KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 23. April 2018 - 64 klik

Dukung Pengelolaan Taman Nasional, BLI KLHK Bangun Stasiun Riset Berbasis Keanekaragaman Hayati

P3H (Bandar Lampung, 20/04/2018)_Sebagai bentuk dukungannya terhadap pengelolaan Taman Nasional (TN), Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK menggagas kegiatan penelitian terpadu berupa stasiun riset berbasis keanekaragaman hayati, pada dua lokasi TN yaitu TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan TN Way Kambas (TNWK). 

"Kedua TN ini merupakan areal penting untuk konservasi harimau, badak sumatera, dan gajah sumatera sehingga dijadikan sebagai wilayah konservasi yang penting di dunia," kata Kepala Pusat Litbang Hutan BLI KLHK, Kirsfianti L. Ginoga, beberapa waktu lalu saat menjelaskan latar belakang kegiatan ini. 

Kirsfianti menambahkan, TNBBS juga berperan sebagai daerah tangkapan air dan penyimpan air bagi pemukiman dan lahan pertanian bagi Provinsi Lampung dan Bengkulu. Sedangkan TNWK menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG) dan Suaka Rhino Sumatera (SRS) semi-insitu Badak Sumatera. 

Kegiatan penelitian yang berada di bawah kelembagaan riset, sebelumnya juga telah dilakukan pada tujuh lokasi TN, yaitu TN Gunung Halimun Salak, TN Bromo Tengger Semeru, TN Ujung Kulon, TN Baluran, TN Gunung Rinjani, dan TN Bantimurung Bulusaraung. 

Sebagai langkah awal kegiatan ini, BLI melakukan identifikasi permasalahan dan potensi keanekaragaman hayati, habitat dan lanskap dalam zonasi taman nasional untuk mendukung pengelolaan jasa wisata alam di TN.  

"Hasil penelitian ini nantinya dapat mendukung peningkatan fungsi, manfaat dan pengelolaan biodiversitas dan jasa lingkungan di TNBBS dan TNWK, dalam rangka peningkatan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat lokal yang berkelanjutan," kata Kirsfianti menjelaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung (19/04).  

Sebagaimana diketahui, pengelolaan TNBBS dan TNWK dihadapkan pada beberapa tantangan yang dapat mengganggu keberlangsungan ekosistem dan spesies di dalamnya, antara lain yaitu konversi hutan menjadi permukiman, pengolahan dan perkebunan, perburuan liar, pembukaan hutan sebagai jalan dan jalur transportasi, serta perambahan hutan yang berujung pada konflik satwa liar dan manusia.  

Lebih lanjut, Kirsfianti menerangkan bahwa pengumpulan data dan informasi untuk stasiun riset di kawasan hutan TNBBS dan TNWK ini, dilakukan dengan beberapa metode, yaitu pengumpulan data sekunder dan data primer, yang akan dilakukan oleh Tim yang melibatkan para peneliti dan para pemangku kepentingan terkait. 

Taman Nasional (TN) sebagai benteng terakhir konservasi sumber daya alam, memiliki ekosistem landskap yang unik dan potensi jasa lingkungan yang luas, sebagai pusat kajian alami, sehingga diperlukan pengembangan penelitian untuk mendukung pengelolaanTN yang lestari dan berkelanjutan.(*)