KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:10 pm, 22. March 2018 - 132 klik

Satu Dekade Penyelamatan Jenis-Jenis Tanaman Langka dan Khas Yogyakarta oleh B2P2BPTH

B2P2BPTH (Yogyakarta, 21/03/2018)_Satu dekade terakhir, tahun 2008 sampai sekarang, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) telah melakukan penyelamatan berbagai jenis tanaman langka dan khas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini dilakukan dalam rangka menjalankan tugas dan fungsinya melaksanakan penelitian dan pengembangan, salah satunya terkait kebutuhan daerah.

Kegiatan penyelamatan yang dilakukan salah satu unit kerja Badan Litbang tersebut, diantaranya eksplorasi dan mengumpulkan materi genetik seperti benih, anakan, maupun bagian vegetatif. Materi genetik tersebut diperbanyak di persemaian dan didistribusikan kepada para pihak yang peduli terhadap upaya penyelamatan jenis-jenis tersebut, seperti institusi pemerintah, sekolah, swasta, dan masyarakat, baik yang ada di DIY maupun luar DIY.

Selain didistribusikan ke berbagai pihak, bibit tanaman langka dan khas Yogyakarta ini juga ditanam di Arboretum B2P2BPTH sebagai tanaman koleksi yang diperlihatkan kepada tamu-tamu penting saat berkunjung ke B2P2BPTH.

Hal ini tentunya sangat mendukung program pelestarian tanaman langka dan khas daerah. Lokasi penanaman ini ke depannya dapat menjadi sebagai sumber benih untuk dikumpulkan dan diperbanyak lagi baik secara generatif maupun vegetatif.

Menurut Ir. Fasis Mangkuwibowo, staf Seksi Kerjasama, KHDTK dan Pengembangan yang mengelola kegiatan tanaman langka sampai tahun 2017, kegiatan ini berawal dari permintaan masyarakat terhadap kebutuhan bibit tanaman kehutanan untuk penghijauan dan reboisasi. Namun bibit yang tersedia berupa bibit hasil penelitian yang jenisnya sudah ditentukan dan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

“Kami telah mengoleksi 33 jenis tanaman langka dan khas Yogyakarta, yang diantaranya memenuhi kriteria keendemikan, kekhasan dan andalan daerah. Selain itu juga memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat, baik dari bagian kayu, daun, kulit, buah dan akar sebagai bahan baku tanaman obat,” kata pria asli Yogyakarta ini.

Sebagaimana diketahui, Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, merupakan daerah yang memiliki warisan budaya adiluhung. Di Yogyakarta, banyak jenis tanaman yang memiliki nilai filosofi mendalam dan berkaitan erat dengan prinsip-prinsip hidup manusia. Sebagai contoh, gayam dikenal sebagai tanaman peneduh dan cocok untuk konservasi tanah dan air. Kayunya melambangkan manusia yang telah mampu mencapai keutamaan hidup di jalan Tuhan sehingga filosofi pohon gayam berarti ”manusia harus mempunyai keinginan untuk meraih keutamaan hidup”. 

Jenis lainnya yaitu sawo kecik berasal dari kata “sarwo becik” memiliki arti serba baik. Pohon sawo kecik yang umumnya ditanam di halaman rumah, memiliki arti “siapapun yang memasuki atau keluar dari rumah tersebut haruslah baik niat dan perbuatannya”. 

Ke depan, mulai tahun ini, 2018, kegiatan penyelamatan akan difokuskan pada dua jenis tanaman langka dan khas Yogyakarta, yaitu mentaok (Wrightia javanica) dan timoho (Kleinhovia hospita). Mentaok merupakan jenis yang terkait erat dengan sejarah awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Alas hutan Mentaok yang lebat dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani untuk dijadikan perkampungan/desa dan diberi nama Mataram. Lokasi Hutan Mentaok diperkirakan terletak di Kotagede, Yogyakarta.

Sedangkan timoho merupakan salah satu jenis yang menghasikan kayu untuk pembuatan gagang maupun warangka keris. Kayu ini dipilih karena sifatnya yang ringan dan lunak sehingga mudah dibentuk. Seratnya yang unik membuat tampilan keris menjadi semakin indah. Nama Timoho bahkan diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Yogyakarta.

Meskipun memiliki kedekatan dengan budaya Yogyakarta, pohon mentaok dan timoho saat ini sulit ditemukan di wilayah Yogyakarta. Pergeseran nilai-nilai sosial budaya dan penyempitan ruang terbuka hijau diduga menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah DIY berencana melindungi kekhasan daerah, baik flora maupun fauna melalui Peraturan Daerah.

Terkait itu, sebagai upaya pelestarian dua tanaman ini, B2P2BPTH Yogyakarta akan bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup DIY dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY. Kerjasama ini meliputi kegiatan eksplorasi dan pengumpulan materi genetik, perbanyakan bibit dengan teknik generatif maupun vegetatif di persemaian, serta pendistribusian bibit ke instansi maupun masyarakat yang peduli terhadap pelestarian jenis-jenis langka dan khas DIY.***LH