KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 09:16 am, 17. April 2018 - 827 klik

Pembubaran Balitbang Kementerian/Lembaga, Perlukah?

P3SEKPI (Bogor, 16/04/2018)_Sepekan terakhir, wacana mengenai pembubaran instansi Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian/Lembaga (Balitbang K/L) menjadi isu yang ramai dibahas. Menanggapi wacana tersebut, Jumat (13/04/2018), Kelompok Peneliti Politik dan Hukum Kehutanan (Kelti Polhuk), Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) mengadakan diskusi di Kampus Gunung Batu, Bogor.

Diskusi yang dihadiri oleh para peneliti Kelti Polhuk ini berlangsung dinamis. Sebagai pembuka, Dr. Subarudi memaparkan kondisi Balitbang K/L terkini. Menurut Subarudi, pembenahan litbang perlu dilakukan sesegera mungkin, baik dalam hal tatanan organisasi (komposisi ideal sumber daya manusia/SDM) maupun riset yang dihasilkan.

Masuk ke sesi diskusi, Dr. Ismatul Hakim menyampaikan bahwa Litbang Kehutanan dan Litbang Pertanian pernah masuk dalam 10 besar lembaga riset dunia. “Riset yang dihasilkan Litbang Kehutanan sudah ditentukan penggunanya, user linkage-nya jelas, misalnya hasil-hasil kayu dan standar pengawetan kayu sering digunakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU),” kata Ismatul.

Ismatul juga menyampaikan bahwa riset dalam birokrasi terdiri atas tiga penelitian, yaitu: Pure research (ilmu murni), Applied research (ilmu terapan), dan Policy research (kebijakan).

Ilmu murni adalah domain dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Ilmu terapan seperti yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sedangkan kebijakan, seperti yang dilakukan oleh Litbang Kementerian.

“Di era Jokowi inilah, peneliti seperti ingin dibangunkan kembali (revolusi moral keilmuan),“ kata Ismatul. Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Retno Maryani, bahwa ada upaya “membangunkan harimau tidur”. Retno mengatakan bahwa saat ini terdapat dua kubu yang berseberangan. “Kubu pertama yang menginginkan lembaga riset dipertahankan seperti sekarang, dan kubu kedua yang menginginkan perubahan dengan memobilisasi penggabungan Litbang K/L,” kata Retno.

Pada akhirnya, diskusi ini bermuara pada keinginan peneliti Kelti Polhuk P3SEKPI untuk menyuarakan arti pentingnya Litbang kepada khalayak. Sebagai tindak lanjutnya, terdapat tiga opsi yang akan dilakukan. Pertama, penyampaian langsung melalui media massa atau surat kabar. Kedua, melalui nota dinas ke Kementerian LHK, dan Ketiga, bersurat ke Kantor Staf Presiden (KSP).

Agenda mendatang, Kelti Polhuk akan mengundang peneliti dari Pusat Litbang lingkup Badan Litbang dan Inovasi untuk berdiskusi lebih lanjut tentang wacana ini. Tentu saja hasil yang diharapkan dari pertemuan nanti merupakan masukan yang solusional, sehingga wacana mengenai pembubaran Balitbang K/L perlu dipertimbangkan kembali.***M. Iqbal

Ikut Kami