Kapus SEKPI: Tak Cukup Hanya di Jurnal, Hasil Litbang Harus Dikomunikasikan dengan Bahasa Populer, Policy Brief Salah Satunya

Posted By Rizda 13 November 2017 - 04:21 am

BP2LHK Palembang (Palembang, 07/11/2017)_Menurut Kepala Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc, kurang populernya hasil-hasil litbang Kementerian LHK di masyarakat, membuat kinerjanya tidak dikenal masyarakat luas. Padahal, banyak hasil litbang yang siap diterapkan di masyarakat. Oleh karena itu, diseminasi hasil litbang tak cukup hanya di jurnal, melainkan harus dikomunikasikan dengan bahasa populer.

“Kekurangan Litbang ada di strategi komunikasinya. Komunikasi yang kita lakukan sekarang masih belum efektif, hingga hasil penelitian kita hanya bertumpuk di rak-rak perpustakaan dan bukan tersebar aplikatif di masyarakat. Kita harus memikirkan bagaimana hasil-hasil litbang dapat dikomunikasikan dengan baik ke masyarakat,” kata Syaiful pada pembinaan pegawai Balai Litbang LHK (BP2LHK) Palembang, Selasa (07/11).

Lebih lanjut Syaiful mengatakan, strategi komunikasi yang baik yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah penggunaan bahasa ilmiah yang kaku ke penggunaan bahasa populer yang lebih bisa dimengerti masyarakat luas. Karena itu penguasaan penggunaan bahasa populer mutlak diperlukan di Litbang.

Salah satu bentuk strategi komunikasi efektif yang dilakukan P3SEKPI saat ini adalah berupa pembuatan Policy Brief yang diserahkan ke pemerintah. Dengan cara ini, Litbang Kementerian LHK dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan pengelolaan kehutanan di Indonesia. Syaiful berharap, peneliti-peneliti khususnya di bidang sosial, ekonomi dan kebijakan dapat saling bahu membahu, dan bergotong royong untuk mewujudkan kegiatan tersebut.

Di kesempatan ini juga, Kepala P3SEKPI mengajak peneliti untuk giat menelurkan inovasi litbang. Karena itu, setiap peneliti dalam melakukan pekerjaannya hendaknya memiliki “inner obsession”. sehingga dalam melakukan pekerjaannya penuh pengabdian, walaupun, beliau juga mengakui bahwa kondisi peneliti di luar negeri jauh lebih baik ketimbang menjadi peneliti di dalam negeri.

“Di negara-negara maju, fasilitas untuk penelitian dan pengembangan sangat lengkap, karena mereka menempatkan kegiatan litbang sebagai prioritas kegiatannya. Sayangnya di kita terbalik, kebutuhan litbang di Indonesia belum dipandang sebagai sesuatu yang penting. Namun, walaupun bukan menjadi prioritas, tidak serta merta membuat kita lantas kecewa dan tidak melakukan yang terbaik,” kata Syaiful.***FA

Write a comment

Komentar