KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 02:56 pm, 08. February 2018 - 56 klik

Dalam 8 Tahun, Peneliti Balitek DAS Berhasil 'Sulap' Pantai Berpasir Kebumen Jadi Hutan Pantai yang Sejuk

Balitek DAS (Solo, 07/02/2018)_Dengan teknik silvikultur yang tepat, Tim Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) telah berhasil menyulap lahan pantai berpasir di Kebumen menjadi hutan pantai yang sejuk dan indah dalam waktu 8 tahun. 

Hal ini dikemukakan oleh Agung Wahyu Nugroho, S. Hut., M.Sc., Peneliti Balitek DAS dalam bukunya yang berjudul Silvikultur Rehabilitasi Pantai Berpasir Kebumen

“Rehabilitasi lahan pantai berpasir dengan teknik silvikultur yang tepat telah kami lakukan di Kebumen pada tahun 2007-2015. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi lahan pantai berpasir, awalnya gersang dan panas. Tetapi setelah 8 tahun berubah menjadi hutan pantai yang sejuk dan indah,” kata Agung. 

Sebagaimana diketahui, sebagian besar wilayah Pesisir Selatan Kebumen merupakan kawasan pantai berpasir. Kawasan ini merupakan lahan marginal sehingga belum termanfaatkan secara optimal. Padahal kawasan ini merupakan sumberdaya alam potensial untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar. Untuk itu, perlu dilakukan upaya rehabilitasi. Upaya ini dapat dilakukan dengan prinsip pemapanan vegetasi dengan menerapkan teknik silvikultur yang tepat sehingga bisa memberikan manfaat ekologi maupun manfaat lainnya. 

“Teknik silvikultur merupakan suatu metode untuk memberikan perlakuan terhadap tegakan hutan atau vegetasi dengan tujuan tertentu. Teknik ini mempunyai empat fungsi yaitu control (kontrol), protect (melindungi), facilitate (memudahkan)  dan salvage (menyelamatkan),” kata Agung Wahyu Nugroho, S. Hut., M.Sc., Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS) yang dikutip dalam bukunya yang berjudul Silvikultur Rehabilitasi Pantai Berpasir Kebumen

Dalam rehabilitasi dengan prinsip pemapanan vegetasi, Agung menyatakan bahwa teknik ini dapat dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu: Pemilihan jenis tanaman yang tepat. Untuk daerah lahan pantai berpasir direkomendasikan jenis cemara udang. 

Pertimbangan lainnya yaitu: Pengunduhan buah, sebaiknya dilakukan pada saat pohon induk cukup umur dan sehat; Pembibitan; Penyiapan lahan; dan pemberian amelioran (pupuk, kompos, mulsa, abu dan lain-lain), Penananaman, diusahakan pada awal musim hujan atau bulan basah; serta pemeliharaan, yang meliputi kegiatan penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pengamanan. 

Agung berharap dengan adanya hutan pantai ini akan memberi beragam manfaat baik bagi lingkungan maupun masyarakat, seperti perbaikan kesuburan tanah, perbaikan iklim mikro, perlindungan dari bahaya abrasi, sebagai mitigasi tsunami, menambah estetika panorama pantai, peningkatan jumlah wisatawan, dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitarnya. 

“Kedepannya, ketika bahan organik dan indeks kualitas tanah sudah meningkat akibat akumulasi bahan organik dari serasah cemara udang, komposisi vegetasi dapat diperkaya menggunakan jenis-jenis lokal yang bernilai ekonomi bagi masyarakat sekitar yang disesuaikan dengan karakteristik tapak setempat,” kata Agung.*

 

Download BUKU