KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 02:09 pm, 13. February 2018 - 58 klik

Merubah Paradigma Para Petani Hutan: Asal Menanam Jadi Menanam Bernilai Komersial Tinggi

BP2LHK Makassar (06/02/2018)_Merubah paradigma para petani hutan dari “asal menanam” menjadi “menanam yang bernilai komersial tinggi” sangat penting. Hal ini disampaikan Ahmad Rizal, salah satu peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Makassar - ACIAR pada Diskusi Buku "Adding value to the farmers’ Trees: Experiences of Community-based Commercial Forestry In Indonesia", hasil penelitian Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) di Makassar, Selasa (06/02).

“Petani tidak boleh asal tanam saja, petani harus tahu mengelola pohon dengan baik agar memiliki nilai yang tinggi,” kata Ahmad di Galeri Pengetahuan Perpustakaan Yayasan BaKTI, Makassar.

Zusana Gosal dari BaKTI, dalam pengantarnya berterima kasih kepada BP2LHK Makassar yang telah bersedia bekerjasama mendiseminasikan hasil-hasil penelitiannya, salah satunya buku ini yang bertujuan untuk memberi nilai tambah pohon milik para petani hutan ini.

Pembahasan buku ini merupakan salah satu upaya diseminasi hasil penelitian para peneliti yang tergabung ke dalam satu tim kerjasama penelitian ACIAR selama 2 (dua) periode. Untuk wilayah Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi di hutan rakyat di Kabupaten Bulukumba. Hadir selaku pemateri, mewakili tim peneliti ACIAR BP2LHK Makassar yaitu Ahmad Rizal, Nur Hayati, Nurhaedah muin dan Bugi Sumirat.

Dari sajian pemateri, tergambar sekali bahwa petani hutan sering kali memiliki pemahaman yang lemah tentang dinamika pasar. Nurhayati mengungkapkan bahwa para petani harus diajarkan bagaimana cara menanam pohon yang baik itu seperti apa, pohon yang kayunya layak jual itu seperti apa, kayu yang di inginkan pasar itu seperti apa.

“Jangan asal diberi bibit 100 oleh dinas ditanam semua di lahan mereka akibatnya pohon-pohon saling berdekatan dan tidak bisa tumbuh dengan baik dan sebagai konsekuensinya adalah tidak memiliki harga jual yang baik nantinya,” kata Nurhayati.

Pohon yang ditanam di lahan kebun yang disebut sebagai sistem hutan rakyat memang akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi jika ingin pohon memiliki nilai yang komersil – yang memenuhi standar atau kualifikasi pasar dengan harga jual yang tinggi, maka harus dikelola dengan baik. Dalam hal ini, para peneliti berusaha merubah paradigma dari yang sebelumnya hanya sekedar (asal) menanam menjadi menanam yang memiliki nilai komersial yang tinggi.

BaKTI merupakan lembaga swadaya masyarakat yang menekankan proses sharing informasi dan ilmu  pengetahuan yang berusaha meningkatkan efektifitas pembangunan di kawasan timur Indonesia (KTI). Mereka percaya bahwa bila semua pihak dapat saling bertukar pengetahuan khususnya solusi yang muncul, akan berpengaruh positif pada pembangunan di KTI.

BaKTI secara aktif mengelola berbagai jaringan yang dapat memastikan terjadinya pertukaran pengetahuan secara efektif, salah satunya adalah JiKTI (Jaringan peneliti KTI) dan Sahabat BaKTI. JiKTI adalah jaringan yang beranggotakan peneliti Kawasan Timur Indonesia. Sedangkan Sahabat BaKTI adalah jaringan yang bersifat independen atau bersifat terbuka untuk umum yang beranggotakan mahasiswa, jurnalis, pemerintah ,akademisi dan pekerja swasta.

Kegiatan yang berlangsung sekitar 2 jam ini dihadiri oleh banyak pihak yang berasal dari berbagai instansi seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Muhammadiyah, dan Universitas Negeri Makassar termasuk kalangan mahasiswa, umum dan pihak pers yang sangat antusias terhadap isi buku yang dibahas dan memiliki ketertarikan dalam sektor kehutanan, terutama CBCF (Community-based Commercial Forestry).

