KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita LHK
Posted by Rizda Hutagalung - 11:36 am, 02. July 2018 - 81 klik

Teladan Camp Fire Care dari Bukit Seribu Bintang

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Minggu, 1 Juli 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki sejuta pesona alam yang menakjubkan. TNGC seluas 15.000 ha di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini memiliki pemandangan alam yang indah, salah satunya hamparan padang rumput, yang terbentuk di atas bebatuan lelehan larva letusan gunung api Ciremai. Namun di balik hamparan pesona keindahan tersebut, kawasan TNGC tidak luput dari ancaman kebakaran hutan.
 
Pada tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan di TNGC terjadi hampir setiap tahun. Hal ini didukung keberadaan bahan bakar alami berupa rumput semak belukar yang terhampar ± 1.000 ha.
 
Sejak beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan di lokasi ini dapat diminimalisir bahkan “zero fire” berkat kolaborasi TNGC dengan masyarakat. Camp Fire Care adalah salah satu upaya yang di lakukan oleh Polisi Kehutanan TNGC dalam rangka mencegah terjadinya kebakaran hutan yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan, bahkan juga pengunjung yang datang ke kawasan TNGC. 
 
Kegiatannya berupa kemah wisata, dimana pengunjung dibekali dengan materi berupa pengenalan alat pemadam kebakaran hutan, pendidikan lingkungan akan bahaya kebakaran hutan dan pemulihan ekosistem pasca kebakaran hutan. Sehingga pengunjung merasa gembira, faham, peduli dan bangga ikut serta melestarikan hutan dari bahaya kebakaran.
 
Sebagaimana disampaikan Kepala Balai TNGC, Kuswandono, pada suatu acara di Camp Fire Care Bukit Seribu Bintang TNGC (30/06/2018), bahwa konsepnya adalah ketika masyarakat dilibatkan dan diberikan izin pemanfaatan jasa lingkungan hutan, otomatis akan selalu ada kegiatan disana, sehingga kebakaran hutan yang mengakibatkan banyak kerugian, dapat dicegah.
 
“Ekologi akan terjaga dan lestari melalui peningkatan ekonomi masyarakat, dan pendekatan sosial”, jelas Kuswandono. Saat ini, di TNGC terdapat 54 desa yang berada di kawasan, dan 64 kelompok usaha jasa pariwisata alam, yang salah satunya milik Perusahaan Daerah Kuningan. 
 
Melihat keberhasilan pengendalian kebakaran hutan di TNGC, Sekretaris Jenderal KLHK, Bambang Hendroyono mengapresiasi peran masyarakat di kawasan konservasi. Misalnya kelompok masyarakat Pujanggamanik di sekitar Bukit Seribu Bintang, yang berupaya mencegah kebakaran hutan, setelah mendapatkan izin usaha dan dilibatkan dalam pengelolaan TNGC. 
 
“Kedepan bagaimana kelompok masyarakat tadi kelembagaannya semakin kokoh, serta usaha-usahanya menjaga, melestarikan hutan dan meningkatkan ekonomi semakin bagus. Untuk itu perlu didukung oleh kebijakan dan regulasi dari KLHK”, ucap Bambang.
 
Ayo, ikut serta dalam Camp Fire Care sebagai bentuk peduli kita terhadap bahaya kebakaran hutan.*
 
Sumber: http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/1318