KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 01:09 pm, 05. June 2018 - 83 klik

Akomodir Kebutuhan Daerah, BP2LHK Banjarbaru Paparkan Rencana Penelitian di Dishut Provinsi Kalsel

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 31/5/2018)_Bertempat di aula Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Selasa (29/5/2018) tim peneliti BP2LHK Banjarbaru didampingi Kepala Balai, Ir. Tjuk Sasmito Hadi, MSc memaparkan rencana penelitian, yang diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan daerah dalam memecahkan masalah kehutanan di Kalsel.

Proposal penelitian ini sekaligus menjawab tantangan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel agar Litbang lebih berperan aktif dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan kehutanan di daerah. Terdapat 4 proposal penelitian yang dipresentasikan pada kesempatan tersebut, yakni: Monitoring Keberhasilan Penyuntikan Tanaman Penghasil Gaharu di Kalimantan Selatan; Pengelolaan Wisata Lembah Kahung; Pemanfaatan Cuka Kayu Karet (Hevea braziliensis, M) dan Cangkang Buah Karet sebagai Koagulan Bokar; dan Pengembangan Agroforestri di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Provinsi Kalimantan Selatan.

Pada presentasi pertama, Fajar Lestari, S.Hut mengatakan, keberhasilan gaharu hasil tanaman budidaya di Kalsel sampai saat ini masih rendah.  “Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut antara lain: pertumbuhan gaharu lambat, kegagalan penyuntikan, belum diketahuinya pola pengusahaan tanaman penghasil gaharu yang tepat, baik budidaya, pasca panen maupun akses pemasaran dan sebab lainnya,” papar Fajar Lestari, S.Hut. “Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indikator keberhasilan inokulasi gaharu di Kalimantan Selatan,” tambah Fajar pada presentasi pertama.

Selanjutnya, peneliti BP2LHK Banjarbaru Susi Andriani, S.Hut, MSc. menyampaikan usulan penelitian Pengelolaan Wisata Lembah Kahung di Kalsel. Menurut Susi, Lembah Kahung dengan berbagai kekayaan alam yang dimiliki berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. “Salah satunya dengan pengembangan wisata,” kata Susi.

Pengembangan wisata alam Lembah Kahung memerlukan sinergi berbagai pihak serta penanganan dan pengelolaan sumberdaya potensial yang baik. “Oleh karena itu diperlukan strategi pengembangan pariwisata alam untuk menuju pengelolaan kawasan efektif. Dengan sasaran yang ingin dicapai yaitu tersedianya model pengelolaan wisata alam Lembah Kahung,” kata Susi menambahkan.

Proposal penelitian ketiga disampaikan Dewi Alimah, S.Hut. yang akan memanfaatkan limbah karet di Kalsel dalam kegiatan penelitian “Pemanfaatan Cuka Kayu Karet (Hevea braziliensis M) dan Cangkang Buah Karet sebagai Koagulan Bokar”. Dewi mengatakan, tanaman karet mencapai puncak produktivitasnya pada usia antara 12–20 tahun. Setelah umur tersebut, maka produktivitasnya menurun dan perlu diremajakan ketika berumur 25–30 tahun.

“Pemanfaatan kayu karet merupakan peluang baru untuk meningkatkan margin keuntungan dalam industri karet. Begitu pula halnya dengan cangkang buah karet yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dua material tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan cuka kayu,” kata Dewi Alimah dalam presentasinya.

Dijelaskan, penelitian ini bertujuan menelaah produksi dan kualitas arang dan cuka kayu dalam upaya peningkatan nilai tambah penggunaan cangkang buah karet dan kayu karet dari peremajaan kebun karet tua dan melakukan uji coba pemanfaatan cuka kayu hasil pirolisis cangkang buah karet dan kayu karet sebagai koagulan bokar (bahan olahan karet).

Yang terakhir, Adnan Ardhana memaparkan rencana penelitian Pengembangan Agroforestri di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Propinsi Kalimantan Selatan. Menurut Adnan, praktik agroforestri telah dilakukan di KPH lingkup Kalimantan Selatan dengan ciri kekhasan sendiri yang menjadikan praktik agroforestri akan berbeda antar KPH.

