KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita LHK
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 am, 10. March 2018 - 173 klik

Ayo Kunjungi Bulu Tombolo dan Lihat Kupu-Kupu Langka di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sabtu, 10 Maret 2018. Pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat terus dikembangkan KLHK. Sebagaimana dilakukan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Konservasi (KSDAE), melalui Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), yang mengembangkan pengelolaan ekowisata Bulu Tombolo bersama Kelompok Masyarakat Dusun Pattiro, di Desa Labuaja, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
 
"Bulu Tombolo berada di zona tradisional yang merupakan wilayah kerja Resor Camba TN Babul. Dengan potensi alam yang dimilikinya, lokasi ini sangat layak menjadi destinasi wisata, serta dapat menjadi
alternatif mata pencaharian bagi masyarakat", tutur Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Babul.
 
Dari kawasan Bulu Tombolo setinggi kurang lebih 800 mdpl ini, terlihat pemandangan pegunungan dan sawah yang sangat indah. Aksesibilitas menuju lokasi ini telah dibangun oleh kelompok masyarakat Pattiro, termasuk mendirikan wahana unik yang terbuat dari bambu untuk berswafoto bagi pengunjung.
 
Menurut Sahdin, usaha masyarakat tersebut sangat mendukung promosi lokasi ini, hingga menjadi perbincangan di kalangan wisatawan, dan kegiatan rekreasi di lokasi ini kerapkali diunggah di media sosial para pengunjung.
 
Selain Bulu Tombolo, TN Babul juga sangat dikenal dengan keberadaan berbagai jenis kupu-kupu, salah satunya adalah jenis Graphium androcles yang sangat langka dan menjadi lambang kawasan ini. Berdasarkan hasil monitoring kupu-kupu tahun 2010-2017 oleh Pengendali Ekosistem Hutan TN Babul, jenis ini G. androcles selalu hadir setiap tahunnya. 
 
"Pada bulan Maret rata-rata ditemukan 3 individu, Agustus rata-rata 16 individu, September rata-rata 3 individu, dan Oktober rata-rata 21 individu. Di bulan-bulan lainnya juga terkadang hadir, tapi tidak setiap tahun, namun ditemukan dalam jumlah yang besar, misalnya November 2014 sebanyak 30 individu dan Juli 2016 sebanyak 22 individu", terang Kamajaya Shagiri, salah satu PEH TN Babul yang melakukan monitoring.
 
Menurutnya, jumlah tersebut melampaui temuan ilmuwan Inggris, Alfred Russel Wallace, di tahun 1869, yang tercantum dalam bukunya berjudul 'The Malay Archipelago'. "Hasil monitoring kupu-kupu terakhir di bulan Oktober 2017, dalam waktu 2 hari pengamatan saja, G. androcles dapat dijumpai sekurang-kurangnya 34 individu. Ini merupakan jumlah perjumpaan terbesar dibandingan hasil pengamatan-pengamatan sebelumnya", lanjut Kamajaya.
 
Sementara Suci Ahmad Handayani, PEH lainnya, berpendapat, kehadiran kupu-kupu endemik Sulawesi di kawasan tersebut dipengaruhi oleh musim. "Hal ini mengingat bulan Oktober sampai dengan November adalah masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Begitu pula bulan Juli yang merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau", jelasnya. 
 
Terkait penampilan kupu-kupu yang sangat menarik ini, disampaikan Sahdin, menjadikan jenis kupu-kupu tersebut bernilai ekonomi tinggi. "Seperti halnya jenis kupu-kupu lainnya, G. androcles juga banyak diburu oleh para penangkap, sehingga populasinya cukup terancam", ujar Sahdin.
 
Menurut Sahdin, selain upaya pengembangbiakan, perlindungan jenis ini harus terus dilakukan. "Kondisi habitatnya pun perlu terus dijaga agar mampu menopang kehidupannya. Ingatlah, keindahan kepakan sayap kupu-kupu dengan ekor yang meliuk-liuk putih mengkilat ini menyuguhkan pemandangan elok yang jauh lebih memukau dibandingkan hanya melihatnya dalam pajangan bingkai", pungkas Sahdin.(*)
 
Sumber: http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/1103