KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 02:41 pm, 13. April 2018 - 68 klik

Plus Minus Pemanfaatan Air Telaga Pengilon Dieng

Balitek DAS (Solo, 13/04/2018)_Keberadaan Telaga Pengilon, salah satu Taman Wisata Alam di Dieng, Wonosobo Jawa Tengah ternyata membawa berkah tersendiri bagi petani kentang. Dengan pemanfaatan atau penyedotan air telaga pada musim kemarau telah menurunkan jumlah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan petani kentang. Pendapatan petani meningkat dengan keuntungan rerata sebesar Rp. 17,6 juta per 0,45 ha per 4 bulan. 

Hal ini diungkapkan oleh Ir. C. Yudilastiantoro, M.P., R. Pamungkas BP., S. Hut., M.Sc., dan  Dr. S. Andy Cahyono., Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan (Balitek) DAS Solo, dalam artikelnya yang berjudul Dampak Penyedotan Air Telaga dalam Usaha Tani Kentang di Telaga Pengilon Dieng, Wonosobo dalam Prosiding Seminar Nasional Geografi UMS 2017 lalu. 

“Kondisi ekologi dataran tinggi Dieng yang semakin tidak menentu dan fluktuasi harga komoditas kentang membuat petani harus selalu berjaga-jaga,” kata Yudi. Salah satunya penyediaan air, terutama pada musim kemarau. Air menjadi faktor toleransi keberhasilan pertanian kentang dimana terlalu banyak air membuat tanaman kentang busuk dan terlalu sedikit air membuat tanaman mati. 

Menurut Yudi, tidak mengherankan apabila pada saat musim kemarau petani kentang mengusahakan penyediaan air dengan berbagai cara. Salah satunya dengan penyedotan air dari sumber-sumber air yang tersedia, seperti Telaga Pengilon. 

“Hasil panen kentang pada musim kemarau 2016 yang mendapat air dari Telaga Pengilon merupakan berkah bagi 120 petani kentang di Desa Jojogan, Kecamaatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa tengah. Tanpa air dari Telaga Pengilon, mereka tidak memperoleh hasil alias “kosong” karena lahannya di “bero (tidak ditanami)”kan,” jelas Yudi. 

Namun, menurut Yudi, aktivitas penyedotan air telaga pengilon ini juga memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar Telaga Pengilon. Pada musim kemarau, kondisi air Telaga Pengilon menyusut. Hal ini menyebabkan penurunan wisatawan karena wisatawan menilai tempat ini menjadi kurang menarik. Selain itu, terjadinya polusi tumpahan bbm dan oli dari keberadaan penggunaan mesin pompa air. 

Terkait hal tersebut, pada akhir artikelnya, Yudi menyarankan agar pemerintah seyogyanya secara bijaksana mengatur dan mengantisipasi penyedotan air di Telaga Pengilon. Sebagaimana diketahui, pemanfaatan air oleh petani kentang pada musim kemarau sangat intensif. Diharapkan kegiatan ini, tidak memberikan dampak penurunan ekonomi pada sektor lain atau pariwisata di wilayah tersebut. 

Telaga Pengilon merupakan kawasan objek wisata alam yang mana masyarakat memperoleh penghasilan tambahan dari kegiatan pariwisata seperti menjual cinderamata, usaha kuliner, tukang parkir dan jasa pemandu wisata.***

Sumber Artikel:

Dampak Penyedotan Air Telaga dalam Usaha Tani Kentang di Telaga Pengilon Dieng, Wonosobo dapat diunduh di http://dassolo.litbang.menlhk.go.id/penelitian/publikasi/tahun/2017/unduh/886/Dampak-Penyedotan-Air-Telaga-dalam-Usaha-Tani-Kentang-di-Telaga-Pengilon-Dieng-Wonosobo

 

Informasi Lebih Lanjut:

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS)

Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 – 716959