KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 03:32 pm, 11. July 2018 - 81 klik

Di Myanmar, Indonesia Tegaskan Pentingnya Koordinasi Negara-Negara ASEAN untuk Turunkan Emisi GRK

BLI (Nay Pyi Taw - Myanmar, 11/7/2018)_Mewakili Indonesia pada The 19th International Seminar on Current International Issues Affecting Forestry dan Forest Product di Nay Pyi Taw, Myanmar, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, Dr. Agus Justianto menekankan pentingnya koordinasi antara negara-negara anggota ASEAN atau ASEAN Member States (AMS) untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan atau Land Use Land Use Changes of Forest (LULUCF) sebesar 1.65 Gt carbon per tahun.

“Berdasarkan proses implementasi NDC, AMS dapat mengerjakan hal-hal besar jika bekerja bersama dalam rangka mempengaruhi kebijakan di level internasional,” kata Justianto dalam keynote speechnya, Rabu (11/7/2018).

Menurut Justianto yang juga merupakan ASEAN Senior Officer on Forestry (ASOF) Leader dari Indonesia, hal ini penting mengingat 75% dari 17% emisi global merupakan kontribusi negara-negara berkembang.

“Terkait itu, AMS dapat mengurangi emisi 5,48% dari total emisi yang menjadi target Nationally Determined Contributions (NDC) yang dinyatakan pada Paris Agreement. Walaupun tahapan implementasi REDD+ berbeda antar AMS, namun implementasi REDD+ penting untuk memenuhi target NDC di bawah kerangka Paris Agreement,” kata Justianto.

Kepada para delegasi yang hadir, Justianto menyampaikan bahwa di Indonesia, sektor kehutanan berkontribusi 17,2% untuk mencapai 29% target NDC Indonesia. Beberapa strategi yang digunakan untuk mencapainya, antara lain: menjaga angka deforestasi sebesar 0,45 juta hektar pertahun hingga tahun 2020 dan 0,35 juta hektar per tahun dari tahun 2021-2030.

“Strategi lainnya adalah menguatkan implementasi Prinsip-prinsip Manajemen Hutan Lestari untuk hutan alam dan hutan tanaman, merehabilitasi 12 juta hektar lahan terdegradasi sampai tahun 2030 (atau 800.000 hektar per tahun dengan angka keberhasilan 90%), termasuk merestorasi 2 juta hektar lahan gambut hingga tahun 2030 dengan angka keberhasilan 90%,” jelas Justianto.

Dibuka oleh H.E. U Ohn Winn, Menteri Sumber Daya Alam dan Konservasi Lingkungan Myanmar, seminar ini dihadiri oleh delegasi ASOF dari AMS, serta menampilkan pemakalah dari CIFOR, FAO, ICRAF, RECOFTC. Beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Philippines, dan Vietnam juga berbagi pengalaman terkait kontribusi sektor kehutanan masing-masing bagi implementasi NDC di AMS.***JHP

Ikut Kami