KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 11:22 am, 12. April 2018 - 229 klik

Mencari Jejak Mentaok dan Timoho, Tanaman Khas Yogyakarta yang Mulai Langka

B2P2BPTH (Bantul, 11/04/2018)_Mentaok dan timoho adalah dua jenis tanaman khas Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sangat dekat dengan sejarah dan budaya masyarakat. Hutan Mentaok merupakan lokasi berdirinya kerajaan Mataram Islam. Persebaran Mentaok dahulu cukup luas. Tidak hanya di Yogyakarta saja, tapi di beberapa daerah di Jawa Tengah.

Hal ini disampaikan Hendry di Makam Raja-Raja Mataram, Kota Gede, Yogyakarta, Rabu (04/04/2018) saat berdiskusi dengan tim eksplorasi materi genetik Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta. Bersama Hendry, Ijan, dan Nugroho yang merupakan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, tim eksplorasi terdiri dari Lukman Hakim, Yuliah dan Peri Mandala Putra berdiskusi tentang keberadaan jenis mentaok dan timoho.

Kayu mentaok dahulu digunakan sebagai bahan Warangka keris. Namun, karena sekarang sulit didapatkan, maka pembuat keris beralih menggunakan jenis kayu lainnya. Di daerah Bantul, beberapa tempat yang masih terdapat pohon mentaok, diantaranya di Makam Raja-Raja Mataram dan pasar Kota Gede dan di Desa Wonokromo,  Kec. Pleret, Kab. Bantul.

“Pohon induk mentaok ini di bagian bawah tumbuh trubusan dan di sekitarnya terdapat anakan yang tumbuh liar,” jelas Ijan.

Pohon mentaok di Kota Gede dan di Desa Wonokromo tidak diketahui kapan buahnya masak untuk diunduh. Buah yang matang biasanya akan pecah dan bijinya tersebar. “Menghadapi kendala ini perlu pengumpulan anakan dengan teknik puteran di sekitar pohon induk dan pengambilan bahan vegetatif berupa trubusan untuk kita stek,” usul Lukman untuk memecahkan masalah ini.

Sementara itu, kayu timoho bersifat lunak, mudah dibentuk dan memiliki corak khas berupa pelet juga merupakan bahan baku Warangka keris. Pohon timoho dapat dijumpai di Desa Banyu Semurup, Kec. Imogir, Kab. Bantul dan Kantor Dishutbun DIY sekarang sedang berbunga, tapi masih muda.

Menurut  Agus, pemilik pohon timoho, diperkirakan sekitar 2 bulan lagi baru matang buahnya. Sedangkan menurut Mbah Wuri, salah satu pengrajin Keris di Desa Banyu Semurup bahwa bahan baku kayu Timoho diperoleh dari Krakal dan Kukup, Kab. GunungKidul. “Berdasarkan informasi ini maka perlu dilakukan survey ke lokasi tersebut,” kata Yuliah.

Hasil pengumpulan anakan timoho dan mentaok tidak banyak. “Pengambilan materi vegetatif mentaok dan anakan di Desa Wonokromo akan dilakukan setelah ada sungkup di persemaian B2P2BPTH. Sedangkan untuk pengunduhan benih timoho ketika buah sudah masak,” kata Peri.

Setelah mengeksplorasi materi genetik mentaok dan timoho di beberapa tempat di Kabupaten Bantul, tim B2P2BPTH berkunjung ke kantor Dishutbun untuk bertemu dengan Kepala Balai Taman Hutan Raya (TAHURA) Bunder. Pada pertemuan ini, didiskusikan tentang rencana kerjasama dalam penanaman jenis-jenis tanaman langka dan khas DIY di Tahura pada akhir tahun 2018.

Materi diskusi berupa Peraturan Gubernur DIY No. 5 tahun 2018 tentang Kerjasama Pemanfaatan Hutan Produksi dan Hutan Lindung; serta Kerjasama dan Perizinan Pemanfaatan TAHURA. Berdasarkan pasal 17, maka Kepala B2P2BPTH selaku pemohon perlu mengajukan permohonan kerjasama kepada Gubernur.

“Surat permohonan dimaksud memuat tentang objek, luas areal, manfaat, bentuk, tahun angggaran dimulai dan jangka waktu kerjasama,” kata Ir. Niken Aryani, MP, Kepala TAHURA Bunder.***LH

 

Ikut Kami