogiri. Selain itu, saat ini sedang dilakukan pilot Iptek kayu putih bekerjasama dengan KPHL Biak Numfor dengan membentuk kelompok-kelompok tani skala kecil. 

Disampaikan juga, laboratorium DNA B2P2BPTH merupakan lab DNA satu-satunya di KLHK namun belum bisa dimasukkan ke PNBP untuk pengujian sample dari luar. Padahal lab tersebut bisa dimanfaatkan oleh Dirjen KSDAE dan Dirjen Gakkum. Menanggapi itu, Kepala Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim meminta untuk ditelusuri kendalanya mengingat PNBP sample uji lab sangat menjanjikan. 

Sebagai penerapan perhutanan sosial yang saat ini menjadi prioritas KLHK, Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok telah membentuk kelompok-kelompok tani lebah madu di demplot pemberdayaan masyarakat sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KDHTK). 

Menanggapi berbagai hal yang disampaikan pada pertemuan tersebut, Ketua Dewan Riset BLI, Prof. Riset Dr. Gustan Pari menyampaikan beberapa catatan, salah satunya terkait pemutakhiran laboratorium. Menurutnya, laboratorium-laboratorium yang sudah ada perlu ditata kembali. 

“Kegiatan terkait merkuri, konservasi orang utan dan badak perlu penanganan khusus. Karena masalah dana yang berkurang, solusinya adalah dengan menjalin jejaring kerjasama,” kata Gustan. 

“Untuk masalah riset, masukkan sebanyak-banyaknya proposal ke Kemenristek, sehingga disarankan untuk semua Kelti (Kelompok Peneliti) memiliki bank proposal. PUI (Pusat Unggulan Iptek) adalah salah satu jembatan untuk mendekatkan APBN DIPA dengan riset,” kata Gustan.

Senada dengan itu, untuk menyiasati minimnya anggaran, Sekretaris BLI, Dr. Sylvana Ratina mengingatkan satker lingkup BLI untuk mencari peluang kerjasama sebanyak-banyaknya, baik dalam negeri maupun hibah luar negeri.

“Intinya kalau tetap semangat pasti ada solusinya, ada ikhtiar. Kalau ada masalah, silakan konsultasi kepada Kepala Pusat pembina dan Ketua Dewan Riset,” kata Sekbadan.***RH