“Begitu juga dengan  peluang dan tantangan yang berbeda-beda pula sehingga memunculkan berbagai best practice yang bagus, baik itu kegagalan atau keberhasilan untuk perbaikan atau implementasi praktek agroforestri di daerah lainnya,” jelas Adnan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola-pola agroforestri yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar KPHP dan mendapatkan bentuk kelembagaan pengelolaan dan pengembangan agroforestri yang berkelanjutan. “Rencana lokasi 6 KPHP di Kalsel,” kata Adnan dalam paparannya.

Sesi diskusi berlangsung dinamis dan interaktif, banyak pertanyaan dan masukan dari peserta diskusi. “Hal pertama yang saya sampaikan apakah penelitian ini penting untuk Kalsel. Kita tidak bisa mengkalkulasi berapa produksi gaharu Kalsel,” tanya Sekretaris Dishut, Dr. Rahmaddin. Terkait itu, peserta lain, Subhan menyarankan untuk gaharu, penelitian akan mengena bila langsung membangun demplot dengan jamur yang sudah direkomendasikan. Juga perlu diteliti bagaimana pasar gaharu”.

“Untuk penelitian agroforestry dengan 6 KPH terlalu berat, sebaiknya 3 KPH yang potensial yakni KPHP Kayu Tangi, KPHP Tanah Laut dan KPHP Tabalong,” saran Rahmaddin lagi. Sementara I. Gede Arya Subhakti, S.Hut, MP, Kabid. Pemberdayaan Masyarakat, Penyuluhan dan Perhutanan Sosial menyarankan ada kajian jenis dan jarak tanam yang sesuai untuk agroforestry. Dari hasil penelitian, diharapkan ada buku panduan untuk pemanfaatan atau pemanenan agroforestry di KPH .

Menyoroti rencana penelitian Pemanfaatan Cuka Kayu Karet dan Cangkang Buah Karet sebagai Koagulan Bokar, Fatimatuzzahra, S.Hut, MP, Kabid. Pengelolaan DAS & RHL mempertanyakan bagaimana pengumpulan cangkang karet sebagai bahan dasar. Bila untuk skala penelitian masih bisa tapi bila skala produksi akan kesulitan mengumpulkan bahan baku tersebut, Ir Gusti Rahmat, MM, kabid perencanaan dan pemanfaatan hutan, menambahkan.

“Wisata Lembah Kahung tidak bisa dijual sendiri karena aksesnya yang jauh dan relatif mahal, harus diintegrasikan dalam paket dengan objek wisata yang lain, misalkan Loksado,” usul Munandar dari Dishut. Menurutnya, lebih baik melihat spot-spot yang ada di sana, mana yang akan menarik pengunjung. “Misalnya spot yang banyak tanaman meranti atau spot jamur,” tambah Gusti.

Setelah peneliti menanggapi saran dan pertanyaan peserta, Kabalai mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi Kadishut dan jajarannya yang telah memberi kesempatan dan waktu untuk acara ini. Audiensi seperti ini sangat baik dan diperlukan untuk mengetahui kebutuhan daerah. “Peneliti memang seharusnya menjawab kebutuhan user. Banyak saran dan masukan yang perlu dipertimbangkan untuk memperbaiki proposal tersebut,” kata Tjuk.

Acara ditutup dengan penyerahkan publikasi BP2LHK Banjarbaru kepada Sekretaris Dishut Propinsi Kalsel. Publikasi yang diserahkan yakni: majalah Bekantan, Galam, Buku Panduan Lapang Avifauna dan Fauna Agen Penyebar Benih di KHDTK Tumbang Nusa, Buku Tumbuhan Obat di KHDTK Rantau, Agroforestry Berbasis Jelutung Rawa, Budidaya Shorea balangeran di Lahan Gambut, Pengembangan Jelutung Rawa di Lahan Gambut dan Restorasi Gambut di Tumbang Nusa, Pulang Pisau Kalimantan Tengah.***