Konservasi Spesies Baru: Orangutan Tapanuli

Posted By Rizda 10 November 2017 - 12:00 am

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 10/11/2017)_Orangutan Sumatera dan Kalimantan merupakan spesies yang berbeda, yaitu untuk Sumatera (Pongo abelii Lesson) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus Linnaeus). Hal yang menarik saat ini adalah bahwa keberadaan Orangutan Sumatara di Hutan Batang Toru telah ditetapkan menjadi spesies baru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yaitu Orangutan Tapanuli, (Pongo Tapanuliensis). 

Hal ini berdasarkan riset genetik yang menemukan bahwa genetik (hasil uji DNA) orangutan Tapanuli berbeda dengan orangutan Sumatera lainnya, bahkan lebih mendekati susunan DNA dari orangutan Kalimantan. Penetapan spesies baru ini tentunya akan membawa konsekuensi untuk meningkatkan program konservasinya karena hanya tersisa di Hutan Batang Toru, baik di Blok Barat maupun Timur. Apabila Hutan Batang Toru terus mengalami kerusakan bukan tidak mungkin dalam puluhan tahun ke depan akan punah dari alam Indonesia. 

Keberadaan Orangutan Tapanuli atau masyarakat setempat menyebutnya mawas atau “Juhut Bottar” mulai terpublikasi dengan adanya laporan dari Rimbawan Indonesia, K. S. Depari pada tahun 1970-an yang melihat ada Orangutan di pinggiran Sungai Batang Toru. 

Perhatian dan penelitian terkait orangutan Tapanuli memang belum banyak dilakukan karena lebih banyak terfokus di Propinsi Aceh. Program riset orangutan Tapanuli baru dimulai di awal tahun 2000-an. Beberapa lembaga yang melakukan riset dan pengembangan program konservasi orangutan di Hutan Batang Toru adalah Orangutan Foundation International (OFI) pada tahun 2001, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2003, Conservation International Indonesia (CII) serta Sumatera Orangutan Conservation Program (SOCP), mulai sekitar tahun 2005. 

Dari berbagai hasil riset yang dilakukan oleh Peneliti Utama pada BP2LHK Aek Nauli, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc mengenai Orangutan yang berlangsung selama sekitar 8 tahun, diketahui bahwa secara morfologi dan perilaku orangutan Tapanuli sedikit berbeda dengan orangutan Sumatera lainnya. Warna bulu orangutan Tapanuli tampak lebih terang kekuning-kuningan atau seperti rambut berwarna pirang. 

Sebaran habitat pun lebih lebar, orangutan Tapanuli mampu hidup dari ketinggian sekitar 400 sampai dengan 1.500 meter diatas permukaan laut (MDPL), seperti yang banyak ditemukan di Kawasan Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali dan Dolok Sipirok serta Suaka Alam Lubuk Raya. 

Dari persentase jenis tumbuhan pakan, jenis yang dikonsumsi buah dan daun hampir sama, berbeda dengan orangutan di Provinsi Aceh yang cenderung lebih banyak mengkonsumsi buah. Sedikitnya telah teridentifikasi 80 jenis tumbuhan pakan orangutan Tapanuli, seperti gala-gala (Ficus racemosa), medang nangka (Elaeocarpus obtusus), beringin (Ficus benjamina), hoteng (Quercus maingayi), teurep (Artocarpus elasticus), motung (Ficus toxicaria), asam hing (Dracontomelon dao) dan dongdong (Ficus fistulosa). 

Hal ini diduga merupakan hasil proses adaptasi untuk bertahan hidup akibat sebaran pohon penghasil buah pada hutan dataran tinggi cukup sedikit, tidak seperti pada hutan dataran rendah. Begitu juga, proporsi alokasi waktu untuk mencari makan dan bergerak dalam aktivitas hariannya hampir sama sebagai akibat sebaran pohon pakan cukup merata di setiap kawasan, tidak ada suatu habitat yang menyediakan pakan yang melimpah, terutama pohon-pohon penghasil buah. 

