KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 04:12 pm, 01. March 2018 - 368 klik

Baru Lahir 2 Ekor, Populasi Rusa Timor di Penangkaran Kampus BLI Bogor Bertambah

BLI (Bogor, Maret 2018)_Kabar baik datang dari penangkaran Kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Gunung Batu, Bogor. Akhir Februari lalu, rusa timor (Rusa timorensis Blainville, 1822) yang ditangkarkan di sana, telah melahirkan dua ekor anak. Dengan kelahiran ini, populasi rusa timor di Kampus BLI Bogor bertambah menjadi 7 individu, terdiri dari 3 individu jantan (2 remaja dan 1 dewasa), dan 2 individu betina dewasa, dan 2 individu anak rusa.

“Alhamdulillah telah lahir dua bayi rusa timor di penangkaran Bosbow (Kampus BLI). Kedua anak rusa tersebut dalam keadaaan sehat dan belum diberi nama,” kata Kepala Puslitbang Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Krisfianti L. Ginoga, Kamis (01/03/2018).

Lahir dari induk yang berbeda, kedua anak rusa tersebut berjenis kelamin betina. Satu ekor lahir Sabtu (24/02/2018) dari induk dengan nomor tagging DMG-F-1-230610. Seekor lainnya, lahir Rabu (28/02/2018) dari induk yang bernomor tagging ALP-F-1-000208.

“Berat badan kedua anak rusa tersebut sudah teridentifikasi, yaitu masing-masing 3,6 kg dan 3,4 kg, panjang badan 40,0 cm dan 39,0 cm, tinggi pundak 37,0 cm dan 38,0 cm, dan lingkar dada masing-masing 35,0 cm,” jelas Mariana Takandjandji, peneliti Konservasi Sumber Daya Hutan pada Pusat Litbang Hutan saat ditemui di lokasi penangkaran, Jumat (02/03/2018).

Dijelaskan juga, anak rusa yang lahir dari induk dengan nomor tagging DMG-F-1-230610 merupakan generasi kedua. 11 bulan sebelumnya, sang induk melahirkan anak pertama yang diberi nama Silet. Berbeda dengan Silet yang lahir pada siang hari, generasi kedua ini lahir pada malam hari sehingga proses kelahirannya tidak diketahui.

Sebagai informasi, tujuan penangkaran rusa ini adalah untuk pelestarian ex-situ; untuk mendekatkan hasil penangkaran dengan masyarakat sehingga masyarakat sekitar dapat memahami pentingnya penangkaran; untuk peningkatan kualitas rusa sehingga dapat dijadikan sebagai parent stock; serta sebagai pusat penelitian, pengembangan dan vokasi penangkaran rusa.

Menurut Kepala Puslitbang Hutan, penangkaran yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang disarankan oleh Kementerian LHK melalui Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

“Sebagai institusi keilmuan, Puslitbang Hutan juga telah membuat beberapa tulisan tentang penangkaran rusa melalui jurnal, buku, pedoman teknis, dan lain-lain. Kami juga menyediakan advis teknis dan pembimbingan tentang penelitian penangkaran rusa,” kata Krisfianti.

Selain di Kampus Gunung Batu, BLI juga memiliki Pusat Penangkaran Rusa Timor (Rusatimorensis) di Hutan Penelitian (HP) Dramaga, Bogor yang dibangun tahun 2008.

Awalnya, populasi rusa timor di penangkaran seluas 7,0 Ha ini berjumlah 9 ekor saja, terdiri dari 5 jantan dewasa dan empat betina yang diperoleh dari hasil penangkaran di Haurbentes, Jasinga; Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, dan Taman Safari Indonesia. Saat ini, rusa timor yang berhasil ditangkarkan mencapai lebih dari 50 ekor.

Di HP Dramaga, Puslitbang Hutan telah berhasil menangkarkan rusa timor sampai keturunan ke-2 (F2). Hasilnya sudah dimanfaatkan oleh PT. Cibaliung Sumber Daya di Banten, Taman Wisata Matahari di Cisarua-Bogor dan PT. Bukit Waru Wangi di Banten.

Keberhasilan penangkaran rusa timor ini juga mendorong lembaga lain untuk menerapkan teknologi penangkaran rusa timor yang dilakukan oleh BLI. Teknologi ini sudah diaplikasikan pula di  Pemerintah Daerah  Kab. Sumba Timur NTT, Tahura Sultan Adam Kalimantan Selatan, dan Taman Buru Masigit Kareumbi Jawa Barat.***

 

Berita Terkait:

Teknologi Penangkaran Rusa Timor