KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 10:49 am, 13. April 2018 - 77 klik

Mengenal Lebih Dekat Kopi Liberika, Kopi Beraroma Nangka dari Lahan Gambut

P3SEKPI (Bogor, 13/04/2018)_Suasana pagi di Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi terasa lengkap dengan suguhan kopi hangat. Kopi liberika yang harum dengan aroma nangka yang kuat dan dominan pahit, begitu menggugah rasa. 

Kopi ini merupakan komoditi unggulan Kelurahan Mekar Jaya. Hampir seluruh penduduk kelurahan ini menanam kopi sebagai sumber pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sebagai sumber pendapatan tahunan. Kopi liberika banyak ditanam di lahan gambut Provinsi Jambi dan Bengkulu. 

Ada tiga jenis kopi yang umum dikenal oleh masyarakat Indonesia, yaitu kopi robusta, kopi arabika, dan kopi liberika. Kopi liberika adalah kopi yang berasal dari wilayah Liberica, Afrika Barat. Kopi ini dibawa ke Indonesia pada abad ke-19, saat banyak tanaman kopi arabika  terserang penyakit. Bijinya lebih besar, kadang mencapai dua kali ukuran biji kopi arabika. Jumlah pohon dalam 1 ha dapat mencapai 1.000 pohon jika menggunakan jarak tanam 3 m x 3 m. Hasil panen dari kebun masyarakat adalah 500 kg/ha/th. 

Petani menjual biji kopi kering (kadar air 12%) dengan cara menyetor ke pengepul, atau sebaliknya pengepul datang ke petani. Sebagian besar produksi kopi liberika dari Kelurahan Mekar Jaya dibawa ke Kuala Tungkal, ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk selanjutnya diekspor ke Malaysia dan Singapura. Pangsa pasar kopi liberika sangat potensial, dan Malaysia adalah salah satu konsumen terbesar di dunia. Di Kelurahan Mekar Jaya, harga kopi liberika berasan kering adalah Rp. 42.300/kg, suatu harga yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan harga kopi robusta dan arabika. 

Atas inisiasi Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan sebagian masyarakat yang memiliki tanaman kopi liberika, pada tahun 2012 dibentuk lembaga Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis (MPIG) dalam bidang kopi liberika. Lembaga ini bertujuan untuk meningkatkan mutu, perlindungan, dan pemasaran. Saat ini, lembaga tersebut dipimpin oleh H. Lamsur sebagai ketua dan Murdianto sebagai sekretaris. 

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah serangan jamur akar putih terhadap tanaman yang berumur lebih dari 30 tahun. Daun menguning, pohon layu, kering, dan akhirnya mati. Hal ini menyebabkan produksi terus menurun. 

Gambaran di atas menunjukkan pentingnya peran pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam pengembangan tanaman kopi liberika. Meningkatnya pendapatan daerah dari sektor perkebunan kopi diharapkan dapat beriringan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.***Surati