KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Risda Wati Hutagalung - 01:48 pm, 22. January 2018 - 145 klik

Dengan Hasil Penelitian, BLI Dukung Penguatan Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

BLI (Jakarta, 18/01/2018)_Masih dalam rangkaian Festival Iklim 2018, Badan Litbang dan Inovasi  (BLI) menyelenggarakan Seminar Hasil Penelitian bertajuk “Mendukung Penguatan Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim” di Ruang Rimbawan, Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (17/01). 

Dalam sambutan pembukaan, Kepala BLI, Dr. Agus Justianto, mengatakan bahwa BLI melalui Pusat Litbang Hutan (P3H) telah mencoba memformulasikan berbagai riset yang sudah dilaksanakan sebagai input untuk menguatkan ketepatan, kecepatan, keakuratan, keterbukaan data dan informasi yang menjadi justifikasi untuk implementasi aksi dan kebijakan pengendalian perubahan iklim, termasuk komitmen Indonesia  dalam  Indonesia Nationally Determined Contributions (INDC). 

“Sumber daya kehutanan menempati posisi penting dalam upaya mencapai target penurunan emisi  melalui aksi mitigasi perubahan iklim, utamanya dari kegiatan REDD+ yaitu penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, serta peran konservasi biodiversitas hutan, pengelolaan hutan berkelanjutan, dan peningkatan stok karbon hutan,” kata Agus. 

Sebagaimana diketahui, Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement (melalui Undang Undang No. 16 tahun 2016) dan telah menyampaikan dokumen NDC pertama ke Sekretariat UNFCCC dengan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan sampai dengan 41% dengan dukungan internasional, dibandingkan dengan kondisi tanpa adanya aksi (business as usual) pada tahun 2030. Target terbesar dalam penurunan emisi GRK ini diharapkan akan dicapai melalui sumberdaya  kehutanan, sebesar 17,2%; diikuti dengan sektor energi (11%), pertanian (0,32%), industri (0,1%) dan limbah (0,38%). 

Agus juga menjelaskan peran sumber daya hutan dalam  menurunkan 17,2 persen perlu didetailkan dan dijabarkan secara TACCC (Transparan, Akurat, Consisten, Comprehensive dan Complementary) sehingga kredibilitas dan kepemilikan dapat diakui dan diimplementasikan secara luas.  Dalam implementasi NDC dan pencapaian target penurunan emisi, diperlukan komitmen dari berbagai pihak, termasuk lembaga penelitian atau kelompok peneliti dalam memberikan dukungan ilmiah dalam penguatan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk pencapaian target dimaksud. 

“Bagaimana riset berkontribusi terhadap upaya-upaya tersebut, akan dikupas dalam seminar ini,” jelas Agus. 

Seminar ini menghadirkan 4 peneliti P3H BLI sebagai narasumber yaitu Dr. Haruni Krisnawati  memaparkan hasil penelitian tentang Potensi hutan alam primer dan kerentanannya terhadap perubahan iklim; Dr. Hesti L. Tata menyampaikan Ulasan Teknik Paludikultur untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim; Dr. Maman Turjaman menyampaikan materi Mikroba Hutan Tropis dan Peranannya terhadap Perubahan Iklim; dan Rinaldi Immanudin memaparkan tentang  Dampak Perubahan Tutupan Lahan Ekosistem Essensial Mangrove Terhadap Emisi GRK. 

Untuk memperkaya topik diskusi, seminar dimoderatori oleh Adi Susmianto dari Pusat Diklat LHK. Seminar ini juga menghadirkan narasumber dari luar BLI yaitu Dr. Jatna Supriatna dari Universitas Indonesia memaparkan Dampak Perubahan Iklim pada Biodiversitas dan Sigit Nugroho dari Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan menyampaikan topik Pemanfaatan Penginderaan Jauh Multi Spatiotemporal untuk Monitoring Luas Areal Kebakaran Hutan dan Lahan. 

Seminar dihadiri oleh stake holder terkait baik dari kalangan pemerintah, akademisi, praktisi, NGO maupun masyarakat umum. Penyelenggaraa seminar ini diharapkan dapat menjadi sarana sharing informasi mengenai hasil-hasil penelitian terkait perubahan iklim dan memperkuat peran lembaga penelitian  yang memiliki kepedulian terhadap isu perubahan iklim.***TS