CBCF sebagai suatu sistem pengelolaan kehutanan yang berbasis masyarakat,  berusaha memberikan masukan/rekomendasi dari hasil penelitian untuk bagaimana mengatasi kemiskinan termasuk para petani hutan dengan salah satunya adalah memberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan silvikultur petani hutan serta memperluas informasi tentang pengelolaan hutan yang lebih baik ke lebih banyak lagi petani hutan-petani hutan.

Terkait dengan hal pengelolaan hutan rakyat di tingkat keluarga, disoroti pula tentang pentingnya peningkatan pengelolaan berdasarkan peran gender. Seringkali dalam mengelola hutan rakyat, lebih di dominankan kepada para petani laki-laki karena katanya laki-laki lebih memiliki peran dalam pemilihan jenis kayu yang akan ditanam, waktu penanaman dan pemanenan. Tapi perempuan di sisi lain memiliki peran penting dalam pemanenan terutama dibidang negosiasi harga dengan para pedagang kayu dan dapat mengendalikan aspek keuangan produksi kayu.

“Peran laki-laki dan perempuan itu sangat berperan penting dalam pengembangan hutan Rakyat,” kata Nurhaedah yang menjelaskan betapa pentingnya melibatkan peran laki-laki dan perempuan yang bekerjasama dalam berbagi pengalaman agar dapat saling menguntungkan satu sama lain dan dapat meningkatkan pendapatan dari usaha tani mereka dengan terlibat dalam CBCF.

Para peneliti berupaya agar supaya para petani hutan tidak dibodoh-bodohi karena tidak mengetahui kayu yang baik itu seperti apa, maka dari itu peneliti melakukan semacam pelatihan yang diadopsi dari metode pelatihan yang telah ditetapkan terlebih dahulu di Australia yang diberi nama MTG (Master treeGrower). MTG ini berupaya untuk meningkatkan pemahaman petani tentang spesifikasi yang dibutuhkan pasar serta rentang harga kayu di pasar didasarkan kepada kualitasnya.

“Para petani sering kali menganggap CBCF itu sebagai simpanan atau tabungan yang disaat lagi butuh-butuhnya uang maka para petani langsung menebang pohon dan menjualnya dengan yang seadanya atau langsung terima saja berapapun harganya,” ungkap Nur Hayati.

Maka dari itu diharapkan penelitian ini dapat membuat petani bisa memprediksi sendiri kayu yang layak jual itu seperti dan sudah tahu pasar itu seperti apa dan bisa membandingkan harga,” tambah Nur Hayati.

Dalam buku yang didiskusikan tersebut itu mengajak para petani untuk berfikir dan menganalisa, terutama tujuan menanam pohon itu untuk apa. Menanam itu harus terencana tidak boleh asal-asalan, kalau mau pohon itu berharga maka rawatlah dengan baik.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa cara untuk membuat atau 'menambah nilai' (adding value) pada pohon-pohon yang telah ditanam oleh para petani hutan tersebut dapat ditekankan pada dua jalur pendekatan.

Pertama, dengan memberikan perhatian (fokus) pada upaya meningkatkan pengetahuan para petani dalam bidang silvikultur, khususnya penekanan pada pentingnya melakukan 'thinning' (penjarangan pohon) dan 'pruning' (proses pemangkasan pada pohon) untuk meningkatkan kualitas pohon-pohon milik petani-petani hutan. Kedua, dengan mengenalkan para petani hutan kepada pembeli-pembeli potensial dalam lingkup daerah sekitarnya (desa, kecamatan atau kabupaten) serta memberikan kepada mereka pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mekanisme atau sistem pasar komersial itu bekerja.

Sementara Bugi Sumirat yang mengantarkan jalannya diskusi buku tersebut menyampaikan bahwa Kabupaten Bulukumba adalah contoh baik di dunia kehutanan di Indonesia. Bulukumba menjadi satu-satunya kabupaten yang mengadopsi model pelatihan untuk petani hutan yaitu MTG yang menjadi program reguler kabupaten.

“Pertemuan seperti ini sangatlah diperlukan sehingga kita bisa berbagi pengalaman dan diharapkan kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan.  Terutama dalam buku kami yang masih butuh banyak masukan karena penelitian periode ketiga masih sedang berjalan sehingga dengan  diskusi ini diharapkan dapat memberi tambahan informasi untuk memperkaya penelitian tersebut,” kata Kepala Balai Litbang LHK Makassar, Ir. Misto MP menutup diskusi tersebut.***IKI