KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 12:00 pm, 09. February 2018 - 54 klik

Pojok Iklim: Inisiasi Forum Peduli Citarum, Dosen Universitas Kristen Maranatha Berharap Sungai Citarum Jadi Pusat Budaya Dunia

P3SEKPI (Jakarta, 08/02/2018)_Sebagaimana diketahui, saat ini Sungai Citarum dalam kondisi memprihatinkan. Airnya tercemar oleh sampah manusia, kotoran hewan, serta limbah pabrik. Kenyataan tersebut membuat Gai Suhardja, Ph.D, seorang dosen desain interior di Universitas Kristen Maranatha menginisiasi Forum Peduli Citarum. Bahkan, Gai berobsesi untuk meluncurkan Sungai Citarum menjadi kawasan Wolrd Cultural Expo di tahun 2030.

“Inisiatif pembangunan infrastruktur demi geopolitik nasional ini berpeluang menjangkau bilateral antar bangsa, dengan ide Kawasan World Cultural Expo,” kata Gai dalam diskusi Pojok Iklim di Jakarta, Rabu (07/02).

Gai menyampaikan, Sungai Citarum merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Sepanjang 276 Km sungai ini mendistribusi air minum untuk Provinsi Jawa Barat, DKI dan 8 Kabupaten. Amat disayangkan, lokasinya yang mengalir menyusuri titik-titik staretgis nasional tidak dibarengi dengan penampilannya yang indah. Sungai Citarum terlihat gelap dan kumuh.

Penampilan buruk sungai Citarum diperparah dengan kandungan airnya yang ternyata dicemari dengan timbal, merkuri, arsen dan limbah kimia lainnya. Limbah tersebut dikirim dari pabrik tekstil di Bandung dan Cimahi. Belum lagi gunungan sampah di hilir sungai. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama penyumbang sampah di sungai.

“Sungai yang seharusnya menjadi pusat peradaban manusia berubah menjadi pusat pembuangan sampah raksasa,” kata Gai.

Kondisi sungai Citarum yang serba mengkhawatirkan membuat Gai beserta Forum Peduli Citarum menginisiasi ide Kawasan Sungai Citarum sebagai Kawasan World Cultural Expo 2030.

“Area kawasan citarum sepanjang 276km akan menjadi destinasi baru untuk masa depan dan sangat signifikan bagi kaum muda milenials dan generasi Z, serta menjadi bonus demografi Indonesia pada tahun 2030. Pada kawasan citarum ini akan difasilitasi dengan Pusat pendidikan, pusat kajian islam, pusat kebudayaan, pusat kedutaan asing, pusat pendidikan, pusat pariwisata dan pusat perdagangan,” papar Gai.

Gai memulai ide ini dengan membuat sebuah model simulasi Kawasan Sungai Citarum dalam kondisi yang world class. “Proses desain simulasi maket kawasan ini dilakukan di Universitas Maranatha. Secara bertahap akan menggambarkan dokumen-dokumen yang terjadi secara realita di lapangan. Penelitian pemetaan DAS Citarum sebagai pilot project dimulai pada daerah sekitar radius Dayeuh Kolot – Bojong Soang,” tambah Gai.

Mimpi besar Gai juga dihadapkan pada tantangan yang besar pula. Persoalan Sungai Citarum, menjadi masalah sistemik yang melibatkan semua pihak, terutama Pemerintah. Adanya keegoisan sektoral membuat perbaikan sungai Citarum selalu tersendat di tengah jalan. Menghadapi hal tersebut, Gai mengusulkan untuk membuat sebuah master plan terpadu yang melibatkan elemen masyarakat untuk membangun masa depan Citarum yang baru. “Mari ciptakan sinergi sektoral, demi daya saing bangsa,” kata Gai.***Fai