KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 08:41 am, 17. May 2018 - 162 klik

Mahasiswa Unimed Teliti Lebah Madu Trigona di Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 14/5/2018)_Tertarik meneliti lebah trigona ini, mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Medan (Unimed), Setia Prayudi ditemani beberapa rekannya, mendatangi BP2LHK Aek Nauli, Senin (7/5). Setia menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk mengumpulkan data tentang penentu kualitas kadar air brix dan baume pada madu Trigona spp.

“Saya dapat informasi di website kalau BP2LHK Aek Nauli sudah lama membudidayakan lebah Trigona. Saya tertarik untuk menelitinya sebagai bahan penyusunan skripsi, karena memang yang saya tahu harga madunya lebih mahal dibanding madu lebah apis. Selain itu lebah trigona mudah dipelihara karena tidak menyengat, jadi mudah juga kalau diamati,” kata Setia.

Trigona merupakan serangga sejenis lebah, tapi Trigona tidak menyengat maka dari itu tidak termasuk kelompok Apis. Trigona memiliki karakteristik berbeda dengan lebah madu umumnya, dimana sifatnya yang kurang agresif dan lebih mudah dipelihara.

Dalam beberapa tahun ini, selain mengembangkan lebah madu Apis, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli juga mengembangkan Trigona, karena selain prospek menghasilkan madu, Trigona juga merupakan lebah penghasil propolis.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Ir. IGN Oka Suparta, mewakili Kepala Balai menyampaikan bahwa memang selain lebah apis, lebah trigona juga sudah lama dikembangkan di BP2LHK Aek Nauli. Cuma memang yang lebih dikenal adalah lebah apis, karena dari dulu produksi madunya sudah berlimpah dan sudah dipasarkan secara luas. Sedangkan lebah trigona ini memang pengelolaannya belum maksimal, karena selain madu yang dihasilkan masih sedikit, propolisnya pun masih dijual mentah atau belum bisa dibuat sendiri menjadi produk turunan.

“Ke depannya, dengan dibuatnya Gallery Madu Terpadu, trigona ini bisa dikembangkan secara maksimal dan harapannya juga sudah bisa dibuat sendiri produk turunannya. Saya yakin berhasil karena disini kita punya pakarnya, yaitu Aam Hasanuddin. Dia juga yang akan membimbing penelitian yang akan dilakukan nanti,” jelas Oka. 

Aam yang ikut menemui, menambahkan bahwa keberhasilan budidaya trigona ini juga tergantung dari lokasinya. Sebagai contoh, madu dan propolis di daerah yang panas akan terlihat lebih baik dan banyak dibandingkan dengan daerah yang tinggi dan dingin.

“Nantinya penelitian bisa kita bandingkan di dua tempat, pertama di Aek Nauli yang cuacanya dingin dan kemudian di Siantar yang cukup panas, nanti bisa dicek di laboratorium biar lebih akurat yang mana paling baik kualitasnya,” kata Aam.

“Selain itu nanti kita juga bisa bandingkan kandungan madu dari beberapa jenis Trigona yang sudah kami pelihara, yaitu laeviceps, itama, dan terminata,” tambah Aam.

Selesai pertemuan, kegiatan dilanjutkan dengan langsung penelitian di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 hari, 7 sampai 10 Mei 2018.***MB