KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 10:30 am, 15. May 2018 - 133 klik

Teliti Pinus dan Dipterocarpaceae, Mahasiswa USU Ambil Sampel di KHDTK Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 9/5/2018)_Jumat (4/5), Nur Indah Lestari, mahasiswa dari Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Sumatera Utara (USU) dan beberapa rekannya datang ke Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli. Menurut Nur, kedatangannya ini dalam rangka pengambilan sampel penelitian yang sedang dilakukan untuk penyusunan skripsi, yaitu tentang kandungan senyawa polyisoprenoid pada pinus dan dipterokarpa.

Sebagaimana diketahui, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli dengan luas 1900 Ha didominasi oleh tumbuhan pinus (Pinus merkusii Jungh. et deVries). Masyarakat lokal sering menyebutnya dengan tusam. Selain pinus, ada juga beberapa jenis pohon lain yang ditanam, salah satunya adalah dari family Dipterocarpaceae.

Saat ini, tegakan pohon tersebut sering dijadikan sebagai obyek penelitian. Selain itu, juga menjadi bagian dari pendidikan lingkungan hidup yang merupakan proses untuk membangun manusia sadar dan peduli terhadap lingkungan.

“Kami Mohon izin untuk mengambil sampel pohon pinus dan Dipterocarpaceae nya agak banyak, dimana sampel yang kami ambil tersebut nantinya akan diekstrak dan diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan senyawa Polyisoprenoid nya,” jelas Nur kepada Kepala Sub Bagian Tata Usaha, BP2LHK Aek Nauli, Ir. IGN Oka Supaarta.

Menyambut baik hal tersebut, Oka menyampaikan bahwa di Aek Nauli ini ada tiga jenis Pinus Merkusii  yang sudah lama ditanam yaitu dari strain Aceh, strain Kerinci, dan strain Tapanuli. Sedangkan untuk Dipterocarpaceae juga ada beberapa jenis yang juga ditanam.

“Silahkan nanti diambil sampelnya, kami harap nanti hasil penelitiannya bisa juga dibagi dan dilaporkan ke kami untuk bahan referensi. Nanti pengambilan sampelnya akan didampingi oleh Teknisi Litkyasa kami,” kata Oka.

Di lapangan, Dodo Ahmad Suhada selaku pendamping menjelaskan bahwa ada berbagai perbedaan dari beberapa strain pinus yang sudah disampaikan tadi. Pinus strain Kerinci agak mirip dengan pinus strain Aceh, sedangkan pinus strain Tapanuli memiliki batang lebih lurus, kulit lebih tipis dan percabangan yang minimal dibandingkan dengan strain lainnya.

“Kalau di sini pinus strain Kerinci susah tumbuh, jadi sulit dicari anakannya, sedangkan strain Aceh dan Tapanuli, biasanya anakannya banyak dijumpai di sekitar pohon induk karena mudah tumbuh,” jelas Dodo.

Lebih lanjut Dodo menjelaskan, di Kebun Percobaan Sipisopiso, BP2LHK Aek Nauli sudah dari dulu menanam pinus strain Kerinci. Tapi dari banyaknya bibit, yang bertahan tumbuh cuma 30 an batang. “Sedangkan pinus strain Aceh ada 1 ha, ini anakannya sudah menyebar tidak teratur, jadi perlu penjarangan dan pemeliharaan,” tambah Dodo.

Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel dari tiga strain pinus dan juga beberapa pohon jenis Dipterocarpaceae, seperti Shorea stenoptera, S. pinanga, S.platyclados, S. leprosula dan ada juga Dryobalanops aromatica yang biasa disebut kapur. Sampel yang diambil yaitu berupa akar, kulit batang, bunga dan buahnya. Pengambilan sampel dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak, membahayakan atau menyebabkan pohonnya mati.***MB