Hal menarik lainnya adalah bahwa orangutan Tapanuli lebih banyak membuat sarang pada pohon tingkat tiang, diamater pohon antara 10-20 cm, dengan ketinggian penempatan sarang rata-rata hanya 6-15 meter diatas permukaan tanah, lebih pendek dibandingkan penempatan sarang orangutan di lokasi lainnya. Kondisi ini mengindikasikan sebagai strategi orangutan untuk lebih mudah memantau keberadaan predator, terutama manusia. 

Sejarah dulu, hutan Batang Toru juga merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Tapanuli. Akses masyarakat lokal, seperti untuk mencari ikan, mengambil rotan, getah kemenyan, tumbuhan obat dan hasil hutan lainnya cukup tinggi sampai sekarang. 

Kepadatan orangutan Tapanuli apabila diklasifikasikan berdasarkan ketinggian tempat juga tidak berbeda secara signifikan, bahkan pada beberapa lokasi kepadatan orangutan pada hutan dataran tinggi (di atas 800 MDPL) lebih besar dibanding hutan dataran rendah (400-600 MDPL). 

Hasil riset pada beberapa kawasan konservasi menyebutkan kepadatan orangutan Tapanuli berkisar antara 0,3-1,02 individu/km2. Sebagai contoh, hasil riset di CA. Dolok Sibual-buali sebesar 0,53 ind./km2, CA. Dolok Sipirok sebesar 0,47 individu/km2 dan pada hutan dataran rendah (< 600 MDPL) sekitar Sungai Batang Toru 0,41 individu/km2. Kepadatan tertinggi ditemukan pada hutan primer ketinggian sekitar 900 MDPL yang mencapai 1,02 individu/km2

Apabila kawasan Hutan DAS Batang Toru diperkirakan sekitar 1.000-1.200 km2 (Blok Barat dan Timur) dan diperkirakan 70-80% masih merupakan habitat orangutan Tapanuli maka diprediksi populasinya paling tinggi hanya sekitar 400-500 individu. Beberapa hasil penelitian, seperti Kuswanda (2006), Perbatakusuma et al (2006) dan Simorangkir (2009), memperkirakan populasinya kurang dari 400 ekor. 

Sebagian kawasan hutan Batang Toru telah berubah menjadi kebun karet, coklat, kopi, kayu manis, salak, perladangan masyarakat dan lahan pertanian serta pemukiman. Habitat orangutan telah semakin terfragmentasi dengan semakin meluasnya pembukaan lahan, pada Area Penggunaan Lain (APL), sisa hutan produksi maupun hutan lindung yang statusnya saat ini telah menjadi kawasan KPH.

Diakhir opini, penulis ingin menyampaikan pemikiran sebagai bahan rekomendasi kebijakan dalam mengembangkan program konservasi orangutan Tapanuli diantaranya: pada penyusunan SRAK Orangutan untuk tahun 2017-2027 dapat menjadi bagian terpisah dari kedua jenis orangutan lainnya; peningkatan perlindungan habitat pada hutan Konservasi melalui penataan batas kawasan, pengamanan kawasan dan penegakan hukum; pengamanan dan pemulihan habitat orangutan pada wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH); pengkayaan habitat dan pembangunan koridor; monitoring dan pengembangan penelitian; optimalisasi pemanfaatan lahan masyarakat agar ketergantungan akan sumberdaya hutan berkurang, mitigasi konflik dan penggalangan dana konservasi orangutan. Semoga dengan penetapan menjadi spesies ba ini menimbulkan kebanggaan dan meningkatkan peranserta dalam konservasinya, terutama bagi masyarakat Tapanuli. 

 

Sumber Pustaka:

Diringkas dari buku Orangutan Batangtoru, Kritis Diambang Punah oleh Wanda Kuswanda (2014) - Forda Press Bogor

 

Artikel dan Foto:

Wanda Kuswanda, Peneliti Ahli Utama, Balai Litbang LHK Aek Nauli, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Mahasiswa Program Doktor, Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan, Universitas Sumatera Utara. E-mail :wkuswan@yahoo.com; wkuswan@gmail.com

Write a comment

Komentar