Inovasi Manggala Agni: Hasilkan Cuka Kayu dari Limbah Pembukaan Lahan

Posted By lusi 19 November 2017 - 12:00 am

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Minggu, 19 November 2017. Limbah-limbah hasil penyiapan atau pembukaan lahan dapat dimanfaatkan menjadi energi alternatif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Limbah kayu/semak bekas tebasan penyiapan dapat dimanfaatkan menjadi cuka kayu, yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, briket arang dan juga gas sebagai sumber energi pengganti LPG. 

 
Inilah yang dilakukan oleh Manggala Agni Daops Ketapang, Kalimantan Barat. Tentunya ini menjadi terobosan yang harus terus dikembangkan dan diaplikasikan di wilayah rawan karhutla. Pembukaan lahan tanpa bakar menjadi solusi tepat dalam upaya mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan. 
 
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Indonesia dan tahun 2015 adalah menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Pasca 2015 menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk terus melakukan berbagai upaya menuntaskan permasalahan tersebut. Pembukaan lahan masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Oleh karena itu, perlu diciptakan inovasi-inovasi yang mendukung pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
 
“Pembuatan cuka kayu, briket arang, dan juga pengolahan gasifikasi dapat dikembangkan di masyarakat untuk menjadi solusi bermanfaat sekaligus diharapkan dapat menekan potensi kebakaran hutan dan lahan. Hasil-hasil olahan ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat itu sendiri atau dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat,” tambah Raffles. 
 
Pengembangan teknik penyiapan lahan tanpa bakar dan berbagai upaya pencegahan karhutla lainnya terus dilakukan di wilayah Indonesia untuk menekan tingkat kerawanan karhutla. Di Kalimantan Barat Sampai dengan tanggal 18 November 2017 ini, jumlah hotspot di wilayah ini sejumlah 639 titik, menurun drastis jika dibandingkan tahun 2016 periode yang sama yaitu 1.550 titik. Begitu juga luasan kebakarannya. Hasil perhitungan citra satelit sampai dengan September 2017, luas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat 7.440 ha, dan tahun sebelumnya seluas 9.174 ha. 
 
KLHK dengan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahannya – Manggala Agni terus melakukan inovasi-inovasi dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. 
 
Sementara itu, pantauan Posko Dalkarhutla KLHK tanggal 18 November 2017 pukul 20.00 WIB berdasarkan satelit NOAA terpantau satu hotspot di Provinsi Tenggara sedangkan berdasarkan satelit TERRA AQUA (NASA) tidak terpantau adanya hotspot. 
 
Dengan demikian, berdasarkan satelit NOAA untuk periode 1 Januari – 18 November 2017, terdapat 2.550 hotspot di seluruh Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2016, tercatat sebanyak 3.777 hotspot, sehingga terdapat penurunan sebanyak 1.227 hotspot atau sebesar 32,48%. Jika dibandingkan dengan tahun 2015, terjadi penurunan sebanyak 19.159 titik atau 88,25% dimana pada tahun 2015 untuk periode yang sama terdapat 21.709 hotspot. 
 
Penurunan sejumlah 1.429 titik (37,93%) juga ditunjukkan oleh satelit TERRA-AQUA (NASA) confidence level ?80%, yang mencatat 2.328 hotspot di tahun ini, setelah sebelumnya di tahun 2016, tercatat sebanyak 3.767 hotspot. Pada tahun 2015, untuk periode yang sama terdapat 68.874 hotspot sehingga terdapat penurunan sebanyak 66.536 titik atau 96,61%. 
 
Write a comment

Komentar